Home / Covid-19 / BE HOMY AT HOME

BE HOMY AT HOME

Stay at home, jargon yang diistilahkan oleh netizen di media sosial menyikapi himbauan ulama dan pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas di luar rumah selama masa wabah covid-19 merebak. Sekolah-sekolah diliburkan sejak beberapa pekan lalu, pegawai instansi bekerja dari rumah (work from home), orang tua menjadi guru untuk anak yang menjadi homeschooler, dan guru yang biasanya mengajar di kelas berakhir duduk di depan laptop sepanjang jadwal belajar online; mengontrol, menyimak bacaan alquran, mengoreksi, memeriksa tugas, dll.

Aktivitas yang sebelumnya berjalan sesuai profesi masing-masing, ibu rumah tangga yang stay at home every day, pegawai yang ke kantor, guru yang mengajar, anak-anak yang ke sekolah saat ini harus ‘dirumahkan’ untuk kemaslahatan bersama meski dengan konsekuensi semua perangkat kerja dialihkan ke rumah. Nowadays, rumah dan kantor itu tidak beda jauh. Hanya beda pada pakaian yang bebas untuk dikenakan dan tidak mesti finger lock untuk presensi.

Namun, sejenuh-jenuhnya kita dengan rutinitas profesi ternyata jenuh tonjaki berada di rumah. Empat belas hari berada di rumah serasa sudah bikin kita kenyang dengan hawa dan suasana rumah. Ditambah lagi dengan tugas mendampingi anak dengan belajar onlinenya. Entah itu ibu dengan tiga anak usia sekolah, pun dengan ibu dengan satu anak usia PAUD juga sama ribetnya.

Kenyataannya, selama ini kita terbantu dengan sekolah dan kantor. Secara tidak langsung, kita menitipkan anak-anak kita kepada gurunya di sekolah sambil kita menyelesaikan tugas di rumah bagi ibu yang profesinya ibu rumah tangga. Apalagi untuk orang tua yang kerja full time, ayah dan ibu berada di kantor, meninggalkan rumah di pagi hari sekeluarga, anak-anak didrop di depan gerbang sekolah disambut senyum satpam sekolah, hingga jam sekolah fullday berakhir seiring senja menjemput malam, kita menjemput anak-anak kita di tempat yang sama masih dengan iringan senyum dari satpam pagi tadi.

So, what we will do today? And how?

Apa yang kita alami saat ini adalah dialami pula oleh semua orang yang berada disituasi yang sama dengan diri kita. Bukan hanya diri kita saja yang sedang ribet, repot, jenuh, lelah, dan efek-efek stay at home lainnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidaklah membebani seorang hamba melebihin batas kemampuannya. Berarti ujian yang kita dapatkan saat ini adalah ujian yang mampu kita selesaikan insyaallah meski membutuhkan waktu yang berbeda-beda dan penyikapan yang berbeda pula. Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mengajarkan kita doa agar yang patut kita panjatkan saat kondisi kita terasa berat dalam menghadapi ujian.

Berikut tips-tips yang bisa kita lakukan selama masa social distancing:

  • Ikhlaskan niat dalam menjalani rutinitas saat ini. Misalnya, ibu yang harus jadi guru di rumah, harus kejar setoran tugas dari guru plus urusan rumah yang tetap harus dituntaskan. Amalan yang dilandasi keikhlasan karena ingin mendapatkan keridhoan Allah, meski bebannya segunung uhud, insyaallah akan terasa ringan. Allah subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah Al An’am:162,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

  • Jalin komunikasi yang baik antara keluarga terutama pasangan. Kesolidan dengan pasangan sangat dibutuhkan dalam kondisi sulit. Mendampingi anak bukan hanya tugas ibu tetapi ayah pun berperan besar dalam hal tersebut.
  • Buatkan pembagian job yang disepakati bersama keluarga. Sholat berjamaah diimami oleh ayah, seluruh anggota keluarga memiliki tugas membersihkan rumah, membentuk kebiasaan anak dengan memberikan tanggung jawab di area pribadinya, dan seterusnya.
  • Sharing bersama guru mengenai solusi yang terbaik dan wasath (pertengahan) jika mengalami kendala mengajari anak yang tidak hanya satu. Misalnya, setoran hafalan alquran, mengaji dan ilmu khas lainnya yang notabene orang tua tidak punya modal sama sekali. Jangan cenderung lose control dengan menyalahkan satu pihak sebab tidak ada yang menginginkan situasi saat ini. Berkahnya ilmu itu ada pada kesabaran kita menjalani prosesnya bukan hanya gembira atau kecewa pada hasilnya.
  • Bijak berkomunitas. Media sosial memiliki efek yang positif dan negatif, namun tergantung pada diri kita sejauh mana yang ingin kita ambil. Orang yang bijak dan berilmu tentunya memiliki filter dalam dirinya yang hal tersebut tidak lepas dari hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Misalnya, bergabung dalam grup komunitas. Gunakan komunitas tersebut untuk menemukan nilai-nilai positif dari keadaan yang dialami oleh rekan sekomunitas. Bahkan, lebih baik lagi jika mampu memberikan solusi. Jangan malah memperkeruh masalah orang lain. Tentunya kita ingin, saudara kita lepas dari problemnya sama seperti diri kita ketika punya problem.
  • Perbanyak doa kepada Allah Subhanahu W Ta’ala agar diberi kekuatan, kesabaran, dan keistiqomahan dalam menjalani ujian ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah Al Baqarah: 186,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Panjatkan doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan bertaubatlah dari segala kekhilafan yang kita lakukan. Perbaiki hubungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Khusyukkan dan murnikan ibadah kita hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga Allah segera mengangkat wabah ini dan menjadikan rumah kita selayaknya aura syurgawi.  BE HOMY AT HOME. Wallahu waliyuttaufiq. Semoga bermanfaat.

Gowa, 090420

About admin

Check Also

Pembelajaran Digital, Why Not?

Hakikatnya pembelajaran digital bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan. Sistem pembelajaran ini sudah di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *