Home / Parenting / Anakku Sering Terlambat!

Anakku Sering Terlambat!

Sesampai di sekolah, alasan smartphone yang terasa bergetar di saku akhirnya terungkap. Beberapa panggilan WhatsApp. Dan satu pesan “Afwan, ananda terlambat” disertai beberapa baris alasan selanjutnya.

Tulisan ini hanya sekedar muhasabah, sebagai bahan introspeksi diri, koreksi terhadap diri sendiri atas segala perbuatan, mungkin juga ucapan, bahkan pikiran yang kita telah lakukan alih-alih bisa ikut solusi penghapus keterlambatan, agar anak kita semakin lebih baik kedepannya.

Nasihat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berikut bisa jadi pemantik semangat. Bahwa menyekolahkan, mengantar untuk belajar dan menimba ilmu anak lebih butuhkan dari sekedar makan dan minumnya. Beliau berkata,

الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه

“Manusia lebih membutuhkan ilmu (tentang Ad-Dien) dibanding makan dan minum, karena seseorang dalam sehari hanya membutuhkan makan minum satu atau dua kali saja. Sedangkan ia membutuhkan ilmu dalam setiap helaan nafasnya.”

Selain itu, dalil dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya terkait keutamaan ilmu dan pemilik ilmunya sangat banyak, diantara:

1. Ilmu Menyebabkan Dimudahkannya Jalan Menuju Surga

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

2. Ilmu Adalah Warisan Para Nabi

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh hadits,

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6297).

3. Ilmu Akan Kekal Dan Akan Bermanfaat Bagi Pemiliknya Walaupun Dia Telah Meninggal

Disebutkan dalam hadits,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim).

4. Allah Tidak Memerintahkan Nabi-Nya Meminta Tambahan Apa Pun Selain Ilmu

Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu“. (QS. Thaaha [20] : 114). Ini dalil tegas diwajibkannya menuntut ilmu.

5. Orang Yang Dipahamkan Agama Adalah Orang Yang Dikehendaki Kebaikan

Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037).

Yang dimaksud faqih dalam hadits bukanlah hanya mengetahui hukum syar’i, tetapi lebih dari itu. Dikatakan faqih jika seseorang memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang berkaitan dengan syari’at Allah. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi (hal. 21).

6. Yang Paling Takut Pada Allah Adalah Orang Yang Berilmu

Hal ini bisa direnungkan dalam ayat,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308).

Para ulama berkata,

من كان بالله اعرف كان لله اخوف

Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah”.

7. Orang Yang Berilmu Akan Allah Angkat Derajatnya

Allah Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ..

“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Allah Subhanahu wa Ta ‘ala berfirman,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk : 10).

Terus solusiya apa?

Penulis yakin tidak ada orang tua yang membiarkan anaknya terus terlambat, dan abai dengan tindakan tidak disiplin buah hati tercinta. Kembali, penulis hanya bisamemberikan tips praktis dan mudah dilakukan. Solusinya, kembali ke pribadi masing-masing pembaca.

  • Berikan Waktu Jeda Sebelum Berangkat Sebelum ke sekolah, sebaiknya berikan waktu untuk anak melakukan kesenangannya di kamar ataupun di rumah. Buat moodnya menjadi baik. Jadi, membangunkan dan mengajak anak shalat shubuh berjamaah di masjid adalah tindakan tepat agar tidak terlambat ke sekolah. Setelah shalat subuh, apalagi Ayah bisa menjadi waktu terbaik mebersamai ananda, bisa menemani ananda bermain, mendengarkan hafalan dan menyimak tilawahnya. Untuk anak perempuan, membuat sarapan bisa jadi pilihan menarik.
  • Table Schedule Buat semuanya terencana. Biasakan anak membuat perencanaan tertulis. Membuat jadwal di rumah, membuat waktu tidur, belajar, dan bermain bisa membuat anak fokus. “Kalian tahu mengapa kini Umat Islam kalah? Karena mereka tak mau menengok sejarah, tak pandai merencanakan sesuatu, dan malas”, Moshe Dayan, Former Defense of Zionist
  • Ajak Bercerita Jika anak terlihat mulai malas untuk bergerak saat diajak ke sekolah, ajaklah anak bercerita. Dengarkan keluh kesahnya, karena boleh jadi si Anak ingin mendengarkan suara Ayahnya bercerita semasa sekolahnya waktu kecil dahulu, atau ingin dipeluk Ibu sambil dikisahkan tentang Imam Syafi’i kecil yang begitu semangat belajar sedari kecil.
  • Bangun Komunikasi dengan Guru Setelah memberikan waktu, mendengar, dan mengajaknya bercerita, komunikasikan dengan gurunya.

Merenungi ilmu adalah laksana bertasbih, membahasnya adalah laksana jihad, mencarinya adalah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, berinfaq untuknya adalah shadaqah, mempelajarinya adalah amal yang menyamai shiyam (puasa) dan qiyam (tahajjud). Kebutuhan terhadapnya lebih besar dibanding kebutuhan terhadap minum dan makan.



Ilmu adalah pemberi petunjuk (hidayah) dan merupakan kondisi (keadaan) yang benar yang dengannya seseorang akan mendapatkan hidayah. Ilmu merupakan peninggalan para Nabi dan warisan mereka, sedangkan ahlul ilmi (ulama) adalah ashabah dan ahli warisnya.

Ilmu adalah pemberi kehidupan hati, cahaya nurani (bashirah), penyembuh (penyakit di dalam) dada, latihan bagi otak, pemberi kelezatan bagi jiwa, yang melembutkan mereka yang hatinya keras dan buas. Pemberi petunjuk bagi mereka yang kebingungan.

Ilmu adalah tolak ukur yang dengannya segala ucapan, perbuatan dan keadaan diukur dan ditimbang. Ia juga penetap hukum yang akan membedakan antara keraguan dan keyakinan, antara jalan yang melenceng dan yang lurus serta antara hidayah dan kesesatan.

Dengan ilmu kita mengenal Allah, beribadah kepada-Nya, mengingat-Nya, mentauhidkan-Nya, memuji-Nya, mengagungkan-Nya dan dengannya para peniti jalan mendapatkan petunjuk. Dengannya pula orang yang ingin sampai pada tujuan mencapai tujuannya, melalui pintu ilmu orang-orang yang ingin menuju (jannah-Nya) masuk.

Dengan ilmu kita mengenal syari’at dan hukum-hukum Allah, dengannya kita membedakan halal dan haram, dengannya pula kita menyambung tali kasih saying. Karena ilmu kita mengetahui apa-apa yang diridhoi oleh Allah yang sangat kita cintai, serta dengan memahami dan mengikuti ilmu itu kita akan segera sampai kepada-Nya.

Dialah imam sedangkan amal adalah makmumnya, dialah pemimpin sedangkan perbuatan adalah pengikutnya, dialah teman disaat kita kesendirian, dialah yang mengajak kita bicara disaat kita menyepi, dialah yang menghibur kita di saat kita dalam kegalauan, yang membuka tabir kerancuan dan kesesatan dimana tak akan ada seorang pun yang akan merasa fakir saat ia lebih mengutamakan untuk mengumpulkan kekayan ilmu itu, tidak akan hilang bagi mereka berlindung dalam “sarangnya”.

Mendidik anak butuh orang sekampung, jadi soal terlambat anak butuh Ayah, Ibu, Kakak, Adik, serta Guru-gurunya. Karena Generasi Idaman, generasi yang kuat dan tidak mudah terlambat dibutuhkan kerjasama semuanya. Dibutuhkan orang-orang yang tahu bagaimana mencintai ilmu dengan sepenuh hati.

oleh : Awi Munawir



About admin

Check Also

two kids playing beside glass windows

Jadilah Guru Keluarga [1]

Dalam pandangan Islam, pendidikan anak pada dasarnya menjadi tanggung jawab orang tuanya, bukan tanggung jawab …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *