Home / Parenting / Menanamkan Cinta Kepada Allah dalam Hati Anak

Menanamkan Cinta Kepada Allah dalam Hati Anak

Cinta kepada Allah lebih dari segalanya, lebih dari rasa cintanya kepada diri sendiri, dan kedua orang tua. Anak merupakan pondasi yang paling mendasar bagi terbentuknya sebuah bangunan masyarakat. Dapat diibaratkan anak merupakan bibit tumbuhnya suatu pohon generasi yang besar, yang darinya akan tumbuh cabang dan ranting-rantingnya. Jika selama ini kita memperhatikan kesehatan fisiknya, kita mesti juga berikan perhatian pada lurusnya cara berpikir dan cara pandangnya.

Berikut ini adalah cara mengajari anak-anak kita yang ada di fase diantara usia 7 sampai 10 tahun yang diambil dalam potongan buku Pendidikan Cinta untuk Anak, Bagaimana Menanamkan Kecintaan kepada Allah, Rasul, Islam dan Hijab karya DR. Amani Ar-Ramadi (Dosen Universitas Kairo, Mesir.

Fase di usia 7 sampai 10 tahun ini merupakan fase usia yang paling penting. Karenanya, kita tidak boleh menganggap remeh. Sebab, pada fase ini, akal dan daya nalar sang anak mulai terbuka dengan baik. Pada usia ini dia sangat membutuhkan agar kita dapat dengannya seperti teman. Dari sini, kita tanamkan ke dalam jiwanya pengetahuan tentang ibadah kepada Allah secara mendalam. Kalau kita mendapat hadiah, umpamanya, lalu dia katakan “Terimakasih”, kita ingatkan bahwa Allah juga berhak mendapatkan ucapan “Terima kasih.” Dia-lah pemberi pertama. Kita katakan padanya, “Bagaimana dengan dua matamu, apakah hadiah sangat berharga bagimu? Apakah mungkin bisa diganti dengan harta simpanan dunia?” Begitu juga dengan kedua telinga, lidah dan panca indra lainnya. Dari situ diharapkan tertanam pada jiwanya perasaan sang anak betapa pentingnya panca indra. Kita lontarkan selanjutnya pertanyaannya, “Siapa yang memberi panca indra ini kepada kita untuk memuliakan kita? Apa jadinya hidup ini kalau seandainya Dia tidak memberikanya kepada kita? Tidak ada yang bisa memberikannya selain Allah. Karena itu, kita harus mensyukuri panca indera yang diberikan kepada kita yang merupakan hadiah berharga setelah nikmat iman.”

Yang tidak boleh dilupakan adalah membuat pijakan-pijakan metode pendidikan yang bisa dipilih anak untuk menumbuhkan minat bacanya. Juga memberikan hadiah berupa cerita, ensiklopedi ringan, buku yang bermanfaat dan majalah yang menarik sebagai ganti dari kue-kue. Namun sebelum kita membelikan apa yang akan ia terlebih dahulu, terlebih dahulu teliti kita dengan baik. Kita harus menghindari majalah “Mickey”, “Superman”, “Bobo” dan majalah-majalah semisalnya yang bercerita tentang budaya Barat, dan memindahkan kebiasaan mereka kepada kita, yang pada akhirnya dapat memberi pengaruh negatif kepada anak-anak kita. Kita beli majalah alternatif seperti majalah “Majid” dan majalah “Salam dan Pahlawan Kebaikan” yang diterbitkan di Emirat Arab, majalah “Bulbul” yang diterbitkan oleh Yayasan Akhbarul Yaum di Kairo ataupun majalah-majalah terbitan Indonesia seperti Majalah Anak Bilal, dan lainya. Majalah- majalah ini menanamkan nilai-nilai agama dan moralitas pada diri anak secara halus dan masukan serta memberikan imunitas pendidikan dan pengetahuan, kita bisa juga menemaninya ke toko-toko buku yang kita tahu betul bahwa buku-buku yang ada di toko itu baik, lalu kita biarkan dia memilih sendiri. Patut juga kita ceritakan kepada mereka , cerita Nabi Yahya dalam usia ini kepada anak sekolah menjadi contoh baginya.

Teladan Nabi Yahya

“Nabi Yahya mempunyai prestasi yang luar biasa dalam hal ibadah, kezuhudan, dan kecintaan kepada Allah. Demikian pula kecintaarunya kepada semua makhluk; manusia, burung-bunung, binatang buas, gurun pasir dan gunung-gunung. Sampai-sampai darahnya tumpah karena kebenaran yang dia sampaikan di hadapan raja yang dzalim. Banyak ulama menyebutkan kelebihan Nabi Yahya dengan mengemukakan berbagai contoh Nabi Yahya hidup semasa dengan Isa, dan masih kerabat dari pihak ibunya (anak bibi ibunya).

Sebuah hadits meriwayatkan bahwa Yahya dan Isa pernah bertemu pada Suatu hari. Isa berkata pada Yahya, “Minta ampunlah kepada Allah untukku, hai Yahya, karena engkau lebih baik sama akul! Minta ampunlah engkau untukku, wahai Isa. Sebab, engkau lebih baik anakku!”Selanjutnya Nabi Isa berkata,“Justru engkau lebih baik dariku, engkau mengucap salam padaku dan Allah mengucapkan salam padamu”. Kisah ini menunjukkan kemuliaan Nabi Yahya ketika Allah memberi salam di atasnya di saat lahir, mati dan saat dibangkitkan kembali.

Dikatakan bahwa pada suatu hari, Rasulullah pernah menemui para shahabatnya yang sedang menyebut-nyebut keutamaan- keutamaan para nabi-nabi. Ada yang berkata, “Musa adalah Kalimullah (Nabi yang diajak bicara Allah).” Yang lain berkata, “Isa adalah Ruh Allah dan Kalimat-Nya”. Ada lagi yang berkata,“Ibrahim adalah Khalilullah (Kekasih Allah)“. Demikianlah, para shahabat terus membicarakan tentang para nabi-nabi. Tiba-tiba Rasulullah ikut nimbrung ketika melihat mereka tidak menyebutkan tentang Nabi Yahya beliau bersabda. “Lalu di mana syahid anak dari orang yang juga syahid? Memakai bulu domba yang memakan kayu-kayuan karena takut dosa, di mana Yahya bin Zakaria.” Kelahirannya sungguh merupakan mukjizat. Allah telah mengaruniakannya kepada Zakaria setelah dia tua renta, hampir putus asa untuk mendapatkan keturunan. Dia lahir setelah Nabi Zakaria memanjatkan doa yang tulus dengan hati bergetar.

Masa kecil Nabi Yahya berbeda dengan anak-anak yang lain, Kebanyakan anak-anak sangat senang bermain-main, sementara Nabi Yahya sangat serius sepanjang waktu. Sebagian anak sangat mencari hiburan yang menyediakan binatang untuk sementara Yahya memberi makan binatang dan burung dari makanannya sendiri. Karena kasih sayang dan kelemah-lembutannya, sampai-sampai dia sendiri kepada mereka sendiri kehabisan makanan dan hanya memakan daun-daun kayu atau buahnya.

Semakin bertambah usianya, semakin bertambahlah cahaya di wajahnya. Hatinya dipenuhi dengan hikmah, kecintaan kepada Allah, pengetahuan, dan ketentraman. Yahya sudah terbiasa membaca dan mempelajari ilmu sejak kecilnya. Ketika dia masih kecil Allah telah menyerunya: “Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) dengan sungguh-sungguh. “Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak.” (Maryam: 12).

Telah turun perintah kepada Yahya untuk “mengambil” kitab (Taurat), padahal dia masih sangat kecil. Maksud dari “mengambil” adalah mempelajari kitab dengan hukum-hukumnya, yaitu kitab syariat (Taurat). Allah juga telah mengkaruniakan pengetahuan tentang ajaran-ajaran syari’at dan kemampuan untuk memutuskan perkara (hakim) di tengah-tengah masyarakat di saat dia masih kanak-kanak. Dia adalah manusia yang paling tahu dan bijaksana di masarnya mengenai masalah syariat secara sempurna.

Karena itu, Allah memberikan padanya hikmah selagi dia masih kanak-kanak. Pada masa itu dia telah memutuskan perkara di manusia, dia juga menjelaskan kepada mereka rahasia-rahasia agama dan mengajari mereka tentang jalan yang benar-benar mengingatkan mereka tentang jalan yang salah. Semakin besar Yahya, semakin bertambah ilmu, kasih sayang dan dinta kasihnya kepada kedua orang tua, manusia dan semua makhluk, burung dan pepohonan sehingga rahmat dan kasih menyebar ke penjuru dunia. Dia mengajak manusia untuk bertaubat dari segala dosa-dosanya dan dia memohonkan kepada Allah bagi mereka. Tidak ada seorangpun yang tidak menjalankan atau yang ingin mencelakakannya. Dia sangat membantu karena kasih sayang, kecerdasan, ketakwaan, ilmu dan kemuliaannya. Semuanya membuat Yahya bertambah rajin dalam beribadah.

Apabila Yahya sedang berdiri ditengah-tengah manusia untuk menyeru mereka kepada Allah, dia membuat mereka menangis karena kecintaan dan kekhusyukannya. Dia bisa mempengaruhi perasaan mereka dengan nasihat-nasehat yang baik. Pagi pun menjelang. Yahya keluar ke masjid yang sudah dibanjiri manusia. Lalu Yahya bin Zakaria berdiri dan memulai ceramahunya seraya berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk mengamalkan beberapa perintah-Nya dan aku menyuruh kalian untuk mengerjakannya juga. Hendaklah kalian menyembah Allah Yang Esa tanpa ada sekutu. Barangsiapa yang menyekutukan Allah dan menyembah-Nya Dia seperti hamba (budak) yang dibeli tuannya lalu pergi bekerja dan memberikan gaji kepada tuan yang lain. Siapa di antara kamu yang senang melihat hamba (budak) nya budak seperti itu? Aku juga memerintahkan kalian untuk mengatur shalat karena Allah memperhatikan kepada hambaNya yang sedang shalat, selama tidak berpaling dari shalatnya. Oleh karena itu, berlaku khusyuklah bersama kalian sedang shalat. Aku juga menyuruh kalian untuk berpuasa, karena yang demikian itu laksana seorang laki-laki yang mempunyai bungkusan minyak kesturi yang harum sekali baunya yang bersama kalian setiap kali laki -laki ini berjalan, semerbaklah bau harum dari minyaknya merintahkan kalian untuk banyak berdzikir kepada Allah, karena demikian itu laksana seorang laki-laki yang sudah diincar oleh musuhnya, lalu dia cepat-cepat membangun bentengnya dan menguncinya. Sedangkan benteng yang paling kokoh adalah dzikrullah dan tidak ada keselamatan tanpa benteng ini.”

Sementara kepada anak-anak perempuan, kita menceritakan kisah sayyidatuna Maryam dan bagaimana dia bisa menjadi wanita ahli ibadah. Juga bagaimana dia bisa sukses dalam menghadapi cobaan yang sangat berat, serta bagaimana Allah menyelamatkanya.

Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita dalam membangun rasa cinta anak-anak kepada Allah. Kita berharap di dunia dan akhirat, insyaAllah.

oleh Munawir Taufik

About admin

Check Also

two kids playing beside glass windows

Jadilah Guru Keluarga [1]

Dalam pandangan Islam, pendidikan anak pada dasarnya menjadi tanggung jawab orang tuanya, bukan tanggung jawab …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *