Home / artikel / Belajar dan Mengajar

Belajar dan Mengajar

Teknologi dan pendidikan adalah dual hal yang sepertinya sulit dipisahkan di zaman sekarang. Mengingat kedua hal tersebut, terus mengalami perkembangan dari zaman ke zaman.

Seperti halnya dalam belajar dan mengajar. Dua proses yang berbeda. Namun, senantiasa beriringan melangkah ke depan mengikuti perkembangan modernisasi.

Sebagai seorang guru, salah satu kewajibannya adalah mengajar. Yakinlah, tidak ada guru yang tidak bisa mengajar. Kuliah bertahun-tahun dan meraih sarjana pendidikan, adalah bukti nyata bahwa mereka mampu mengajar.

Tapi, yang menjadi pembeda adalah tingkat keberhasilan mengajar di hati peserta didik. Mungkin saja, ada guru yang cara mengajarnya datar. Ada guru yang saat mengajar, senantiasa mengajak siswa berinteraksi dengan alam. Bahkan, ada guru dalam setiap pembelajarannya, tidak lepas dari sentuhan teknologi.

Pada intinya adalah, semakin kreatif guru dalam mengelola pembelajaran, sehingga menjadikan peserta didik aktif dalam belajar, menikmati proses belajar, memahami konsep pembelajaran, dan berkesan di hati mereka. Maka inilah tipe guru yang dirindukan oleh peserta didik.

Tapi, pertanyaannya adalah, bagaimana caranya agar guru dapat kreatif dalam mengajar? Jawabannya cuma tiga. Belajar, belajar, dan terus belajar.

Guru merupakan makhluk pembelajar yang dalam kesehariannya, tidak boleh berhenti untuk belajar dan mengembangkan potensi dalam dirinya.

Namun, sungguh ironis. Ada di antara guru yang memiliki pemahaman, yang penting kewajiban mengajar sudah gugur. Saya sudah tua, biarlah guru muda yang belajar. Bahkan, lebih parahnya lagi, apabila seorang guru yang tumbuh berkembang di zaman milenial, namun enggan mempelajari hal-hal baru terkait dunia pendidikan. Merasa acuh dalam mengembangkan soft skill mengajarnya. Inilah dinamakan musibah di atas musibah.

Saya teringat seorang guru yang telah tua, namun begitu bersemangat mengikuti pelatihan AjarMat. Beliau salah seorang Kepala Sekolah Negeri di kota Makasar.

Tanpa canggung, beliau berbaur dengan guru-guru yang masih muda. Bahkan aktif saat pelatihan berlangsung. Inilah aura guru pembelajar. Guru yang memiliki daya tempur yang tinggi untuk mengalahkan ego dalam dirinya.

Bayangkan saja, beliau adalah Kepala Sekolah. Sementara pemateri dan pesertanya adalah guru muda. Secara logika, bukan tempat beliau untuk berkumpul. Namun, karena niat yang besar untuk belajar, berkembang, dan kebutuhan terhadap suatu ilmu, semua jabatan yang dimiliki, ditanggalkan sejenak.

Yakinlah, semakin sering seorang guru mengikuti sebuah pelatihan, baik tatap muka maupun daring, akan meningkatkan kualitas diri seorang guru.

Hakikatnya, ilmu memanggil setiap pemiliknya untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun, jika panggilan itu tidak ditolak, ilmu akan pergi menjauh .

Sebuah nasihat indah dari seorang alim, tentang indahnya menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat.

Ketika itu Imam Ahmad rahimahullah ditanya, “Wahai Abu Abdillah, sampai kapan engkau menuntut ilmu? Padahal engkau adalah seorang alim”. Beliau menjawab, “Sampai tubuhku masuk di dalam kuburan (mati)”.

Semoga Allah memberikan kebaikan dan kemudahan bagi kita semua.

About GZ

Check Also

lightning and tornado hitting village

Saat Kemarau, Hujan, dan Badai

Dari Anas bin Malik, beliau menceritakan: Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at melalui …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *