Home / Parenting / Cinta di Atas Cinta kepada Seluruh Manusia

Cinta di Atas Cinta kepada Seluruh Manusia

Mencintai Rasulullah bukanlah sekedar dengan mencintai perasaan saja, namun yang diinginkan di sini adalah menyesuaikan segala sesuatu yang dicintai Rasullulah dan serta membenci segala sesuatu yang dibencinya. Termasuk di dalamnya adalah melaksanakan amalan-amalan yang membuat senang kepada kita di hari kiamat, kemudian menimbulkan kerinduan ingin bertemu dengannya sembari senantiasa berharap semua itu kita lakukan hanya karena Allah semata.

Inti dari rasa cinta kepada Rasulullah adalah lebih dari kita cintai diri, harta, dan anak-anak kita sendiri. Umar bin Al-Khaththab sebagai mengisahkan, bahwa Rasulullah bersabda, “Tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai dia menjadikan aku lebih dicintainya bersama diri, harta, dan orang tuanya.” Ketika Umar berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, sungguh Anda lebih dari aku cintai dari segalanya, kecuali diriku,” Kemudiannya Rasulullah menjawab, “Tidak! Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sampai aku lebih engkau cintai dirimu sendiri.”

Tatkala Umar berkata kepadanya, “Sungguh engkau sekarang lebih aku cintai diriku, ya Rasulullah,” jawab Rasulullah. “Sekarang baru (sempurna keimananmu), wahai Umar.” (HR Al-Bukhari).

Melanjutkan isi buku, Pendidikan Cinta untuk Anak karya DR. Amani Ar-Ramadi yang merupakan Dosen Universitas Kaira Mesir. Setelah menanamkan cinta kepada Allah selanjutnya adalah bagaimana menanamkan cinta kepada Rasulullah di fase usia 7 sampai 10 tahun.

Dalam buku tersebut mengatakan bahwa usia ini sangat cocok bagi kita menceritakan sikap-sikap dan kehidupan Rasulullah bersama anak-anak. Bagaimana kecintaannya, kasih sayang, penghormatan, kelemah-lembutan, dan candanya dengan mereka yang mana kisah-kisah seperti itu sangatlah banyak. Perlu diperhatikan bahwa anak perempuan akan suka jika ceritanya juga tentang perempuan, begitu juga sebaliknya. Pada dasarnya harus tahu semuanya. Karena itu, kisah-kisah mempunyai pengaruh yang besar pada jiwa anak-anak dan bisa menjadikan mereka mau mempersiapkan diri untuk mencontoh para tokoh yang ada dalam kisah- kisah tersebut.

Sikap Rasulullah terhadap kedua cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain; bagaimana Rasulullah mencintai, mencandai dan mencintai mereka. Di bawah ini ada kisah tentang Al-Hasan dan Al-Husain bersama kakek terbaik, dari Abdullah bin Syaddad, dia bercerita, “Suatu ketika Rasulullah mendatangi kami untuk shalat Isya ‘dengan menggendong Al-Hasan atau Al-Husein. Lalu Rasulullah maju kemudian meletakkanya dan bertakbir untuk shalat. Waktu itu beliau memanjangkan sujudnya.” Kemudian bapak saya melanjutkan ceritanya, “Maka kuangkat kepalaku. Ternyata ada anak kecil yang berada di atas punggung Rasulullah, sedangkan beliau sedang sujud, aku pun sujud lagi. Setelah Rasulullah selesai shalat orang-orang pun bertanya,” Ya Rasulullah, sungguh panjang sekali sujudmu di waktu shalat tadi, sampai kami mengira ada sesuatu yang terjadi atau turun wahyu.” Jawab Rasulullah, “Tidak ada apa-apa, hanya saja cucuku menunggangiku dan aku tidak ingin tergesa-gesa sampai dia menyelesaikan sendiri keinginannya.” (Shahih An-nasa’i nomor 1141).

Selanjutnya dari Abdullah bin Buraidah meriwayatkan bahwa menyatakan, “Ketika Rasulullah sedang berkhutbah, lalu Al-Hasan dan Al- Husain berjalan ke arahnya sambil melihat pakaian berwarna merah. Tiba-tiba mereka terpeleset. Serta-merta, Rasulullah langsung turun dari mimbar dan mengangkatkan keduanya lalu diletakkannya itu di depannya. Kemudiannya bersabda, ‘Mahabenar, Allah yang berkata: ‘Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu itu adalah fitnah’. Karena itu, ketika aku melihat anak kedua ini berjalan kemudian terjatuh, aku tidak bisa menahan diri, sehingga aku putus khutbahku dan mengangkat keduanya’.” (Shahih At-Tirmidzi nomor 3774)

Di lain riwayat bahwa Abu Hurairah berkata, “Rasulullah mencium Al-Hasan bin Ali, sedangkan ketika itu di sampingnya ada Al-Aqra ‘bin Häbis At-Tamimi sedang duduk. Maka Al-Aqra’ punah ,’Saya punya sepuluh orang anak dan belum pernah mencium seorang pun dari mereka.’ Spontan Rasulullah Imemandangnya, lalu bersabda, “Siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayangi.” (HR Al-Bukhari)

Diriwayatkan dari Aisyah bahwa seorang badui datang kepada Rasulullah lalu bertanya, “Apakah Anda mencium anak-anakmu ya Rasulullah? Sedangkan kami tidak mencium mereka.” Maka Rasulullah beraabda, “Jika kamu tidak mau mencium anak – anakmu, apakah kamu mau jika aku berdoa kepada Allah agar mencabut rasa kasih sayang dari dalam hatimu.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad nomor 90)

Rasulullah sangat rendah diri kepada semua anak kecil, teriebih terhadap anak-anaknya sendiri. Beliau sering menggendong Al-Hasan di atas pundaknya, bercanda dan menciumnya. Tiba- tiba pandangannya tertuju pada Al-Hasan dan ingin memegangnya ketika dia sedang bermain. Maka Al-Hasan pun lari ke sania ke mari sampai akhirnya Rasulullah berhasil menangkapnya. Terkadang baginda Rasulullah menaruh sedikit air yang dingin di mulutnya. Kemudian menyemburkannya ke wajah Al-Hasan sambil tertawa, kemudian menjulurkan lidahnya ke arah Al-Hasan dan ketika Al-Hasan melihatnya, ia pun mulai tertawa. Begitu cintanya kepada Al-Hasan dan Al-Husain dan keinginannya yang besar atas kebaikan mereka, Rasulullah mendidik mereka dengan leah lembut sambil menjelaskan penjelasan sebabnya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah sebagai “Al-Hasan bin Ali pernah mengambil sebiji kurma dari kurma-kurma zakat dan langsung dia masukkan ke mulutnya. Maka Rasulullah berkata, ‘Hei, buang kurma itu! Apakah kamu tidak tahu kalau kita dilarang memakan zakat’?” (Muttafaqun’ alaih).

Sikapnya terhadap adik Anas bin Malik yang biasa dipanggil Abu Umair. Ketika beliau melihat bahwa Abu Umair membeli seekor burung dan merasa sangat senang dengannya, Rasulullahpun setiap bertemu dengannya selalu menyapanya dengan mengatakan, “Hai Abu Umair, apa yang telah dikerjakan si Nughair?” (Nughair adalah isim tashgir dari nugharun yang artinya anak burung pipit). Suatu ketika, saat Rasulullah sedang berjalan-jalan di pasar, beliau melihat Abu Umair sedang menangis. Beliau kemudian bertanya tentang sebab tangisannya, maka Abu Umair menjawab, “Anak burung pipit inu sudah mati, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullahpun terus mencandainya dan mengajaknya bicara dan bermain sampai dia tertawa. Ketika doa orang sahabat lewat dan melihat Rasulullah dan Abu Umair, mereka bertanya kepada Rasulullah tentang sebab yang dibuat bersama dengan Abu Umair. Maka Rasulullah menjawab, “Burung pipit yang mati dan aku di sini untuk menghibur Abu Umair.” (Muttafaqun ‘alaih)

Belas kasihan Rasulullah ketika mendengar tangisan anak kecil pada waktu shalat sehingga dia pun memendekkan shalatnya, Anas saat itu berkata, “Belum pernah aku shalat di belakang seorang imam yang lebih pendek, tidak pula yang lebih panjang shalatnya dari Rasulullah.” Jika mendengar tangisan anak kecilnya langsung memendekkannya karena takut Ibunya terganggu. Hal itu juga diperkuat langsung oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Ketika aku sudah berdiri untuk shalat dan ingin memanjangkannya, tiba-tiba tiba kudengar tangisan anak kecil maka kupercepat shalatku karena aku tahu betapa kasihannya Ibunya dengan tangisan itu.” (Shahih Al-Jami ‘Ash-Shaghir nomor 2478)

Tindakan Rasulullah shalat bersama-sama dengan anak-anak dan mengusap-usap pipi mereka sebagai bentuk kasih sayang, ketakjuban dan motivasi terhadap mereka. Jabir bin Samrah, “Aku pernah shalat Zhuhur bersama Rasulullah setelah selesai, beliau kembali ke rumah bersamaku. Tiba-tiba dua orang anak menyambutnya. Beliau pun mengusap-usap pipi mereka satu-persatu. Kemudiannya mengusap-usap pipiku dan aku yakin terasa terasa dingin, atau tercium aroma dari yang seakan-akan baru dikeluarkan dari botol-botol minyak wangi.” (HR Muslim)

Rasulullah selalu memberikan hadiah untuk anak-anak. Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Ada sekelompok orang yang melihat buah yang keluar pertama kali dari sebatang pohon, mereka selalu membawa kepada Rasulullah. Setelah mengambilnya beliau berdoa, “Ya Allah, berkatilah buah-buahan ini bagi kami, bagi kota Madinah kami ini dan berkatilah dalam takaran kami. Kemudian beliau memanggil anak paling kecil yang dilihatnya, lalu memberikan buah itu” (HR. Muslim)

Rasulullah pernah membawa anak kecil ketika beliau sedang shalat. Dari Qatadah, bahwa Rasulullah menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah. Dia anak Abdul ‘Ash bin Rabi’, suami putrinya, Zainab. Beliau menggendongnya ketika sedang berdiri dan meletakkannya di saat sedang sujud, kemudian memangkunya setelah selesai salam. (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Pemuliaan Rasulullah terhadap anak-anak dan larangan berbohong kepada mereka. Majelis ilmu dan majelis dzikir Rasulullah selalu diramaikan oleh anak-anak. Sampai pernah suatu saat salah seorang anak duduk di sebelah kanan Rasulullah, sedang orang-orang tua duduk di sebelah kirimya. Ketika itu beliau datang dengan membawa sisa minuman yang sudah diminumnya, kemudian kepada anak kecil itu, “Apakah engkau izinkan aku untuk memberikan kepada mereka lebih dulu?” Jawab anak kecil itu,“Tidak wahai Rasulullah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.” Lalu Rasulullah memberikan air itu kepadnya.

Dari Abdullah bin Amir berkata, “Ibuku pernah memanggil saya di saat Rasulullah sedang duduk-duduk di rumah kami, lalu berkata, ‘Kemarilah, aku beri kamu sesuatul Maka Rasulullah berkata kepadanya, ‘Apa yang ingin engkau berikan kepadanya? Jawabunya, “Saya ingin memberikan sebiji kurma. ‘Kemudiannya bersabda, ‘Seandainya engkau tidak jadi memberikan sesuatu, itu sudah dianggap dusta.” (Shahih Abi Dawud nomor 4991)

Pesan Rasulullah tentang kemuliaan anak-anak perempuan, saat orang-orang Arab jahiliyah menganggap anak perempuan sebagai petaka. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mempunyal tiga anak perempuan kemudian dia sabar atas keruwetan (bengkok), kesusahan dan kesenangan mereka, dia akan masuk surga.” Lalu seorang laki-laki bertanya, ‘Kalau dua anak perenmpuan bagaimana wahai Rasulullah? “Jawabnya, walaupun dua orang. Yang lain bertanya, “Kalau satu orang? Jawabnya, “Satu orang juga ‘.”

Kedekatan Rasulullah yang sangat besar untuk selalu menunjukan anak-anak ke jalan yang benar, meluruskan pemahaman dan kekeliruan mereka dengan hikmah dan bentuk kerja nyata, guna memperjelas asal masalah. Di antara contoh hal itu adalah salah seorang sahabat Rasulullah yakni seorang bekas budak orang Persia. Dia mengatakan, “Aku berperang bersama Rasulullah pada perang Uhud dan berhasil membabat seorang laki-laki dari kaum musyrikin dengan pedangku. Lalu aku berkata, ‘Rasakanlah olehmu! Aku adalah seorang pemuda Persial.” Ketika itu Nabi memalingkan wajahnya kepadaku lalu berkata. “Alangkah baik seandainya engkau katakan, “Rasakanlah olehmu! Aku adalah seorang pemuda Anshar!” (Ibni Majah nomor 2784)

Inilah Abdullah bin Umar, ketika ia tidak melaksanakan qiyamullail. Rasulullah bersabda di hadapannya, “Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah kalau dia mau melaksanakan shalat malam.” Semenjak itu Abdullah tidak pernah meningalkan shalat malam.

Rasulullah mengajari mereka untuk senantiasa menjaga rahasia. Dari Abdullah bin Ja’far ats berkata, “Suatu hari, Rasulullah memboncengkanku di belakangnya, lalu beliau membisikkan kepadaku satu pembicaraan yang tidak boleh aku ceritakan kepada orang lain.” (Shahih At-Targhib wat Tarhib nomor 2269)

Keramahannya terhadap pembantunya, Anas bin Malik. Beliau selalu memanggilnya, “Hai anakku” atau “Wahai Unais (Anas kecil). Anas bercerita,”Aku telah menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun. Demi Allah, selama itu beliau tidak pernah mengatakan kepadaku, Ah! “Tidak pula menanyakan, ‘Mengapa engkau mengerjakan perbuatan ini?” Atau mengatakan ‘Sudahkah engkau kerjakan ini’?” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah mengadakan beberapa perlombaan untuk anak-anak dalam rangka mengembangkan daya intelegensi, membangun asa, meningkatkan cita-cita serta bakat terpendam mereka. Samurah dan Rafi’ pernah adu gulat di hadapan Rasulullah saat mereka ingin ikut berperang melawan orang-orang musyrik. Tetapi Rasulullah menolak mereka karena masih terlalu kecil. Kemudian para shahabat mengajak Samurah karena dia pandai memanah. Maka Rasulullah pun membolehkanya. Namun Rafi ‘juga Mampu mengalahkan Samurah dalam bergulat-maksudnya, dia lebih kuat dari Samurah-meskipun dia tidak pandai memanah. Maka Rasulullah menyuruh Rafi ‘untuk bergulat melawan Samurah. Lalu keduanya bergulat dan Rafi’pun mampu mengalahkannya. Setelah itu barulah Rasulullah bersama mereka berdua ikut.

Kasih sayang Rasulullah kepada binatang. Kisahnya dengan seekor kijang betina. Dalam kisah diriwayatkan bahwa Anas bin Malik bercerita, “Rasulullah pernah melewati sekelompok orang yang berhasil menangkap seekor kijang betina, lalu mereka mengikatnya pada sebuah tiang yang kokoh. Kijang itu berkata, Wahai Rasulullah saya telah saya ditangkap mereka, sementara saya punya dua ekor anak yang masih menyusu, mintakanlah aku izin kepada mereka untuk menyusui anak-anakku lalu aku akan kembali lagi kepada mereka. Rasulullah bertanya, Siapa pemilik ini? ‘ Orang-orang itu menjawab, Kami wahai Rasulullah. Beliau bersabda, ‘Lepaskan dia, supaya bisa pergi menyusui dua ekor anaknya lalu dia akan kembali lagi kepada kamu! ” Mereka pun kata, Siapa yang menjadi penjaminnya? Saya, jawab Rasulullah. Kemudian mereka melepaskan kijang tersebut. Kijang itu pun pergi untuk menyusui anak-anaknya. Setelah selesai, dia kembali lagi ke para pemburu itu. Mereka pun mengikatnya kembali. Rasulullah lalu mendatangi mereka dan membeli kijang tersebut, kemudian melepaskannya.

Kisah Rasulullah dengan seekor unta. “Beliau melihat seekor unta yang sedang memasuki perkebunan seorang sahabat Anshar. Ternyata di situ sudah ada seekor unta lain yang ketika melihat Rasulullah dia terlihat bersedih dan meneteskan air mata. Rasulullahpun mendatanginya dan mengusap-usap tulang rahangnya. Barulah dia mau diam. Rasulullah kemudian bertanya, “Siapa pemilik unta ini?” Seorang pemuda dari Anshar menjawab, ‘Saya, wahai Rasulullah.’ Lalu Rasulullah bersabcla, apakah engkau tidak takut kepada Allah karena perlakuanmu terhadap binatang yang telah Allah berikan kepadamu ini? Dia mengadu kepadaku bahwa engkau telah membiarkannya kelaparan namun selalu mempekerjakannya terus menerus. “(Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah nomor 20)

Kisahnya dengan unta yang lain. “Seekor unta yang dinaiki Aisyah. Untuk menjinakkannya, dia pun menariknya ke sana-ke mari sehingga unta itu menjadi kepayahan. Maka Rasul berkata, ‘Lemah lembutlah engkau wahai Aisyah”.

Masih banyak kisah lain tentang Rasulullah mengenai hal ini. Kisah ini banyak dijumpai dalam buku-buku sejarah untuk anak seusia ini.

Kalau kita mampu, ajaklah anak menemani berziarah ke makam Rasulullah setelah mengajarinya etika-etika saat berada di dalam masjid-terutama Masjid Nabawi dan Masjid Al-Haram. Kita juga menjelaskannya, bahwa Allah mengembalikan ruh Rasulullah ke dalam tubuhnya ketika kita bershalawat kepadanya untuk menjawab salam kita dan menjelaskan kepadanya, kita harus menghadap kiblat saat berdoa di samping makam Rasulullah. Dan seorang Muslim tidak meminta bantuan dari Allah, juga tidak mengharap kepada selain-Nya. Begitu juga kita jelaskan keutamaan-keutamaan Raudhah Asy-Syarifah, lalu kita berusaha mewujudkan untuk melaksanakan hal-hal tersebut sesuai kehendak Allah.

Kita rela hubungan apapun dalam rangka mendidik anak-anak demi menjamin masa depan keduniaan, kesejahteraan, pakaian mereka, dan lain sebagainya. Menurut hemat Penulis, ziarah ke makam Rasulullah juga tidak kalah pentingnya, karena akan mengajari dan membangkitkan emosi sekaligus mendekatkan dirinya pada Allah dan Rasul-Nya. Dari situlah orang tua menjamin masa depanya di akhirat-insya Allah.

Telah terbukti, bahwa berziarah ke makamnya pada usia-usia seperti ini sangat berpengaruh pada diri anak. Bahkan, sangat membantu untuk mengalahkan gangguan syetan dan bisa selalu komitmen dengan ajaran-ajaran agama dalam hidupnya. Hal ini bisa berhasil jika kedua orang tuanya benar-benar menerapkan metode-metode tersebut pada usia yang diberkati ini dengan baik, serta mau membantunya selalu mengingat kenangan-kenangan indah yang pernah dialaminya tersebut.

Lebih dari itu, jika kita mau menjelaskan bahwa ziarah ini merupakan hadiah atas keberhasilanya-misalnya-, atau karena akhlaknya yang baik dan hal-hal lain dari dirinya, pengaruhnya akan lebih tertanam. Hal itu juga sangat membantunya berusaha melakukan hal-hal yang menyebabkan dia mendapatkan hadiah dari kita. Termasuk faktor yang dapat membantunya untuk mencintai Rasulullah adalah kita beri hadiah kepada anak atas bershalawat kepada Nabi sepuluh kali -umpamanya- sebelum tidur dan setelah shalat, atau ketika dia sedang menghadapi kesempitan (kesedihan) sehingga dia terbiasa dengan hal itu.

About admin

Check Also

two kids playing beside glass windows

Jadilah Guru Keluarga [1]

Dalam pandangan Islam, pendidikan anak pada dasarnya menjadi tanggung jawab orang tuanya, bukan tanggung jawab …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *