Home / artikel / Mereka Tidak Bodoh, Tapi …

Mereka Tidak Bodoh, Tapi …

Pak Guru, anak saya tidak pintar matematika”

“Ustadzah, anak saya sulit menerima pembelajaran”

“Kenapa nilai matematikamu rendah? Bodoh sekali”

“Ranking kamu turun lagi. Ibu sangat kecewa, temanmu bisa ranking 1, sementara kamu tidak bisa”


Materi semudah ini kamu tidak bisa kerja? Dasar tidak becus.”

Pernahkah anda mendengarkan ungkapan diatas?

Itulah anomali yang terjadi dalam proses pendidikan.

Sebagian insan, masih menilai sebuah keberhasilan pendidikan diukur dengan angka-angka. Tanpa melihat proses yang telah diperjuangkan sang anak untuk meraih tuntutan yang “mencekik” .

Sebagai pendidik, ketika mendengar seorang anak dicap dengan label bodoh, sungguh hal itu sangat melukai hati.

Bagaimana mungkin seorang anak yang terlahir dalam keadaan fitrah dikatakan bodoh?

Bagaimana mungkin seorang anak yang terlahir dari sperma terbaik dan telah berjuang menjadi sang juara diantara ratusan juta sperma dapat dikatakan bodoh?

Bagaimana mungkin anak dikatakan bodoh, sementara Sang Pencipta telah menganugerahkan kebaikan didalam diri hamba-Nya?

Hai orang-orang yang masih memiliki paradigma bahwa keberhasilan pendidikan diukur dengan angka-angka yang tertera di rapor.

Mereka tidak bodoh,
Tapi kita sebagai orangtua dan guru sering terjebak mengukur kecerdasan anak hanya pada ranah pengetahuan saja.


Jika seorang anak kurang maksimal disuatu mata pelajaran, bukan berarti mereka bodoh dan lemah. Itu hal yang biasa. Dalam dunia pendidikan dikenal istilah Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk). Kemampuan setiap anak berbeda-beda dalam setiap bidang. Oleh sebab itu selaku pendidik yang bijak, harus cermat melihat potensi kecerdasan anak serta gaya belajar mereka. Karena setiap anak memiliki gaya belajar tersendiri.

Kecerdasan tidak hanya diukur dari tes tertulis. Why?

Karena kecerdasan bukan hanya dalam ranah pengetahuan (kognitif) saja.

Kecerdasan itu luas, diantaranya kecerdasan spiritual, kecerdasan sikap, dan kecerdasan keterampilan dalam berkarya.

Bahkan kecerdasan manusia bersifat dinamis dan selalu berkembang.

Yuk hijrah dari paradigma yang mematikan potensi anak.

Mulai detik ini, berhentilah…!

Berhentilah mengajarkan anak untuk bersikap individualisme
Tapi ajarkan anak untuk berkolaborasi tim dengan baik.

Berhentilah mengajarkan anak untuk mengejar nilai
Tapi ajarkan anak untuk produktif dalam berkarya dan berinovasi.

Berhentilah membandingkan anak dengan oranglain…
Tapi ajarkan anak bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi dirinya.

Yakinlah, tidak ada anak yang bodoh.
Setiap anak pasti memiliki bakat didalam dirinya.
Jadilah seorang pendukung,
Jangan menjadi penuntut terhadap anak. Jadikan kebahagiaan sebagai acuan dalam mendidik anak.


Yakin dan percayalah…
Setiap anak terlahir dalam keadaan beriman…
Setiap anak terlahir sebagai pembelajar…

Kawan,

Faktanya dilapangan banyak anak yang pintar pada ranah pengetahuan, tetapi mereka tidak kreatif, kurang berkontribusi dan tidak produktif.

Percayalah…
Kualitas pendidikan disuatu tempat tidak akan berkembang jika kita memandang prestasi dan keberhasilan dengan cara yang keliru.

? GZ_Guru Tematik

About GZ

Check Also

lightning and tornado hitting village

Saat Kemarau, Hujan, dan Badai

Dari Anas bin Malik, beliau menceritakan: Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at melalui …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *