Home / Covid-19 / Guru dan Si Covid Satu Sembilan

Guru dan Si Covid Satu Sembilan

Stay at home adalah satu bentuk langkah kebijakan bersama dalam rangka memutus jaringan penyebaran virus Corona-19. Sholat berjamaah di Masjid ditiadakan. Bahkan sebagian tempat perbelanjaan ditutup.

Tidak hanya itu, terdengar wacana akan ada pembatasan ataupun penutupan akses transportasi udara, laut, maupun darat.

Tahukah anda? Kebijakan bersama ini membuat sebagian masyarakat tale’-talekang alias tidak memperindah ajakan MUI dan Pemerintah. Entah karena gagal paham atau kekhawatiran akan kehidupan diri dan keluarganya disepanjang masa lockdown. Entahlah.

Di sudut kota Daeng, kita masih melihat keramaian dan kerumunan manusia disepanjang badan jalan dan kompleks perumahan.  Ada yang menjajakan dagangannya. Ada yang mengantar pesanan. Ada yang mencari penumpang. Dan sebagian hanya sebagai pengisi waktu menghilangkan rasa penat berada di rumah.

Disatu sisi, masyarakat dituntut untuk tetap di rumah, sebagaimana arahan  MUI dan Pemerintah. Namun, disisi lain, sebagian dari mereka terpaksa keluar berjuang melawan peliknya Corona – 19 demi sesuap nasi penyambung hidup bagi diri dan keluarganya.

Mungkin para pembaca bertanya. Bukankah  semua adalah tanggung jawab pemerintah? Yuk, lihat dua poin berikut ini.

  1. Selama dalam karantina wilayah, kebutuhan dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat.
  2. Tanggung jawab Pemerintah Pusat dalam penyelenggaraan karantina wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan melibatkan Pemerintah Daerah dan pihak yang terkait.

*****

Menoleh ke sudut lain,  di sana ada sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka tak kenal peluh dan lelah. Hujan deras dan teriknya sinar matahari, tak menghambat mereka bersua dengan kumpulan manusia harapan masa depan.

Kini, mereka terpaksa bertekuk lutut memaknai kebijakan pemerintah. Melawan cita dan semangat. Mengajarkan  ilmu kepada murid-muridnya. Dengan cara apa mereka mengajar? Ya, Stay at Home.

Dua pekan telah berlalu, sang Guru mengajar dari sudut ruang tanpa wajah-wajah imut yang menjadi tatapannya. Generasi harapan itu kini siap menerima pelajaran di sudut-sudut rumah mereka.  Pembelajaran daring yang lebih dikenal dengan sebutan belajar Online. Sebuah pembelajaran jarak jauh.

Sungguh besar Maha Kuasa-Mu. Makhluk kecil si Covid-19, Engkau hadirkan untuk membangunkan kami yang lalai. Mengingatkan kami yang luput. Kami yang tak pandai bersyukur atas nikmat-Mu.

Sungguh,
Menjadi guru adalah nikmat luar biasa.
Kemuliaan begitu tinggi baginya.
Jasanya tak terukir, namun terbawa waktu sepanjang zaman.

Guru adalah kemuliaan dan keagungan tiada tara.
Baginya mengalir amalan tiada putus.
Wahai Zat yang jiwa dan ragaku ada ditangan-Mu
Kokohkanlah jiwa dan raga ini sebagai penyambung lidah kebaikan.
Kobarkanlah semangat islah dalam kehidupan fana ini.

Bimbinglah kami mencetak generasi harapan masa depan.
Angkatlah si Covid Satu Sembilan dari muka bumi ini.

Aamiin

? Penulis: Ustadz Adam Nasaruddin Hafizhahullah
Kepala Standar Manajemen Mutu SDIT Wahdah Islamiyah 01

About GZ

Check Also

Pembelajaran Digital, Why Not?

Hakikatnya pembelajaran digital bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan. Sistem pembelajaran ini sudah di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *