Home / artikel / Pencari 360°

Pencari 360°

Libur idulfitri telah usai. Aktivitas pembelajaran di sekolah segera dimulai.

Nuansa bahagia dan liburan masih terbayang di dalam jiwa siswa. Menjadi tantangan tersendiri bagi guru agar nuansa tersebut tetap ada di dalam proses pembelajaran pada pekan pertama.

Terlebih lagi saat belajar matematika. Sebagian siswa masih menganggapnya momok dan kurang menarik. Hehe.

Singkat cerita. Proses pembelajaran dimulai. Materi yang dipelajari terkait pengukuran sudut pada segi empat dan membuktikan bahwa jumlah sudut segi empat adalah 360°.

Alih-alih siswa sudah paham terkait penjelasan yang saya berikan. Setelah melihat hasil asesmen, ternyata hanya satu siswa (Azzam) yang memahami konsep dengan benar disertai argumen yang kuat. Tentu sebagai guru. Kondisi tersebut sangat menyedihkan dan harus segera diperbaiki.

Asesmen diagnosis pun saya lakukan. Termasuk merefleksi cara mengajar dan bahasa yang digunakan. Alhasil, saya menemukan penyebab utamanya.

Pembelajaran pun saya ulang kembali dengan cara yang berbeda. Sebut saja membagi kelompok-kelompok kecil dan melibatkan Azzam (tutor sebaya) untuk membantu saya. Hasilnya pun sangat menggembirakan. Semakin banyak siswa memahami terkait konsep materi yang diajarkan beserta pembuktiannya.

Setelah itu, saya memperbanyak melakukan asesmen formatif. Pola singkatnya seperti ini:

1. Tiap siswa melakukan pengukuran

2. Verifikasi pengukuran ke guru

3. Jika argumen dan jawabannya benar, saya jadikan tutor sebaya

4. Jika verifikasinya kurang tepat, saya berikan umpan balik untuk diperbaiki

5. Sebelum kembali melakukan verifikasi ke guru. Saya mengarahkan tutor sebaya untuk mengecek jawaban temannya

6. Setelah itu, setiap siswa melakukan verifikasi pengukuran sambil menjelaskan argumentasi kenapa bisa menjawab seperti itu.

Dari kegiatan pembelajaran tersebut, saya melihat beberapa reaksi yang beragam dari siswa. Di antaranya:

1. Siswa berteriak bahagia karena berhasil membuktikan jumlah sudutnya 360°

2. Dahi mengerut ketika hasilnya tidak tepat 360°

3. Bolak-balik ke meja saya menggunakan kalkulator untuk mengetahui hasil penjumlahannya.

Dari proses ini, saya memperoleh pengalaman berharga, yaitu:

1. Betapa pentingnya kolaborasi antara guru dan siswa

2. Siswa perlu diberikan kesempatan yang banyak untuk menunjukkan eksistensinya

3. Mengejar materi dan waktu pada saat pembelajaran, terkadang “melukai” perasaan siswa yang lain. Mengapa demikian?

Bisa Anda bayangkan. Jika siswa A, B, hingga W memahami materi dan konsepnya. Sedangkan siswa X, Y, dan Z belum memahami dengan utuh materi tersebut dan guru melanjutkan materi baru.

Ditulis oleh guru yang sedang belajar dan akan terus belajar.

🖋 AMZ

About GZ

Check Also

8 Adab-adab Berkaitan dengan Masjid

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Sebagian orang ada yang membawa anak mereka yang belum …

Leave a Reply

Your email address will not be published.