Home / Covid-19 / KITA DAN CORONA

KITA DAN CORONA

Flashback rutinitas setiap hari, berkutat dengan agenda tetap. Berangkat ke sekolah atau kantor dengan awalan menyiapkan rangkaiannya; setrika baju kerja, memasak bekal keluarga, menyiapkan properti kerja, plus meningalkan rumah dalam kondisi yang menyenangkan untuk ditatap ketika pulang kembali ke rumah setelah menumpuk lelah aktivitas seharian di luar rumah.

Untuk yang profesinya pure ibu rumah tangga, kegiatan hariannya berputar di rumah; membersihkan atau pattasak (bahasa Makassar), menyapu, mengepel, mencuci pakaian menggunakan fasilitas mesin atau manual, menunggui tukang sayur lewat, memasak menu kesukaan suami dan anak-anak, dan seterusnya. Tanpa pernah mengenal kata ‘bosan’, IRT juara di sisi ini. Dengan segenap keahlian bak master chef profesional, semua bisa diolah menjadi menu yang lezat. Menjamak pekerjaan juga menjadi bagian dari multitaskingnya IRT.

Untuk muslimah yang berprofesi ganda, over all it’s all about berakhir di pekerjaan yang serupa tapi tak sama. Mengerjakan profesi sebagai IRT merupakan kewajiban yang tak lekang oleh waktu plus menjadi pegawai dengan beban kerja paten dari kantor. Misal, seorang yang berprofesi sebagai guru, tuntutannya tidak hanya sekedar menuntaskan kompetensi Kriteria Ketuntasan Minimal siswa-siswanya tetapi pula, ada ketuntasan di atas rata-rata yang harus tuntas, yakni rumah yang bersih, pakaian yang sdh rapi di lemari, dan makanan yang tersedia serta hidung anak-anaknya yang harus tandas dari efek influenza yang berkepanjangan.

But now, something happening in this way, CORONA or COVID-19. Yang sebelumnya, hanya menjadi bahan tontonan di media sosial. Bagaimana warga kota Wuhan di Cina yang tumbang satu persatu di jalan-jalan poros kota yang hingga akhirnya Wuhan berubah menjadi kota mati tanpa aktivitas

Namun, nyali kita ternyata belum ada apa-apanya. kita seolah berada di negeri awan hingga tak merasa bahwa musibah itu akan menimpa siapa saja selama ia masih bernyawa. Mimpi buruk warga Wuhan menjadi nyata di Indonesia. Kini, ada kita dan corona.

Dua puluh satu hari stay at home have to be dan hal yang tak pernah terbayangkan kita berada di posisi tinggal di rumah, exactly. Jika saat sibuk, kita pernah mengeluh dengan beban kerja yang kita anggap semena-mena, maka saat ini Allah berikan kita hikmah dari keluhan itu.

No judge me, jika sebenarnya keimanan kita sedang diuji. Di titik mana kita berangkat dan di titik mana kita akan berakhir. Jika anda seorang ayah, ingatlah bahwa momen ini pernah diminta oleh anak-anak untuk lebih dekat dengan sang ayah, figur kekuatan seorang khalifah masa depan, wibawa yang tercermin melalui pribadi yang tangguh dan tidak cengeng.

Jika anda seorang ibu, mungkin pernah ada tangan bocah-bocah cilik kita, memohon kepada Allah untuk mengembalikan dekapan sang bunda yang mereka pernah rasakan di awal kehidupan di muka bumi. Satu nafas satu irama detak jantung dalam rahim ibu. Belaian lembut yang tak pernah sama rasakan dengan siapapun dan takkan terganti oleh apapun.

Dan, corona telah menyibak tabir hikmah dari Sang Rabb.
QS. Al Ankabut: 2
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

QS. Al Fajr: 15-16
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (15) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“

Hadits dari sahabat Anas radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِلْمُؤْمِنِ !! لَا يَقْضِي اللَّهُ لَهُ شَيْئًا إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan seorang mukmin. Tidaklah Allah menetapkan kepadanya sesuatu kecuali itu merupakan kebaikan baginya” (H.R Ahmad).

Hadits dari Suhaib bin Sinan radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ !! إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Segala sesuatu yang terjadi padanya semua merupakan kebaikan. Ini terjadi hanya pada orang mukmin. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan dia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya” (H.R Muslim).

Bagi seorang mukmin, telah menyiapkan diri untuk dua kondisi tersebut. Kondisi senang dan susah. Dan kedua kondisi tersebut memiliki kebaikan baginya dan Allah tidak menyia-nyiakan hambaNya. Senantiasa mengedepankan sangkaan baik kepada Allah, bahwa di setiap ujian pasti ada hikmahnya. Mengetahui sebab-sebab terjadinya ujian, bahwa salah satunya diakibatkan amar ma’ruf nahi mungkar yang cenderung diabaikan. Dan memuhasabah pribadi masing-masing, bahwa kedekatan kita kepada Allah mesti ditambah frekuensinya.

Untukmu para guru, rekan-rekan seprofesi, yang saat ini menjadi guru segala penjuru; guru anak, guru siswa, dan guru ummat. Pertebal taqarrub kepada Allah, ikhlaslah dalam mengguru, dan istiqomahlah dalam amanah ini. Berharap, menjadi wasilah kita memasuki syurga Allah yang menjadi tujuan kita menjadi pendidik. Pengorbanan yang kita berikan, semoga terbalas dengan kebaikan dunia dan akhirat. Doakan anak didik kita, semoga mereka terjaga dalam kebaikan seperti bekal yang telah kita titipkan saat bersekolah.

At the end, 19 hari menuju Ramadhan yang suci. Seperti ada yang hilang dalam diri, ruh ramadhan yang menyejukkan setiap sendi-sendi peribadatan kita. Ada masjid yang tak seramai dulu, kini ia sunyi tanpa jama’ah, ada riuhan anak-anak menanti buka puasa bersama, ada i’tikaf yang menghapus kegalauan akan penatnya dunia, dan ada sholat idul fitri yang menguatkan ukhuwah.

الَلهمَ بلَغنا رمضان
“Ya Allah Sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”

Gowa, kosongtujuh aprilio 20
Diriku yang dhaif

Ustadzah Harnida,S.Pd Wali Kelas 6A1

About admin

Check Also

Peran Orang Tua Saat Anak Belajar di Rumah

 Saat ini di Indonesia telah mewabah virus Covid -19 atau biasa disebut virus Corona.Virus yang …

2 comments

  1. Muchtadyn Abdul Aziz

    Masya Allah tulisan yang bagus

  2. Muchtadyn Abdul Aziz

    Sangat inspiratif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *