Home / karya guru / Rahilahnya SD Wahdah
people riding camels
Photo by Henrik Le-Botos on Pexels.com

Rahilahnya SD Wahdah

Saudaraku yang aku cintai karena Allah.

Pernahkah dirimu mendengar kisah tentang Rahilah?

Dia adalah makhluk yang memiliki perawakan bagus dan kuat. Mampu membawa beban berat dan siap menempuh perjalanan yang panjang. 

Tak hanya itu. Bentuknya yang indah dan memesona, membuat mata berbinar-binar memandangnya. Bahkan, makhluk ciptaan Allah ini termasuk langka.

Oh Rahilah. Begitu spesialnya dirimu. Hingga namamu terdapat dalam lisan manusia termulia di muka bumi ini.

Di dalam hadis. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membandingkan seseorang dengan seratus unta. Namun, sulit ditemukan untuk yang sejenis dengan si Rahilah.

إِنَّمَا النَّاسُ كَالْإِبِلِ الْمِائَةِ لَا تَكَادُ تَجِدُفِيهَا رَاحِلَةً

“Sesungguhnya manusia itu bagaikan seratus ekor unta. Hampir-hampir tak kau temukan diantara mereka yang benar-benar Rahilah (unta pembawa beban berat).“ (Hadis Riwayat Bukhari No. 6017)

Tidakkah diri ini ingin memiliki sifat baik dari si Rahilah?

Saudaraku..

Selagi tubuh masih kuat. Yuk bersemangat.

Selagi rambut belum memutih. Yuk berkarya.

Selagi jantung masih berdetak. Yuk belajar.

Usia bukanlah penghalang meraih banyak kebaikan. Tak ada kata pensiun dalam belajar dan berkarya.

Tua dan muda. Jangan menyerah. Yuk bersemangat.

Tidakkah kita mengambil sebuah pelajaran dari sejarah yang ditulis dengan tinta emas?

Diantara para sahabat radhiyallahu anhu, sudah sangat tua. Akan tetapi mereka memiliki impian yang tinggi.

Sahabat itu kini jasadnya terkubur di tepi benteng Konstantinopel. Jauh dari rumahnya di Madinah. Semangat mereka melebihi si Rahilah.

Kini, 1400 tahun telah berlalu. Generasi itu tak kunjung tertandingi dengan generasi yang katanya dapat mengguncang dunia dengan teknologi.

Tak perlu berlama-lama untuk melintasi benua dan samudra.

Semua bisa. Tapi, apakah sudah seperti Rahilah yang dimaksudkan Nabi?

Barometernya ada dua:

  1. Mampu berjalan jauh

Perjalanan jauh seorang mukmin tidak sekadar hal duniawi semata. Namun, melambung jauh ke negeri akhirat. Visinya tajam menatap ke depan.

  1. Mampu menanggung beban

Mampu menanggung beban, tak sekadar kuat fisik otot dan kuat tulang bak baja. Namun, kuat segalanya. Ilmu pengetahuan kuat, sosial, dan ekonomi juga harus kuat.

Menanggung beban perjalanan jauh, berarti tidak menurunkan beban di perjalanan. Jika masih sering mengeluhkan nasib, masih sering tidak terima keadaan maka segeralah renungi kembali ucapan indah “Hampir-hampir tak kau temukan diantara mereka yang bena-benar rahilah”.

Jadilah manusia manusia unik. Manusia yang memiliki kekuatan, kapasitas, kapabilitas, dan performa yang unggul dibanding manusia pada umumnya.

Selalu terdepan dalam pengabdian, perjuangan dan pengorbanan di jalan Allah.

Belajar dari rumah, menuntut guru bekerja dari rumah dengan keadaan pandemi yang tak kunjung mereda.

Pembelajaran otomatis berubah tidak seperti biasanya. Yang biasanya tatap muka, diganti dengan tatap layar.

Yang biasanya unjuk diri, kini unjuk karya. Yang biasanya mengajar berbatas ruang kelas, kini tak berbatas.

Wahai “Guru-Guru Rahilah”.

Berjalanlah bersama siswanya melintasi zaman.

Meski beban terus bertambah. Namun, punggung tetap ditegakkan.

Jangan bermimpi melihat siswa yang memiliki semangat Rahilah. Jika di pikiran dan hati kita hanya terbetik urusan rihlah (baca: jalan-jalan semata).

Saudaraku. Mari renungkan!

Tidakkah engkau mengamati. Hari demi hari, mutiara-mutiara yang indah menghampiri kita?

Membuat video pembelajaran tidak menjadi beban lagi. Justru menjadi ajang akselerasi diri.

Laporan-laporan dikerjakan dengan gembira. Bahkan supervisi ditaklukkan untuk memotivasi menjadi lebih baik.

Mengapa demikian?

Karena SDIT Wahdah Islamiyah 01 mengajakmu menatap jauh sebuah kesuksesan yang besar. Di mana selama ini, mungkin saja kesuksesan tersebut tertutup oleh tabir yang begitu gelap.

Saudaraku.

Kita semua harus kuat karena cita-cita yang ingin diraih, bukanlah sebuah cita-cita fatamorgana.

Kita semua menginkan siswa yang memiliki akidah yang lurus dan benar. Karena inilah syarat mutlak untuk hidup di kehidupan kekal.

Kita semua menginginkan siswa yang berprestasi. Dengan harapan mengembalikan kejayaan Islam.

Kita semua menginginkan siswa yang berwawasan lingkungan hidup agar menjadi pelopor keseimbangan kehidupan di alam. Khususnya di muka bumi.

Bukankah kerusakan di muka bumi disebabkan oleh tangan-tangan manusia?

📝 Awi Taufik | Editor: Guru Zubair

About admin

Check Also

Yaa Rabb Ku Mohon Bimbingan-Mu

Yaa Rabb… kuyakin begitu banyak potensi yang Engkau karuniakan pada hamba-Mu. Walau ku akui begitu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *