Home / Covid-19 / SPECIAL MOMENT WITH MY FAMILY

SPECIAL MOMENT WITH MY FAMILY

Menuk Widyastuti (Ummi Arfan 1A2)

       Senin, 17 Maret 2020, kami mendapat surat penyampaian bahwa mulai hari ini semua aktivitas sekolah dilaksanakan di rumah. Masyaallah, qadarullah ternyata perkembangan virus corona di Makassar bertambah masif. Sejak bulan Januari ketika kami melihat berita di sosmed dan televisi, kami selalu beristighfar dalam hati dan berdoa bahwa virus mematikan tersebut tidak sampai ke Indonesia dan Makassar khususnya. Ternyata Allah berkehendak lain. Akhirnya hari ini kami merasakan bagaimana kondisi belajar di rumah. Aktivitas kami sebagai seorang guru akhirnya membuat kami merubah strategi kami mengajar via online sejak hari Senin sampai Jumat.

     Tidak mudah berbagi waktu mengajar online,menyelesaikan aktivitas rumah tangga sekaligus mendampingi 4 orang anak kami belajar di rumah dan semuanya dilakukan bersamaan waktu. Terus terang di awal aktivitas tersebut banyak hal yang harus kami lakukan karena perubahan ritme dengan aktivitas harian kami selama ini.

     Sejak Ahad, malam Senin. Kami sudah berdiskusi dengan seluruh anggota keluarga dalam hal ini termasuk keempat anak kami, Faiz, Afrah, Arfan dan Fadlan. Kami menceritakan tentang perkembangan kondisi kesehatan di Makassar terkait dengan virus Covid 19 yang menyebabkan wabah Corona. Kami bercerita dengan narasi juga dengan memperlihatkan video tentang Corona yang banyak beredar di media sosial. Bagaimana pentingnya menjaga kebersihan dengan segala aktivitas dalam usaha menangkal virus covid 19 ini. Dan sampai akhirnya penjelasan bahwa mulai besok hari Senin anak-anak belajar di rumah, begitu juga ummi dan aba yang akan mengajar dari rumah via hp. Pada awalnya mereka semua bersorak kegirangan karena serasa libur panjang, tetap kemudian mereka bersedih, ketika kusampaikan bahwa untuk sementara kita libur sekolah 2 pekan tetapi tetap belajar di rumah karena tugas-tugas sekolah akan dikirim oleh ustadz dan ustadzah melalui HP.

     Malam hari, kami sudah membuat jadwal kegiatan esok hari. Aktivitas setelah sholat subuh, anak-anak berbagi tugas membantu pekerjaan rumah. Mereka bergantian mencuci piring, menjemur pakaian, membersihkan rumah dan menyiram tanaman. Setelah mandi dan sarapan pagi sudah menunggu aktivitas harian dari sekolah, mulai dari sholat dhuha sampai tugas-tugas sekolah masing-masing anak.

     Dan kesibukan pagi dimulai. Diawali mengingatkan anak-anak menyiapkan ruang tamu sebagai ruag belajar bersama. Bergantian melihat hp untuk WA yang masuk dari masing-masing grup kelas 4 orang anak. Dan tidak lupa saya masuk di kelasku sendiri untuk mengajar. Aktivitas tersebut diselingi dengan istirhat untuk anak-anak bermain sejenak dan berjemur di teras depan rumah. Saat dhuhur anak-anak istirahat belajar untuk sholat dhuhur, makan siang dan tidur. Saat sore setelah sholat ashar mereka melanjutkan  hafalannya dan setorannya untuk direkam dan dikirim ke guru masing-masing. Terkadang bila tugasnya tidak selesai mereka akan melanjutkan di malam hari, karena biasanya wali kelas memberi batasan tugas diterima jam 21.00 WITA.

     Sepekan berlalu, memasuki pekan kedua belajar di rumah mereka mulai bertanya, kapan sekolah kembali. Walaupun mereka lebih senang belajar di rumah dengan waktu yang lebih fleksibel,lebih santai lebih banyak waktu main, dan tidak diburu-buru untuk kumpulkan tugas, mereka merasa nyaman dengan hal itu. Tetapi lama kelamaan mereka merasa jenuh karena aktivitas di luar rumah juga dibatasi. Larangan keluar pagar rumah,kerinduan mereka bertemu dan bermain dengan gurunya dan teman-teman sekolahnya membuat mereka galau tinggal di rumah selama 3 pekan. Media Zoom akhirnya menjadi pengobat rindu mereka bertemu dengan guru dan teman-teman kelasnya. Walaupun terbatas waktunya hal itu sudah menjadi pelepas rindu anak-anak selama di rumah.

      Bagi kami orangtua banyak hal yang dapat kami ambil hikmahnya. Salah satunya sebagai ladang pahala. Jujur sebagai orangtua yang bekerja semua, sangat sedikit waktu kami mendampingi anak-anak belajar di rumah. Waktu belajar anak-anak lebih banyak mereka habiskan di sekolah. Sehingga lebih sering kami mendapatkan progres laporan perkembangan belajar anak  saat penerimaan rapor. Yang membuat kami terharu ternyata waktu belajar anak-anak di sekolah bersama para guru mereka,masyaallah, betul-betul sangat bermanfaat,karena banyak hal yang membuat kami orangtua baru menyadarinya saat ini. Perkembangan mereka saat murojaah haflan di rumah ternyata sangat banyak mereka telah pelajari di sekolah tanpa bimbingan kami sebagai orangtua. Sehingga terus terang kami sangat iri kepada para guru di sekolah yang telah memberikan pendidikan dan dipahami serta diterapkan olaeh anak-anak kami.

     Dan saat inilah kami dapat  berbagi pahala dengan para guru di sekolah. Anak-anak belajar di rumah, kami sebagai guru di rumah bukanlah sebuah beban. Bagaimanapun nanti di akhirat kamilah orangtua yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah tentang pendidikan anak-anak kami di dunia. Sehingga moment kebersamaan inilah special moment yang sangat berarti bagi kami membangun kebersamaan dengan anak-anak di rumah. Waktu membersamai anak-anak yang tidak akan dapat kami putar ulang kembali. Waktu yabg sangat berharga dimana kami dapat menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada mereka tanpa diburu waktu terlambar masuk kantor. Waktu yang sangat bermanfaat bagi kami melihat karakter dan tumbuh kembang mereka sejak pagi sampai malam hari tanpa meninggalkan mereka keluar rumah.

     Banyak hal yang dapat kami pelajari bersama anak-anak di rumah. Aktivitas belajar bukan hanya menghafal rumus-rumus di buku cetak, atau menghafal materi-materi di buku saja. Sesungguhnya ketika anak-anak beraktivitas membantu pekerjaan orangtua adalah salah satu sarana mereka belajar tentang stimulasi motorik halusnya. Mereka belajar materi kemandirian, mereka belajar bertanggungjawab dengan apa yang mereka lakukan.Mereka belajar tentang memasak sederhana sebagai salah satu bentuk ketrampilan hidup . Dan masalah-masalah sikap tersebut yang berperan penting ketika mereka dewasa dan terjun di tengah-tengah masyarakat tanpa orangtua mendampingi mereka mengambil keputusan. Termasuk membangun empati dengan orang-orang sekitar mereka. Saat mereka belajar berbagi dengan sesama, mereka bisa belajar langsung materi gotongroyong, membantu sesama yang selama ini hanya mereka baca di buku pelajaran. Termasuk kondisi hari ini ketika wabah Corona terasa lama hal ini dapat kita jelaskan kepada mereka bahwa ini juga bentuk ujian Allah kepada manusia. Bahwa Allah yang memberi penyakit ini dan kita hanya berdoa agar Allah mengangkat penyakit ini dari muka bumi dengan berbagai ikhtiar yang dapat kita lakukan. Berempati kepada para tenaga medis, dokter dan perawat yang saat ini berjuang dengan mempertaruhkan nyawa karena kemanusiaan . Dan kami dapat membantu mereka dengan tetap beraktivitas di rumah sampai kondisi kesehatan aman di Makassar. Banyak hal yang diprotes anak-anak, mereka tidak senang dengan kondisi saat ini sehingga mereka sering bertanya, “Kapan Corona pergi, Ummi?”. Dan hal itu dapat membuat kita memahamkan kepada anak-anak tentang pelajaran tauhid, pelajaran kesehatan,pelajaran sosial  dengan menjawab satu pertanyaan anak-anak kita tentang Corona.

       Jadi, semoga para orangtua tetap semangat mendampingi anak-anak kita belajar di rumah. Belajar bukan hanya memahami materi di dalam buku cetak saja.  Tetapi ketika hari ini anak-anak belajar di rumah, mereka dapat mempelajari banyak hal dan banyak materi  pembelajaran dan tugas kita sebagai orangtua yang menyampaikan semua nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak kita. Anak-anak dapat belajar dengan praktek langsung, bukan hanya teoritis. Para guru di sekolah, mereka adalah penyambung tugas kita sebagai pendidik pertama, bukankah ada ungkapan Ummi Madrasatul ula, ibu adalah Sekolah Pertama? Bagi anak-anak kita. Dan sangat penting bagi kita orangtua, suami istri membangun komunikasi yang harmonis dengan pasangan, karena anak-anak membutuhkan tim yang solid, tim yang kompak agar kita dapat bersama-sama melalui ujian ini. Komunikasi dengan pasangan kita, komunikasi dengan para guru di sekolah insyaallah semua itu akan membuat semua masalah yang ada mempunyai solusi atau jalan keluar. Manusia tidak pernah berhenti belajar, dan hari ini kita juga bisa belajar dari anak-anak kita di rumah, kita belajar bersabar menghadapi segala rengekan dan keluh kesah mereka. Karena waktu ini akan berlalu seiring mereka dewasa dan memiliki kehidupan sendiri tanpa kita mendampingi mereka kelak. Ikhlaskan niat kita hari ini dan hari-hari kedepan semua karena Allah dan semoga Allah yang akan membalas kesabaran kita dalam mengasuh dan mendidik anak kita dengan balasan Surga kelak.

                                         Makassar, 5 April 2020

About admin

Check Also

Pembelajaran Digital, Why Not?

Hakikatnya pembelajaran digital bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan. Sistem pembelajaran ini sudah di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *