Home / artikel / MENDIDIK GENERASI DIGITAL [2-selesai]
three person looking at x ray result
Photo by EVG Culture on Pexels.com

MENDIDIK GENERASI DIGITAL [2-selesai]

Sebagaimana diurai Rhenald Kasali dalam buku Disruption, segala aspek kehidupan sedang dilanda disrupsi. Ini semacam serangan inovasi. Kita tak bisa lagi hidup hanya dengan iterasi (melakukan hal yang sama dengan cara lebih baik, doing the same thing) dan inovasi (membuat hal-hal baru, doing the new thing). Strategi terbaik menata masa depan yang lebih baik adalah disrupsi (membuat banyak hal baru, doing things differently).

Salah satu pemicu disrupsi adalah gelombang internet. Dimulai dari gelombang pertama (1985), internet yang dikenal dengan era from zero to one ketika semua komputer terkoneksi secara global. Kemudian gelombang kedua (2000) atau era application and commercial saat mesin pencari, media sosial, dan telepon pintar makin mudah diakses. Dilanjutkan dengan gelombang ketiga (2016) atau era internet of things (loT) yang meresap di segala celah kehidupan manusia. Praktis, tidak ada kehidupan yang tak tersentuh internet.

Internet of Things (loT) menjanjikan kehidupan berbasis online di segala lini. Pelan tapi pasti, dunia manual bergeser ke jagad digital. Memesan kebutuhan apa pun bisa dilakukan dengan gawai tanpa harus keluar kamar. Transportasi online makin marak. Kota-kota dikelola dengan konsep smart city. Transaksi finansial menggunakan mata uang virtual. Jejaring media sosial ladang jurnalisme warga.

Seperti halnya pedang bermata dua, disrupsi era internet of things bersifat kreatif sekaligus destruktif. Bagi mereka yang berani mengambil risiko, disrupsi adalah penggerak kreativitas. Sebaliknya, bagi pemain lama yang terlena kemapanan (incumbent), disrupsi adalah ancaman yang menjemput tiba-tiba.

Dengan demikian, kita punya dua pilihan disrupting atau disrupted, menyerang atau diserang.

Mereka yang memilih disrupting layak disebut pemenang, sedangkan disrupted adalah pilihan mereka yang bermental pecundang. Keduanya memiliki mindset berbeda. Pemenang terbang di atas awan disruptive mindset, pecundang berkubang dalam lumpur steady mindset.

Pemilik steady mindset memandang kecerdasan sebagai benda matí sehingga mereka cenderung terikat kuat pada tradisi, merasa terancam dengan keberhasilan orang lain, abai terhadap kritik, mudah menyerah, menghindari tantangan serta kurang terbuka terhadap perubahan.
Pemilik disruptive mindset memandang kecerdasan sebagai sesuatu yang bisa dikembangkan sehingga mereka lebih luwes, mendapatkan pelajaran dari kesuksesan orang lain, belajar dari kritikan, menyukai tantangan, serta ramah terhadap perubahan.

Steady mindset menghasilkan manusia-manusia bermental birokrat, disruptive mindset melahirkan manusia-manusia bermental korporat. Kedua jenis manusia ini memiliki kinerja yang berbeda. Mental korporat bersifat fast respons (cepat merespons situasi), senang mencari cara-cara baru, kritis terhadap informasi baru, bekerja digital, serta selalu terkoneksi lewat jejaring dunia maya, sedangkan mental birokrat cenderung menunda pekerjaan, enggan berinovasi, mudah termakan hoaks, bekerja manual konvensional serta terisolasi dari dunia maya.

Pada era loT ini, para guru dan orang tua dituntut untuk bertransformasi dari mental birokrat menuju mental korporat. Hanya guru bermental korporat yang sanggup menjawab kebutuhan murid zaman now. Guru (yang bermental) korporat tidak terikat waktu dan tempat, artinya tetap merespons kebutuhan murid meski sudah tidak berada di sekolah dan di luar jam sekolah. Guru korporat cenderung bersikap melayani sebagai hamba, bukan dilayani bagai raja. Guru korporat memiliki daya dobrak dan berjiwa wirausaha. Guru korporat terus berkarya meski nihil anggaran karena mereka percaya uang bisa diciptakan dari lembaran ide kreatif dan segumpal inisiatif. Guru korporat melihat media sosial sebagai alat komunikasi, penangkap aspirasi, sekaligus untuk engagement dan berinovasi, bukan sekadar media hiburan penjaja kenikmatan gaya hidup semu.

Bersyukur sekali saya bisa berkarya di tengah-tengah guru bermental korporat. Semangat guru-guru generasi baby boomers tak kalah dibanding guru-guru generasi X. Mereka terus berinovasi mencari metode-metode kreatif mendidik murid generasi Z dan generasi Alpha.

Berikut adalah pengalaman beberapa guru dalam belajar dan berinovasi menemukan kreativitas.

Salah satuya adalah pengalaman Pak Andi menanamkan pentingnya minum air bagi kesehatan kepada anak-anak SMP Pak Andi adalah guru olahraga dari generasi Y, sedangkan para murid adalah generasi Z. Bersyukur Generasi Y dan Z sama-sama melek teknologi internet. Pak Andi dan hampir semua muridnya aktif di media sosial Facebook dan penyuka Youtube.

Menjelaskan manfaat minum air putih dengan metode ceramah memang mudah, tapi membosankan. Murid generasi Z tak akan terlibat penuh dalam pembelajaran. Pak Andi melihat kemahiran murid generasi Z di kelasnya dalam mengutak-atik aplikasi pengolah video. Beberapa di antaranya bahkan pernah mengunggah video di Youtube.

Muncullah ide kreatif. Pak Andi, berkolaborasi dengan Pak Tri pengampu pelajaran TIK, menantang para murid membuat video pendek tentang manfaat air putih bagi kesehatan. Video pendek berdurasi 2-4 menit ini dibuat secara berkelompok masing-masing dua anak. Pengambilan video boleh menggunakan smartphone ataupun kamera. Editing video bisa dikerjakan pada jam olahraga dan TIK, atau pada jam sepulang sekolah.

Dalam waktu dua minggu, para murid benar-benar menampakkan bahwamereka adalah generasi Z. Tangan mereka piawai menggenggam ponsel dan kamera. Jemari mereka mahir mengolah video dan menambahan teks pendukung dengan Windows Movie Maker, lalu mengunggahnya ke Youtube. Beberapa murid bahkan langsung minta softcopy Adobe Premiere, aplikasi video yang kerap dipakai para profesional.

Ada juga kolaborasi Bu Nita pengampu Bahasa Indonesia dengan Bu Lulu pengampu IPS di jenjang SMP. Keduanya adalah generasi X awal yang lahir tahun 70-an. Pembelajaran yang mereka integrasikan adalah menulis makalah (Bahasa Indonesia) dan perubahan sosial (IPS). Makalah dibuat secara berkelompok masing-masing dua anak.

Internet dengan limpahan sumber belajar merupakan rujukan favorit anak-anak. Mereka lebih senang berselancar mencari data bersama Mbah Google daripada membolak-balik halaman buku kertas. Cukup dua minggu bagi murid generasi Z untuk menemukan data perubahan sosial yang dibutuhkan dan menuliskannya dalam makalah.

Namun, sayangnya makalah yang terkumpul lebih tepat disebut sebagai kumpulan teks copy-paste. Teks-teks dari dunia maya disalin mentah-mentah begitu saja. Memang, itulah karakteristik generasi Z yang perlu diperhatikan, yaitu ingin segera menyelesaikan tugas dan jarang membaca teks secara utuh, Jika dibiarkan, hal ini akan menjerumuskan generasi Z menjadi generasi plagiator penggemar fanatik copy-paste.

Di titik inilah, peran guru sebagai pendidik benar- benar dibutuhkan. Bu Nita dan Bu Lulu mengajak kawan-kawan guru berdiskusi. Ini bukan petaka. Ini adalah peluang untuk mengajak murid generasi Z belajar mencari data tanpa terjebak plagiarisme. Pertama, murid- murid diperkenalkan dengan laman plagiarisme checker seperti www. scanmyessay.com dan smallseotools.com. Kedua, anak-anak belajar bagaimana menulis rujukan yang bersumber dari dunia maya. Generasi Z juga perlu belajar bahwa teks-teks yang disediakan Mbah Google perlu dikritisi dan ditulis ulang.

Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia dan IPS yang direncanakan selesai dalam tiga minggu molor hingga dua bulan. Apakah ini kegagalan? Bukan, ini adalah keberhasilan. Murid-murid belajar menuliskan sumber rujukan dengan baik. Makalah yang memiliki persentase plagiarisme lebih dari 20% harus diedit ulang. Di sinilah, mereka belajar bagaimana melakukan parafrase, menulis ulang sebuah paragraf dengan kata-kata sendiri.

Lain lagi pengalaman Bu Wido pengampu Bahasa Inggris. Penilaian Bahasa Inggris sudah memanfaatkan laman www.edmodo.com. Laman ini menyediakan fasilitas lengkap untuk berbagai penilaian berbasis pilihan ganda maupun esai. Murid-murid bisa mengerjakan tugas di rumah dengan gawai. Ada juga chat tools untuk diskusi, Tampilan edmodo yang mirip Facebook membuat murid-murid betah berdikusi lewat chat edmodo tersebut.

Di atas adalah contoh nyata kreativitas guru generasi X-Y mengajar murid generasi Z. Melalui teknologi informasi dan media sosial, guru bisa menanamkan sadar kesehatan, kejujuran, teamwork, problem solving, dan juga high order thinking skill. Mereka adalah guru-guru yang berani melakukan self-disruption, mendisrupsi diri sendiri.

ditulis dari buku Mendidik Generasi Z & A, Marwah Era Milenial Tuah Generasi Digital (J. Sumardianta & Wahyu Kris AW)

About admin

Check Also

lightning and tornado hitting village

Saat Kemarau, Hujan, dan Badai

Dari Anas bin Malik, beliau menceritakan: Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at melalui …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *