Home / Covid-19 / PERJUANGAN TANPA BATAS, WAHAI ENGKAU YANG BERGELAR GURU

PERJUANGAN TANPA BATAS, WAHAI ENGKAU YANG BERGELAR GURU

Hari ini, hari kedua aku berada di kampung halaman. Tepat 14 hari semenjak libur sekolah dan yayasan memperpanjang hari libur selama sebulan ke depan. Kami akhirnya memilih untuk pulang kampung di tengah merebaknya wabah COVID-19.

Pagi ini, kerinduan akan kampung halaman seakan terbayar. Menikmati pagi di teras rumah mertua sambil memandang ke arah jalan dan melihat delman yang sibuk bolak balik di jalanan depan rumah. Hmmm… semoga kondisi ini cepat pulih, pikiranku entah kenapa kembali mengingat awal-awal pembelajaran dipindahkan ke rumah.

“Ummi…” (panggilan untuk istriku tercinta)
“Iye… “
“Laparka, belum makan”. Sambil menengok jam dinding yang bersandar kaku di lemari.

“Ummi…”
” Iye… Tunggu sebentar lagi “
Ummi masih memegang smartphone-nya, sibuk mendengar suara anak-anak muridnya yang silih berganti menyetor hafalan qurannya. Sementara aku, menggendong baby kecilku, Usamah yang berusia 5 bulan sambil memperhatikan kakaknya, Uwais yang sedari tadi berlari kecil menikmati mainannya.

“Sudahmi, tapi tinggal delapan orang lagi”.
“Jadi, mauki lanjut?” ku tanya dengan cemas.
“Tidak, sebentarpi lagi, masakka dulu. Lapar mi kodong anakku.”
Saya juga.
“Iye, ku masakkan yang spesial untuk suamiku. Hehehe”. Ummi menggombal, takut dimarahi karena lambat masak…

Jam menunjukkan pukul 10,
Kami yang biasanya sarapan pukul 7 pagi, hingga kini belum sarapan, hanya menikmati segelas air putih dan sebuah pisang untuk Uwaisku.
Ya… Sekolah diliburkan, namun pembelajaran tetap berjalan, hanya dipindahkan ke rumah. Begitulah keputusan ketua yayasan kami menghadapi wabah COVID-19 yang sekarang sudah sampai ke Indonesia.

Sudah beberapa hari kami mengajar dengan sistem online, menggunakan aplikasi Whatsapp, simpel dan fleksibel. Sesekali kami menggunakan aplikasi Zoom di akhir pekan hanya untuk melepas rindu, melihat mereka yang senantiasa memanggilku ustadz dengan senyuman khasnya.
Ya… ternyata aku rindu pada murid-muridku.

Aku mengajar di salah satu sekolah dasar islam terpadu di Makassar, dan diamanahkan sebagai wali kelas 5 putra. Sedangkan istriku menjadi guru hafalan quran sekaligus mengaji di sekolah yang berbeda tapi satu yayasan.

Kala itu aku berpikir, mungkin liburan sekolah ini bisa membayar beberapa hari yang terlewat karena kesibukan. Menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga kecilku, mendampingi istri saat memasak, bermain bersama kedua buah hatiku, banyak hal yang mulai terpikirkan dan menjadi target liburanku. Namun kenyataan tak seindah mimpi, hehe..
Pembelajaran online, menyita banyak waktu dan pikiranku apatah lagi istriku. Statusnya sebagai pengajar al Quran menyita lebih banyak waktu ketimbang saya yang sebagai wali kelas. Mendampingi kurang lebih 16 murid menghafal dan mengaji perhari ternyata jauh lebih sulit ketimbang menghadapi 1 kelas murid untuk pembelajaran umum. Setiap subuh kuperhatikan istriku menyiapkan pembelajarannya, mengelola dua grup hafalannya, mengirimkan penggalan-penggalan contoh ayat yg harus dihafalkan, mengirimkan contoh bacaan al Quran kepada masing-masing muridnya.
Ya… harus mengirimkan via japri ke masing-masing murid karena setiap murid bacaan dan hafalannya berbeda. Istriku teramat bersemangat memperindah chat-chat Whatsapp yang akan dishare, katanya supaya murid-murid bersemangat membaca tugasnya, apa lagi yang dihadapi adalah kelas rendah yang sangat butuh pendampingan dalam menghafal al Quran dan membacanya. Belum lagi tugasnya dalam bentuk setoran satu persatu murid silih berganti menghubungi istriku.
Sempat saya bertanya, “Ummi, kenapa nda via rekaman saja murid ta’ menyetor? Lebih gampang, nanti di cek sekaligus”
Jawabnya sederhana,
“Nggak bisa abi, ini hafalan Qur’an harus langsung diperbaiki karena banyak bacaan murid yang biasanya keliru, kalau dibiarkan akan terbiasa dengan kesalahannya”

Aku terdiam.
Untuk kesekian kali ku tatap istriku dengan tatapan penuh kasih, haru dan bangga… Meskipun sarapan saat itu telat…

Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa pembelajaran di rumah membuat guru santai, cukup memberikan tugas ke murid lalu murid mengerjakan dan mengirimkan hasil kerjanya ke guru.
Kenyataannya tidak sesederhana itu. Istriku menggunakan sebagian waktunya menunggu setoran murid hingga larut malam. Ya, sampai larut malam.
Kebanyakan murid menyetor saat orangtuanya pulang kerja. Sering kudapati ia tertidur di samping HP-nya, dan terbangun saat berdering lagi. Meninggalkan masakannya saat suara HP berdering dari kejauhan karena khawatir kalau ditunda, muridnya tidak mau lagi menyetor hafalan. Aku pun demikian, memeriksa tugas muridku 1 kelas, merangkumnya dan harus membuat laporan pembelajaran, setiap hari. Banyak hal yang harus ku kontrol, memastikan agenda harian murid terlaksana, sholat Dhuha-nya, sholat wajibnya. Memastikan semua pembelajaran berjalan dengan baik. Belum lagi menghadapi komplain dari orangtua, pertanyaan yang silih berganti. Penjelasan yang kadang berulang-ulang karena kurangnya budaya literasi.
Ya… semua merasakan dampaknya.

“Abi, Abi…”
Suara istri membuyarkan lamunanku.
“Iya ummi”
“Ayo sarapan, nasi gorengnya ibu sudah siap disantap…”
“Masyaa Allah, Syukran…”
Ku santap nasi goreng yang masih hangat itu setelah membaca basmalah, sesekali ku suapi Uwaisku yang datang mendekat.

Tidak ada yang menginginkan kondisi seperti ini berkelanjutan, namun sekarang bukan saatnya saling menyalahkan. Apatah lagi mengharapkan keidealan.
Para guru, di manapun berada tetap menjadi pejuang tanpa tanda jasa. Mendedikasikan dirinya tanpa batas. Memberikan yang terbaik meskipun tak dianggap baik apalagi memuaskan. Karena guru bukan aktor atau artis yang setiap saat menghibur. Namun, mereka memiliki peran mendidik generasi terbaik untuk negeri.
Tetap semangat, guru Indonesia!

~Saldi Akbar, S.Pd | Wali Kelas 5.A4

About admin

Check Also

Peran Orang Tua Saat Anak Belajar di Rumah

 Saat ini di Indonesia telah mewabah virus Covid -19 atau biasa disebut virus Corona.Virus yang …

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *