Home / artikel / Apa Kabar Rindu?

Apa Kabar Rindu?

Pagi itu (16/10), momen indah yang Allah hadirkan pada hari yang mulia. Ibarat langit yang penuh warna bak pelangi. Kerinduan yang seolah tak bertepi, terobati dengan perjumpaan sesaat di ruang pertemuan aplikasi Zoom. Bersama anak saleh di 5A1 dan 6A3, kami menggali kedalaman makna bahasa Alquran. Syukron wa jazakumullahu khairan kepada ustaz dan ustazah, terkhusus kepada orang tua siswa yang hebat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rindu diartikan dengan dua makna:
1. sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu, contoh: ia
rindu akan kemerdekaan,
2. memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu, hendak pulang ke kampung halaman, contoh: ia rindu benar kepada anak-istrinya.

Kerinduan seorang guru kepada siswanya adalah hal yang lumrah. Bahkan sesuatu yang harus diperjuangkan untuk hadir dalam jiwa para murabbi (baca: pendidik). Inilah perasaan yang dirasakan setelah lebih kurang 6 bulan kegiatan pembelajaran dilakukan dari rumah.

Kerinduan untuk kembali menjalani rutinitas sebagai guru ataupun sebagai siswa secara normal tanpa rasa ketakutan dan kekhawatiran. Kerinduan yang membuncah sebagai komunikasi hati dalam kondisi pandemi Covid-19.

Hari ini,
Kubahasakan rindu itu walau sangat sulit,
Aku rindu dengan guruku,
Aku rindu dengan siswaku,
Aku rindu ruang penuh riuh canda dan tawa,
Aku rindu masa itu.

Hari ini, kubahasakan rindu itu walau tidaklah mudah.
Sahabat mukmin yang berbahagia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyatakan rasa rindunya di depan para sahabat untuk berjumpa dengan umatnya

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah selesai menguburkan jenazah, beliau mengatakan, “Memohonlah pertolongan kepada Allah agar diselamatkan dari azab kubur.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengatakan, “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwan (baca: saudaraku). Sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudaramu?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabatku tetapi bukan saudaraku. Saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.”

Sungguh sangat menakjubkan kerinduan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahasakan dalam riwayat Imam Muslim di atas. Kerinduan kepada saudaranya yang belum pernah beliau berjumpa dengannya walau sesaat. Umatnya yang datang setelah beliau menghadap kepada sang Ilahi. Umat yang mencintai dan beriman kepadanya padahal tak ada skenario perjumpaan dalam kisah kehidupannya.

Ikhwan. Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membahasakan umat kebanggaannya. Sudahkah kita memantaskan diri untuk menjadi umat yang dirindui Rasulullah?

Jika kita rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ikutilah perintahnya dan jauhi laranganya!

Jika kita rindu bersua dengannya, hiasilah kehidupan ini dengan sunah Nabi. Perbanyaklah bersalawat kepadanya!

Jika kita rindu berkumpul bersamanya, cintailah dia sepenuh jiwa! Cintailah orang-orang yang mencintainya. Dan bencilah orang-orang yang membencinya.

Semoga kerinduan itu di ijabah Allah. Berjumpa dengannya di telaga yang dijanjikan. Bersama menikmati Jannah-Nya dan seluruh kenikmatan di dalamnya. Amin.

Yang rindu bersua,
Nasaruddin, Lc., S.H., S.Pd.I.

Sumber Gambar: wallpapercave.com
Editor: GZ

About GZ

Check Also

basketball court

Mengenang Peristiwa Heroik 22 Oktober 1945

Hari ini mengingatkan kita pada peritiwa heroik 75 tahun silang. Perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Negara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *