Home / artikel / Menanamkan Cinta Anak Kepada Islam
Close-up shot of a Muslim young man worshiping in a mosque. Horizontal composition.

Menanamkan Cinta Anak Kepada Islam

Islam merupakan nikmat Allah terbesar dan termulia yang diberikan kepada manusia. Ia merupakan sikap penyerahan diri sepenuhnya terhadap segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Melanjutkan isi buku, Pendidikan Cinta untuk Anak karya DR. Amani Ar-Ramadi yang merupakan Dosen Universitas Kaira Mesir.  Berikut cara menanamkan kecintaan pada masa anak usia 7-11 tahun.

Hendaklah kita mulai menjadikan mereka cinta Islam dengan dua pendekatan:

• Pertama, Islam adalah Agama yang memiliki sekian pilar utama.

1. Syahadat tauhid

Jika anak-anak kita telah mengenal Allah semenjak dini, maka pengetahuan ini akan bisa tumbuh, berkembang dan semakin mendalam. Semakin bertambah usia, semakin bertambah pula kedekatannya dengan Allah.

Seseorang yang tumbuh sejak kecil dalam ketaatan kepada Allah akan mendapatkan hasil, sedangkan orang yang mengenal Allah setelah tua juga mendapat hasil, tetapi yang didapatkan keduanya berbeda. Masing-masing telah dijanjikan oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan.”Allah adalah Rabb kita Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada pengawas dan pengawal bagi-Nya.” Jika dalam satu kelompok pemimpinnya lebih dari satu, tentunya akan memunculkan perselisihan pendapat dan kekacauan dalam urusan kelompok tersebut. Sebagaimana kita juga tidak bisa melihat-Nya dengan mata kita, karena memang kita tidak akan mampu untuk itu. Selain itu pula disebabkan cahaya-Nya lebih kuat dari kemampuan mata kita untuk melihat. Dalam hal ini, akan lebih baik lagi kalau kita untuk menceritakan kisah Musa dan gunung (termaktub dalam surat Al-A’râf: 143).

Tetapi kita hanya bisa melihat Allah di surga dan inilah nikmat yang paling agung yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang bertakwa. Sementara ketika kita di dunia, Allah melihat dan mendengar kita di mana saja kita berada, dan kita bisa merasakan dan melihat hal itu melalui segala hal yang indah dari ciptaan-Nya. Ketika melihat hilal setiap awal bulan, Rasulullah selalu berkata: “Rabb-ku dan Rabb-mu adalah Allah.”

2. Shalat.

Shalat adalah tiang agama, dengannya agama tegak dan tanpanya agama jadi hancur. Na ‘ûdzubillâh. Oleh sebab itu, mengajarkan dan membuat anak-anak senang melaksanakanya adalah kewajiban sangat penting bagi kedua orang tuanya.

Untuk menjelaskan masalah ini, kita akan membahas sebuah makalah yang berjudul, “Bagaimana Cara Menjadikan Anak Kita Mencintai Shalat.” Makalah ini dibahas secara panjang lebar dalam situs “Thariqul Islâm” Penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat.

3. Zakat

Pada fase ini, pendidikan anak untuk berzakat menjadi sempurna seiring dengan pembiasaannya untuk bersedekah. Kita sedekahkan apa saja yang ada di hadapannya. Kita juga perlu memberitahunya, bahwa sedekah dapat meredakan kemarahan Allah dan orang mukmin pada hari kiamat berada di bawah naungan sedekahnya.

Rasulullah menjelaskan keutamaan sedekah dalam sabdanya: “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya sehingga diputuskan (dihisab) di antara manusia.” (Shahih At-Targhib wat tarhib nomor 872) “Bersedekahlah kamu walau hanya dengan secuil kurma, karena hal itu dapat mengganjal perut orang yang lapar dan menghapuskan kesalahan sebagaimana air yang dapat memadamkan api.” (Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir nomor 2951) “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah. Harta yang kita miliki adalah milik Allah, Dia menitipkanya pada kita” (Shahih Al-jami’ Ash-Shaghir: nomor 3357)

Sebagai ujian buat kita, dan Dia ingin melihat apa yang akan kir lakukan dengan harta itu?. Hendaknya kita menerangkan pada mereka ayat: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Baqarah: 261).

Hendaknya kita memberikan mereka barang, supaya mereka memberikan sendiri kepada orang fakir dan orang yang membutuhkan. Kita akan sama-sama mendapat pahala serta bisa bermanfaat bagi anak untuk merasakan manisnya bersedekah dan membiasakan diri dalam melakukannya. Kita juga memberitahu kepada mereka, bahwa bersedekah tidak mesti harus dengan harta, tapi bisa juga dengan baju, sepatu, buku, manisan, barang-barang, alat-alat sekolah dan lain sebagainya yang menjadi kelebihan dari harta kita, namun bisa jadi dibutuhkan oleh fakir miskin. Perlu diingat, di akhir fase ini anak-anak menjadi lebih perhatian terhadap barang-barang miliknya dan penampilannya dibanding sebelumnya.

Jika mereka menolak untuk bersedekah dengan salah satu baju atau sepatunya, kita biarkan dahulu apa maunya. Bisa saja kita usulkan kepadanya, supaya bersedekah dengan sebagian buku atau mainannya atau yang lainnya sesuai dengan pilihannya. Jangan sekali-kali memaksanya bersedekah atau hal-hal lainnya. Firman Allah “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).” (Al-Baqarah: 256).

Mungkin juga, di rumah kita letakkan satu kotak khusus untuk menaruh barang-barang yang hendak di sedekahkan. Sehingga, kedua orang-tua atau anak-anak bisa menaruh barang-barang yang menjadi kelebihan dari kebutuhan mereka atau apa saja yang bisa disedekahkan. Setiap kali sudah penuh, kita rapikan barang-barang tadi dan kita berikan kepada yang berhak menerimanya.

Kita juga perlu menyampaikan kepada anak, bahwa sedekah dapat menjaga harta dari musibah, kerusakan, hilangnya keberkahan dan menjadi sebab pemberian Allah kepada pemiliknya sesuatu yang lain vang lebih bermanfaat, lebih banyak dan lebih baik. Banyak nash dan pengalaman nyata telah menunjukkan masalah tersebut. Di antaranya ayat berikut: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39).

Begitu juga, kita perlu memberitahukan bahwa perkaranya tidak hanya terbatas pada sekadar pemberian sedekah semata. Lebih daripada itu! Perlu bagi kita, untuk memperhatikan kondisi orang yang diberi sedekah agar bisa memberikan sekadar sedekah yang bisa membuatnya senang, menghilangkan kesedihanya, melapangkan kesempitanya, memperbaiki kondisinya, dan membantu serta menutupi kebutuhanya. Orang bersedekah akan mendapat pahala sesuai dengan barang yang disedekahkannya, berdasarkan sebuah hadist Rasulullah yang berbunyi: “Barangsiapa yang membantu satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan seorang mukmin ketika di dunia, niscaya Allah akan membantu satu kesempitannya di akhirat. Dan barangsiapa yang meringankan orang yang sedang dalam kesulitan, niscaya Allah akan meringankan kesulitannya, baik di dunia dan di akherat. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akherat. Allah akan senantiasa membantu seorang hamba selama hamba itu mau membantu saudaranya.” (HR Muslim). “Barangsiapa yang memberikan sesuatu yang dia cintai kepada saudaranya muslim, agar dia senang dengan hal itu, niscaya Allah akan membuatnya senang pada hari kiamat.” (Ash-silsilah Adh-Dha’ifah nomor 1286) .

Rasulullah juga mencontohkan keadaan seorang dermawan, “Ada seorang pedagang yang meminjamkan uang kepada setiap orang, jika dia lihat orang itu dalam kesulitan. Suatu ketika si pedagang itu berkata kepada para pembantunya, ‘Maafkanlah hutang-hutang mereka, semoga Allah memaafkan kita.’ Maka Allah pun memaafkanya (pedagang tadi).

Apabila kecintaan bersedekah sudah terpatri di dalam hati dan jiwa si anak dan sudah mulai mau bersedekah dengan uang sakunya, maka kita ajarkan kepadanya bahwa Allah mewajibkan orang muslim mem- beri bantuan dengan barang yang bernilai kecil kepada orang-orang yang membutuhkan. Tetapi, barang tersebut harus dihitung dengan seksama. Barang tersebut jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan akumulasi sedekah-sedekah yang pernah kita keluarkan. Kewajiban inilah disebut dengan zakat. Dalam zakat ini, kita tidak boleh memilih dari harta kita. Kita hanya diperbolehkan memilih dari barang yang kita miliki dalam hal ketika kita hendak bersedekah saja, bukan berzakat. Kita juga perlu mengajarkan kepada anak-anak, bahwa zakat dari kemampuan kita adalah membantu orang-orang lemah. Zakatnya ilmu adalah mengajari orang-orang bodoh, zakatnya kesehatan adalah menjenguk orang sakit serta memenuhi kebutuhanya, dan sebagainya.

Abdullah bin Umar meriwayatkan, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, manusia seperti apa yang paling dicintai Allah dan pekerjaan apakah yang paling dicintai Allah?” Rasulullah menjawab, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain, dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah memasukkan kesenangan ke dalam hati seorang muslim, membantu kesulitannya, membayar hutangnya atau menghilangkan kelaparannya. Di bawah ini kami sajikan riwayat tentang keutamaan sedekah “Pergi bersama saudaraku dalam rangka memenuhi kebutuhannya, lebih aku sukai dari pada aku beri’tikaf sebulan di masjid ini (masjid Nabawi).” “Barangsiapa yang menahan amarahnya, niscaya Allah akan menutupi auratnya.” “Barangsiapa menahan amarahnya sementara dia mampu melakukannya, niscaya Allah akan memenuhi hatinya harapan untuk mendapatkan karunia pada hari kiamat.” “Barangsiapa yang berjalan dengan saudaranya untuk memenuhi kebutuhannya sampai selesai, niscaya Allah akan meneguhkan kakinya pada hari ketika kaki-kaki manusia lainnya sama tergelincir.” (Shahih At-Targhib wat Tarhib nomor 2623)

4. Puasa

Islam mewajibkan mengajari anak-anak untuk shalat sejak umur 7 sampai 10 tahun. Sementara, urusan berpuasa lebih berat dibandingkan dengan shalat. Akan tetapi, bagi anak-anak yang malas makan, kadang- kadang menjalankan puasa akan lebih mudah baginya daripada melaksanakan shalat. Sebaliknya, kita juga akan menemukan permasalahan lain pada anak-anak yang suka makan. Oleh sebab itu, di antara kewajiban kita adalah mengajarkan kepada mereka hadist Rasulullah s “Kami adalah kaum yang tidak akan makan sampai kami merasa lapar dan apabila kami makan tidak sampai kenyang.”

Kita bantu mereka agar bisa merealisasikan isi hadits di atas sebagai bentuk pelaksanaan sunnah Rasulullah yang bisa menjadi pengantar mempermudah pendidikan puasa secara perlahan-lahan, serta sebagai usaha menjaga mereka dari baragam penyakit yang rawan menimpa mereka di masa mendatang.

Pada umumnya, melatih mereka untuk berpuasa harus dilakukan secara bertahap serta memperhatikan kondisi kesehatan anak. Pada tiap bulan Ramadhan, seorang anak akan melihat kedua orang tuanya, orang- orang dewasa dari karib kerabat, para tetangga berpuasa. Dari situlah, anak-anak akan termotivasi dan merasa senang guru-gurunya untuk mencontoh mereka. Oleh karena itu, kita harus membantu mereka melakukan hal ini dan manfaatkan kesempatan ini dengan memberi motivasi. Misalnya, kita biarkan mereka berpuasa selama dua jam, kemudian kita tambah jamnya sesuai dengan kemampuan anak. Jika dia ingin makan, kita biarkan, sehingga dia merasa bahwa masalah itu hanya berlaku baginya dan menganggap masalah tersebut merupakan hubungan antara dia dengan Allah.

Sekali-kali, janganlah kita merasa khawatir kalau mereka akan menjadi lemah atau kurus. Bulan Ramadhan ibarat minyak wangi yang menguap dengan segera. Begitu pula anak kecil, jika dia merasa lapar sekali maka di hadapannya hanya ada dua pilihan:

Pertama: Dia akan makan karena belum terbiasa menahan lapar, sehingga kita tidak perlu resah karenanya. Berusaha menahan lapar dan bermujahadah diri. Dengan demikian dia akan terbiasa dengan hal itu, yakni terbiasa

Kedua: mengendalikan diri dan bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Dan kita pun akan semakin merasa tenang karenanya. Jangan lupa memberi penghargaan ketika dia berhasil melaksanakan puasa selama hari-hari yang telah kita tentukan baginya, Hal itu misalnya dengan cara menambah uang saku, atau seorang ibu bilang padanya, “Saya bangga denganmu nak, sekarang engkau sudah seperti orang dewasa, mampu mengendalikan diri dan menahan rasa lapar dan haus.”

Bila bulan Ramadhan jatuh pada hari-hari sekolah anak, maka bagi anak yang masih dalam masa latihan untuk memilih antara melaksanakan puasa selama dia masuk sekolah kemudian tidak puasa ketika sudah libur, atau sebaliknya, sehingga dia bisa puasa satu hari penuh. Ada juga sebagian sekolah yang mengurangi jam sekolahnya dua jam, dan ada juga yang meliburkan sekolahnya selama puasa Ramadhan.

Perlu kita ingat, bahwa masa depan anak yang sebenarnya adalah di akhirat. Oleh sebab itu, kita harus mempersiapkannya mencapai kesuksesan di sana dengan sebaik-baik persiapan. Hendaknya, ketakutan kita atas ketidaktaatan kepada Allah harus lebih besar dibandingkan ketakutan kita terhadap kelemahan atau kekurangan mereka mengikuti pelajaran sekolah.

5. Haji

Di antara yang bisa membantu mempersiapkan jiwa anak menyenangi dan merindukan kewajiban haji adalah dengan mengajaknya berumrah, setelah kita berbicara panjang lebar tentang haru birunya perasaan kaum muslimin di sana. Betapa dermawannya Allah kepada para tamu- tamu-Nya, betapa hangat sambutan-Nya kepada para utusan-Nya, juga rahmat-Nya yang mengelilingi Ka’bah dan tempat-tempat yang mustajab doanya, serta keutamaan dan manisnya berziarah ke makam Rasulullah dan menetap di Raudhah Ash-Syarifah. Yang lebih penting dari itu, hendaknya seorang anak bisa merasakan kerinduan kedua orang-tuanya dengan perjalanan ini, bisa mendengar keduanya berbicara masalah ini dan persiapan keduanya untuk menziarahinya dengan suka cita. Selanjutnya, mungkin kita bisa menyampaikan kepada mereka bahwa haji adalah suatu gambaran kewajiban yang lebih besar dari umrah, dan merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimah sekali seumur hidup bagi yang mampu, baligh dan berakal.

Yang dimaksud mampu di sini adalah mampu dari sisi harta, kesehatan dan keamanan perjalanan menuju haji. Sebagaimana sabda Rasulullah s, haji dan umrah bisa menghapus kefakiran dan dosa. Dalam masalah ini Syaikh Sya’rawi mengatakan, “Tidak sepantasnya seorang muslim yang hidup dalam kemewahan dan kesenangan, kemudian mengatakan, ‘Saya tidak mampu dari segi saya (Mutawalli Sya’rawi) menjelaskan, “Yang dimaksud mampu dari segi materi adalah Anda memiliki banyak harta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Jika kamu memiliki kulkas misalnya, maka kamu wajib menjualnya dan uangnya ditabung untuk haji’.” Kami juga ingin mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya orang yang telah bermiat untuk taat kepada Allah, pasti Allah akan membantu- materi sehingga saya tidak wajib haji.’ Bagi orang-orang semacam itu, nya dengan kekuasaan-Nya. Namun, barang siapa yang bermalas- malasan dan pelit, maka Allah meninggalkan dia untuk berusaha sendiri.” walau hanya seratus perak setiap hari dengan niat melaksanakan ibadah haji atau untuk umrah, niscaya Allah akan memberkahi harta ini dan menambahinya, sehingga cukup untuk menunaikanya sesuai dengan kekuasaan-Nya. Mahasuci Allah dengan firmannya: Pengalaman membuktikan, bahwa orang yang menyimpan uangnya “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (Ath- Thalâq: 5).

Pemikiran-pemikiran seperti ini harus selalu kita perdengarkan kepada anak-anak kita. Kita juga perlu sampaikan dan ceritakan hal ini kepada orang lain, sehingga masalah tersebut mengakar kuat dalam akal pikiran mereka terdalam. Agar mereka tumbuh besar di atas motivasi tersebut, hingga mampu menjadi muslim yang sejati.

Kedua, Islam sebagai pedoman dan tingkah laku

Pada masa ini, memungkinkan bagi kita mengajari anak-anak etika- etika dan tingkah laku islami melalui film-film di video.” Hendaknya juga, kita mulai mengajari berdzikir sewaktu pagi dengan mengucapkan: “Kita dan segala kekuasaan yang ada bisa berpagi-pagi karena (karunia) Allah. Segala puji bagi Allah”. Ketika sore, mengucapkan: “Kita dan segala kekuasaan yang ada bisa bersore-sore karena (karunia)Allah.”

“Segala puji bagi Allah dan Saya berlindung dari kejelekan makhluk melalui kalimat-kalimat Allah yang sempurna. Mengajari mereka membaca “Basmalah” setiap ingin memulai pekerjaan, lalu menutupnya dengan “Hamdalah” hendaknya kita lakukan. Selain itu, mengajari pula membaca doa ketika masuk dan keluar kamar mandi, membaca ayat kursi sebelum tidur sebagaimana hadist : “Jika kalian hendak tidur, bacalah Ayat Kursi, niscaya Allah akan selalu menjagamu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi menjelang.” (HR. Al-Bukhari).

Kita juga harus mendorong mereka selalu taat kepada Allah. Di samping bermain dan olah raga, kita juga perlu memberitahunya bahwa Rasulullah ss juga pernah berlomba dengan Sayyidah Aisyah yang gaat itu Sayyidah Aisyah masih kecil. Beliau juga menyuruh anak-anak para sahabat dengan sabdanya, “Belajarlah memanah, karena sesungguhnya bapak kalian adalah seorang pemanah.”

Kemudian juga mengadakan perlombaan yang bermacam-macam di antara meraka. Umar bin Al-Khaththab berkata, “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda.” Hal yang bisa membantu orang tua bersabar dan tabah dalam membiasakan anak-anaknya bermain dan berolah raga, adalah hendaknya hal itu diniatkan dalam rangka mendidik generasi muslim yang sehat jasmani dan rohaninya serta menyenangkan hati anak-anaknya, sehingga mampu mengurangi rasa capek. Keduanya akan memperoleh pahala dan balasan dari Allah-insya Allah.

About admin

Check Also

lightning and tornado hitting village

Saat Kemarau, Hujan, dan Badai

Dari Anas bin Malik, beliau menceritakan: Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at melalui …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *