Home / artikel / MENDIDIK GENERASI DIGITAL [1]

MENDIDIK GENERASI DIGITAL [1]

SUATU BANGSA TIDAK AKAN MAJU SEBELUM ADA DI ANTARA BANGSA ITU SEGOLONGAN GURU YANG SUKA BERKORBAN UNTUK KEPERLUAN BANGSANYA.

– MOHAMMAD NATSIR –

Setiap titik pada garis perjuangan Indonesia tidak pernah lepas dari kolaborasi anak muda dan orang dewasa. Anak muda dengan semangatnya, orang dewasa dengan pengalamannya. Mereka berbeda menciptakan, tetapi memiliki kelompok visi. Mereka melebur perbedaan menjadi kekuatan.

Seorang dokter bernama Wahidin Sudirohusodo, ia suka bergaul dengan rakyat biasa. Merasa prihatin dengan penderitaan rakyat, ia berkeliling ke berbagai tempat yang memberikan pengobatan tanpa bayaran. Dari pengalaman yang menjumpai penderitaan ini, lahirlah ide yang menentukan organisasi untuk mengangkat kehormatan bangsa.

Gagasan dr. Wahidin terus bergulir dengan semangat anak-anak muda yang masih berstatus pelajar. Mereka adalah Soetomo, Soeradji. dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Pada Hari Minggu 20 Mei 1908, di kelas School tot Opleiding van Inlandsche Artse (STOVIA) lahirlah organisasi Budi Utomo.

Paparan buku sejarah tentang Budi Utomo kebanyakan hanya bercerita tentang tanggal, nama, dan tempat. Padahal, di dalamnya ada banyak upaya penyelarasan visi dan perombakan pendapat menjadi kekuatan antara orang dewasa dengan anak muda. Memang, hakikat pergulatan dr. Wahidin bersama tiga pelajar dalam menggerakkan organisasi adalah kolaborasi antargenerasi.

Wahidin Sudirohusodo lahir di Sleman pada 1852. Soetomo lahir di Nganjuk, Soeradji lahir di Madiun, dan Goenawan Mangoenkoimo lahir di Jepara. Tentu bukan kebetulan jika ketiganya lahir pada tahun 1888, ketika Budi Utomo berbentuk Wahidin berusia 56, sedangkan Soetomo, Soeradji, dan Goenawan berusia 20 tahun.

Meski tahun kelahiran mereka tidak masuk dalam periodisasi Teori Generasi, pautan usia 36 tahun layak diperhatikan. Beda tahun kelahiran antara Baby Boomers, Generasi X, Generasi Y, Generasi Z, dan Generasi Alpha berkisar antara 14-19 tahun. Artinya, Wahidin dan tiga pelajar tersebut bisa dikatakan terpaut dua generasi.

Perbedaan generasi berkelindan dengan gagasan dan strategi. Wahidin menghendaki Budi Utomo menjadi organisasi terbuka, sedangkan anak-anak muda, seperti Soetomo, Soeradji, dan Goenawan tidak setuju jika pejabat kolonial bergabung. Di sinilah idealisme gagasan antargenerasi didialogkan. Akhirnya, Wahidin yang kalem bisa sederap selangkah dengan Goenawan yang visioner dan berapi-api. Bahkan di kemudian hari, Goenawan ingin menggerakkan Budi Utomo sebagai gerakan kultural. Bandingkan misalnya dengan gerakan tiga serangkai Soewardi Suryaningrat Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Douwes Decker berhimpun dalam organisasi Indische Partij yang lebih condong ke gerakan politik.

Budi Utomo terus bergerak dalam samudra perjuangan penuh riak. Alih-alih makin redup, pelbagai perbedaan menjadikannya makin hidup. Dinamika antargenerasi dalam organisasi bermuara pada penyelarasan visi. Hal ini menginspirasi tumbuhnya organisasi kebangsaan di seluruh negeri. Terbukti kemudian, Budi Utomo menjadi motor perjuangan rakyat menuju Indonesia merdeka dan berdaulat.

Pesan yang perlu dipetik dari perjalanan Budi Utomo adalah kolaborasi antargenerasi.

Orang dewasa memang kaya pengalaman, tetapi anak muda belum tentu kurang gagasan. Pengalaman orang dewasa bisa menjadi belenggu jika tidak dibarengi dengan pikiran yang terbuka. Sebaliknya, gagasan orang muda bisa menyesatkan jika tidak diimbangi dengan kematangan berpikir.

Hari ini, sekolah dipenuhi manusia- manusia lintas generasi. Ada guru dari generasi Baby Boomers dan X. Ada murid dari generasi Y dan Z. Para guru dengan gaya imigran digital berbaur dengan murid bergaya digital native. Itu benar, hari ini para guru dituntut untuk terus berubah dan belajar. Jika tidak, sekolah menjadi konyol Sekonyol orang dewasa yang takut layar gadget akan mengajari anak-anak zaman sekarang yang terlahir dengan tangan menggenggam gadget. Guru yang tidak berani berinovasi pasti akan terseret gempuran teknologi informasi. Apalagi di era informasi yang berakselerasi secara eksponensial ini, sekadar inovasi saja belum cukup. Guru butuh mencipta disrupsi. [bersambung]

ditulis dari buku Mendidik Generasi Z & A, Marwah Era Milenial Tuah Generasi Digital (J. Sumardianta & Wahyu Kris AW)

About admin

Check Also

lightning and tornado hitting village

Saat Kemarau, Hujan, dan Badai

Dari Anas bin Malik, beliau menceritakan: Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at melalui …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *