Home / artikel / Andalus, Peradaban Islam yang Musnah Tak Berbekas

Andalus, Peradaban Islam yang Musnah Tak Berbekas

Mengapa Andalus Runtuh?

Pertanyaan yang menggelayuti pikiran banyak orang. Terlebih mereka yang berkesempatan menjejakkan kaki di kota-kota saksi kebesaran Islam: Algeciras, Malaga, Cordoba, Granada, Sevilla, Valencia dst. 800 tahun peradaban Islam gemilang di sana. Tapi sekarang musnah nyaris tak berbekas. Apa faktor yang menyebabkan Andalus runtuh?

Bagaimana sebuah peradaban kokoh yang melahirkan fenomena Mozarabes (al-musta’rabun) bisa sirna?

Mozarabes, mengutip kekesalan Alvaro de Cordoba, adalah mental kalah kaum Nasrani di masa kejayaan Islam di Andalus. Orang-orang Nasrani kala itu sangat menggandrungi semua yang berbau Arab atau tepatnya Islam. Mereka lebih menyukai bahasa, nama hingga pakaian Arab. Mereka begitu bersemangat mempelajari literatur Islam bukan untuk mengkritik, tapi karena suka dan terpesona. Mereka bahkan ‘nyinyir’ dengan khazanah dan budaya Nasrani karena dianggap rendah dan terbelakang.

Demikianlah seperti yang dipaparkan Angel Gonzalez Palencia, Professor Bahasa Arab di Universitas Madrid dalam karyanya, Historia de la Literatura Arabigo-Espanola (versi terjemah: Tarikh al-Fikr al-Andalusi oleh Dr Husein Mu’nis)

Peradaban adalah fenomena multi dimensi yang tidak dapat ditentukan dari satu sudut tertentu. Jatuh bangun peradaban berjalan perlahan dalam kerangka sunnatullah yang berlaku pada wilayah al-afaq dan al-anfus.

Keruntuhan Andalus tidak bisa diputus, misalnya, dari pertikaian dua bersaudara Abu al-Hasan dan al-Zughl, ayah dan paman Abu Abdillah Muhammad ash-Shaghir yang menyerahkan Granada kepada penguasa Aragon dan Castilla. Bahkan tidak pula dimulai dari sekitar 250 tahun sebelumnya. Saat Granada menjadi satu-satunya kekuatan Islam yang tersisa di Iberia.

Jika menggunakan qanun jatuh bangunnya peradaban yang disampaikan Malek Bennabi. Benih keruntuhan Andalus bisa ditarik lebih jauh, hampir 500 tahun sebelum Granada jatuh.

Dimulai dari kemunculan keluarga al-Manshur bin Abu ‘Amir di atas pentas politik Andalus setelah Khalifah al-Hakam al-Mustanshir mangkat. Secara perlahan namun pasti terjadi pergeseran orientasi dari yang disebut Bennabi ‘ad-dauran di falak al-afkar’ menjadi ‘ad-dauran di falak al-asykhash’. Ilmu dan pemikiran yang sebelumnya menjadi pusat rotasi kehidupan masyarakat bergeser kepada kepentingan pribadi tokoh-tokoh kuat.

Terlepas dari segala kelebihan pribadinya, Ibnu Abi Amir bertanggung jawab atas pergeseran tersebut. Dia memimpin dengan tangan besi, menyingkirkan semua yang berpotensi menyaingi, membangun kota az-Zahirah untuk menandingi keindahan az-Zahra, dst.

Alhasil, kurang 100 tahun kemudian az-Zahra dengan segala kebesarannya hancur. Kota nan indah itu dibakar dan porak poranda hingga tinggal reruntuhan puing-puing. Bukan karena serangan lawan, tapi karena syahwat kekuasaan dan fitnah antara sesama kawan.

Cordoba menjadi kacau, rusuh, hingga tidak lagi memiliki pemimpin potensial yang sanggup menjadi juru selamat. Rintihan pilu narasi dan bait-bait puisi Ibn Hazm dan Abu al-Baqa menjadi saksi. Akhirnya, seorang tokoh berdiri di Masjid Jami’ Cordoba, bukan untuk menyampaikan orasi yang membangkitkan harapan, tapi mengumumkan berakhirnya khilafah Islam di Andalus hingga, barangkali, akhir jaman.

Periode berikutnya semakin parah. Faktor lain keruntuhan Andalus semakin nyata, fenomena Thawa’if. Andalus yang sebelumnya bersatu dibawah satu payung Khilafah, kini pecah menjadi 21 daulah liliput tapi masing-masing merasa sebagai raksasa. Mereka tidak hanya saling sikut, saling serang, tapi lebih pedih dari itu, setiap kelompok tidak sungkan mengundang pasukan Katolik di Utara untuk menghabisi saudara.

Thawa’if adalah fitnah tragis yang mesti jadi pelajaran sepanjang masa. Thawa’if adalah kabar duka sebuah peradaban yang nyaris mencapai akhir ajalnya. Kalau bukan karena karunia Allah melalui ulama-ulama kala itu, barangkali Andalus sudah musnah lebih awal.

Para ulama atau tepatnya jaringan para ulama menjawab tantangan dahsyat tersebut. Di tengah perpecahan politik yang amat akut, para ulama Cordoba, Sevilla, Granada dll mengirim delegasi menyebrangi selat Gibraltar untuk menemui Yusuf bin Tasyafin, Sultan al-Murabithun di Marrakech yang kala itu menguasai sepertiga benua Afrika.

Para ulama yang berwibawa dan masih dipercaya umat tersebut meminta Ibn Tasyafin untuk menyelamatkan saudara-saudaranya di Andalus. Bukan hanya dari invasi kerajaan Katolik di Utara, terutama setelah Alfonso VIII menguasai Toledo tahun 1085, melainkan juga dari kekuasaan Thawa’if.

Yusuf bin Tasyafin menyebrang tiga kali ke Andalus. Al-Murabithun berkuasa penuh di sana setelah mengakhiri kekuasaan Thawa’if, termasuk al-Mu’tamid bin ‘Abbad, penguasa Sevilla. Meski sulit baginya untuk merebut kembali wilayah-wilayah Islam yang telah jatuh kepada penguasa Aragon dan Castilla.

Al-Murabithun mengembalikan nafas Islam kedalam kehidupan masyarakat Andalus. Risalah Islam kembali dijunjung dan menjadi ruh pada semua lini. Kondisi inilah yang sebenarnya berperan menahan kejatuhan dini Andalus hingga 150 tahun kemudian, tepatnya setelah kekalahan telak al-Muwahhidun, penerus al-Murabithun, dalam perang al-‘Iqab di Las Navas de Tolosa pada bulan Juni tahun 1212.

Setelah al-Muwahhidun, tidak ada lagi kekuatan representatif umat yang sanggup mengemban risalahnya. Penyakit Thawa’if-isme kembali menjalar sehingga mereka menjadi sasaran yang jauh lebih empuk bagi musuh. Kelahiran Granada pun sebenarnya tidak lepas dari kisah sedih ini. Granada membayar upeti dan turut memberi andil atas kejatuhan Sevilla kepada Castilla pada tahun 1247.

Granada adalah fenomena nafas terakhir perjuangan umat untuk bertahan hidup di Andalus. Tidak ada keseimbangan yang berarti untuk mengokohkan diri apalagi membangun risalahnya. Kala itu umat masih menggantungkan asa selama hubungan baik terjalin antara Granada dengan Bani Marin di Maroko. Tapi setelah kongsi politik itupun putus, pupus sudah harapan semua.

Musuh yang selalu mengintai menuntaskan penderitaan umat dengan memutus semua jalur fisik yang menghubungkan Andalus dengan Maroko. Algeciras, pelabuhan terdekat dengan pantai Maroko mereka rebut. Malaga kemudian menyusul, sehingga tinggallah Granada berdiri sendirian ibarat anak yatim yang ditinggalkan semua orang. Sebuah kondisi memilukan yang 300 tahun sebelumnya telah disebut-sebut oleh Ya’qub al-Manshur, Sultan al-Muwahhidun, dalam wasiat terakhir menjelang ajal menjemputnya, “Aku berpesan kepada kalian agar menjaga baik-baik anak yatimku, yaitu Andalus.”

 

 

Diambil dari Catatan akhir Rihlah Ustadz Asep Sobari, Lc dari perjalanannya di Maroko-Spanyol. Dari ketinggian semesta, 9 Januari 2018.

About admin

Check Also

rocky formations with plants near river

Kenapa Engkau Ingin Hidup?

Sesungguhnya tujuan dari hidup ini bukan hanya sekedar makan dan minum saja. Jika hanya untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *