Home / artikel / Aku dan Jepang

Aku dan Jepang

Di pagi itu, ku persiapkan perlengkapan mengajar dan bergegas berangkat ke sekolah. Setiba di sekolah, diriku menghampiri finger print kemudian ku letakkan jari jempolku. Dan seperti biasa, mesin tersebut menyambut diriku dengan ucapan terima kasih. Dan diriku membalas sambutannya dengan mengucapkan terima gaji, hehe. Maklum, karena hari itu adalah waktu para guru menerima upah kerja mereka.

Lantai demi lantai ku naiki hingga diriku sampai dilantai dua gedung sekolah. Dari kejauhan, ku melihat rekan guru dan orangtua yang tak ku kenal berkumpul didepan pintu kelasku. Perasaanku mulai tidak nyaman, karena aturan disekolah, orangtua tidak diperkenankan masuk ke kelas. Akhirnya ku percepat langkahku menuju pintu kelas. Dan betul saja, kejadian yang kulihat dari kejauhan membuatku terdiam sejenak. Pengalaman berharga aku dapatkan di tahun 2017 sebagai seorang pendidik.

Pengalaman tersebut adalah kepala sekolah menerima murid “sementara” dari Jepang dan saya diamanahkan untuk mendampingi siswa tersebut. Namanya Raihan.

Waktu telah menunjukkan pukul 07.30 WITA yang artinya kegiatan pembelajaran dimulai. Sebelum memulai pembelajaran, Raihan memperkenalkan diri dan saya menterjemahkan kalimat yang diucapkan agar siswa yang dari Indonesia paham.

Waktu demi waktu kulalui bersama mereka, hingga tiba saatnya break time. Ku ajak Raihan untuk mengenal lingkungan sekolah agar cepat beradaptasi bersama teman-temannya.

Tentu tidak ingin berlalu begitu saja. Saya aktif berkomunikasi sama Raihan. Berbagai informasi baru dan menarik saya dapatkan.

Singkat cerita, tak terasa bel masuk kelas berbunyi. Segera ku ajak siswa baru untuk masuk kelas. Setiba di kelas, siswa Jepang tersebut meminta izin untuk ke toilet, dan saat itu juga ku izinkan. Pelajaran dimulai, siswa begitu bersemangat, ditambah dengan kehadiran teman baru mereka.

Hmm, 15 menit telah berlalu. Tapi Raihan belum kembali ke kelas. Rasa khawatir pun datang. Akhirnya saya meminta izin ke siswa untuk mencari Raihan.

Ternyata Raihan masih antre didepan pintu toilet. Ku hampiri Raihan yang kondisinya ingin buang air besar dan mengatakan kepadanya, “Silakan masuk ke toilet sebelah (untuk siswi) karena lagi kosong.”

Saat itu Raihan berkata kepadaku menggunakan bahasa Jepang yang artinya “Pak Guru, meskipun tidak digunakan, toilet itu untuk wanita kan? Saya menunggu saja sampai orang didalam keluar.”

Mendengarkan jawaban siswa tersebut, diri ini merasa malu dan kagum dengan dirinya yang memiliki kedisiplinan begitu besar. Pelajaran berharga telah kudapatkan dari seorang siswa yang berasal dari Jepang, dan itu terjadi di hari pertama kali ia berada di sekolah. Masyaa Allah.

Diri ini tersadar bukan hanya siswa yang mengambil pelajaran dari gurunya. Akan tetapi, seorang guru pun perlu mengambil pelajaran berharga dari siswa-siswinya.

Wahai saudaraku..

Baarokallahu fiikum

Idealnya, guru tidak pernah puas dengan pencapaian kualitas dirinya.

Jadilah guru pembelajar..

Upgrade soft skill mengajar..

Up to date terhadap perkembangan ilmu pedagogi..

Jangan bosan mengikuti pelatihan guru..

Karena jika sebuah sekolah sering mengadakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru, maka sekolah tersebut makin berkualitas. Dan itulah salah satu ciri sekolah unggul.

Miriam Kronish yang merupakan Kepala Sekolah SD John Eliot di Amerika (sekolah terbaik di Amerika) mengatakan:

“Masa depan pendidikan di Amerika ditentukan oleh sebuah kekuatan. Jika saja kami punya kekuatan, kekuatan tersebut adalah program utama di sekolah kami, yaitu pelatihan guru.”

So, mari menjadi guru yang berlabel “You Are My Inspiration”

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi buat kita semua.

? GZ_Guru Tematik 4.1

About GZ

Check Also

lightning and tornado hitting village

Saat Kemarau, Hujan, dan Badai

Dari Anas bin Malik, beliau menceritakan: Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at melalui …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *