Home / artikel / Satu Cerita di Musim Penerimaan Murid Baru

Satu Cerita di Musim Penerimaan Murid Baru

Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WITA. Ketika masuk halaman sekolah, setelah membeli cemilan di luar sekolah, sebuah mobil menghampiri saya. Kemudian, para penumpangnya keluar dari mobil dan bertanya seputar pendaftaran sekolah ke saya. Padahal, batas waktu pendaftaran sudah lewat, yaitu hanya dari pukul 08.00 sampai 14.00 WITA. Karena saya bukan panitia dan masih ada ustadzah Sasma selaku panitia Penerimaan Murid Baru (PMB), segera saja saya
mengarahkan dua ibu, dua bapak dan seorang anak perempuan itu ke ruang guru.
“Di sini diajar mengaji di sama shalatnya?” tanya salah serang ibu tersebut.
“Iye Bu, diajar mengaji dengan shalat,” ucapku singkat sedangkan ustadzah Sasma mulai membuka arsip pendaftaran.
Dengan sedikit merendahkan diri, salah seorang ibu tersebut berceloteh, “Saya Nak, kami ini preman, karena nda berjilbah. Hehehe.”

Satu hal yang membuat saya terkesima adalah: meskipun para wanitanya tak berkerudung, mereka ingin anaknya dididik dengan pendidikan yang Islami yang merupakan “aturan main” di sekolah saya ini. Mereka patut diacungi jempol.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita semua. Bahwa sangatalah wajar jika sekolah dasar Islam terpadu memadukan ilmu agama dan ilmu umum, dengan tetap menerapkan aplikasinya. Misalnya, anak mempraktikkan langsung bagaimana berwudhu, shalat, menjadi muadzinnya waktu shalat tiha, dan sebagainya. Jadi, bukan hanya mentransfer teorinya semata. Namun, orangtua dan guru perlu bekerja sama untuk mengantrol perkembangan buah hati.

Karenanya, mari mengarahkan otak kanan kita dan anak untuk memahami bahwa penerapan nilai-nilai Islami bukanlah sebuah beban. Justru menjadi kenikmatan, karena proses tarbiyah (didikan) yang membelajarkan sang buah hati.

 

Sepenuh Ukhuwah

Setiap Asa yang terpatri
Terpendar cita luhur menanti
Mengnggu semuanya terwujud
Dalam desap waktu yang terus bergulir
Hingga ikhtiar menampakkan hasilnya
Namun, seorang hamba beriman
Selalu menautkan hatinya
pada Allah Ar- Rahman
Ia berprotes
Ia berjuang

Bila terwujud cita
Dan asa yang didamba
Ia tak lupa bersyukur
Bila cita tak sampai,
Ia bersabar
Mencoba menemukan dan mengenali hikmah
Bukankah hikmah barang berharga seorang mukmim?

Kini sekolah kita dipertemukan
Meski hanya sebuah kompetisi
Tapi semoga terajut ukhuwah
Sebab ia adalah nikmat
Maka rasakan kenikmatan itu
Semoga dilain waktu
Kita bertemu
Dalam keadan iman yang kian membaik
Dalam kenikmatan ukhuwah
Ukhuwah karena Allah saja

Dengan ketulusan hati
Kami menyusun kata
Menggoreskan makna
Semoga menjadi kenangan indah

Kepada Kepala Sekolah. guru, anak didik, dan orantua TK,
serta SD se-Kecamatan Manggala
Salam Ukhuwah

Published by. Panitia Pelaksana TKIT/SDIT Wahdah Islamiyah 01
Acara lomba Antar TK, SD, Guru, dan Orangtua se Kecamatan Manggala
“Membentuk Generasi Rabbani, Cerdas, Kreatif, dan Spotif”
Antang, Makassar
Jum’at-Sabtu, 15-16 Robiul Awal 1433H (9-10 MAret 2012)

 

Diambil dari buku karya Ustadzah Maryam Imilda, dalam buku Diary Seorang Guru .

Buku ini berisi tentang ungkapan hati seorang gutu dalam menggeluti dunia pendidikan. Menjadi guru adalah sebuah kebanggaan. Namun, bukan jenis kebanggaan yang dipandang sebagai bentuk kenikmatan dan perlu selalu disyukuri. Dengan mensyukuri nikmat keguruan ini, akan mengarahkan diri untuk selalu mempersembahkan yang terbaik di hadapan Allah SWT. Selain itu, kenikmatan para pendidik akan berlipat jika saling menjaga ukhuwah. Namun, bukan ukhuwah yang hambar dna tak hangat, melainkan ukhuwah yang didasari atas rasa cinta, saling mencintai karena Allah SWT. Semoga setiap pengalaman menjadi amal jariyah, juga menjadi kaffarah (penghapus dosa) dalam mengemban amanah mulia ini.

About admin

Check Also

Guru Menerima Hadiah dari Murid?

Rasa terima kasih terkadang diinterpretasikan dengan memberikan sebuah hadiah dari wali murid kepada seorang guru. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *