Home / Parenting / Anak Ingin Jadi Youtuber?
photo of camera crew standing near each other
Photo by Lê Minh on Pexels.com

Anak Ingin Jadi Youtuber?

Ayah, Bunda, kita ngobrolin tentang cita-cita yuks..

Apa cita-citamu? Apa cita-cita Ayah dan Bunda dulu waktu masih kecil?

Ayah dan Bunda, mungkin kebanyakan kita dulu punya cita-cita jadi dokter, polisi, tentara, guru atau yang sejenisnya yaaa…

Satu dua lah yang punya cita-cita nyeleneh, jadi montir, koki misalnya atau wartawan gitu. Paling jauh ya pengin jadi artis atau pemain filem.

Dan ternyata hal ini berbeda dengan anak-anak sekarang. Ini survey di tahun 2020-2021. Banyak anak-anak yang menjadikan cita-cita mereka sebagai youtuber.

Cita-cita terbentuk dari apa yang biasa dilihat, dibaca anak-anak. Jika dekat dengan youtube, tahu penghasilan sebagai yutuber besar, wajar mereka memiliki cita-cita demikian.

Apa mereka salah punya cita-cita jadi youtuber? Nggak!!!

Berikut ini ada sebuah kisah menarik yang menggugah kita semua untuk memiliki cinta-cita yang tinggi. Kisah ini menceritakan tentang empat orang pemuda yang berbincang tentang cita-cita mereka.

Kisah ini dimulai seperti yang tertulis di dalam Kitab Syiar A’lam An-Nubala’. Imam Adz Dzahabi sang penulisnya menceritakan kisah pertemuan empat pemuda istimewa. Pemuda pertama adalah Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khottob. Ketiga pemuda lainnya adalah putra Zubair bin Awwam yang dilahirkan dari rahim Asma’ binti Abu Bakar-shahabiyah yang disebut Nabi sebagai Dzatun Niqatain. Mereka adalah Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair, dan Mush’ab bin Zubair.

Mereka berkumpul di Hijr Ismail, setengah lingkaran yang ada di Ka’bah. Kemudian mereka duduk bersama. Ini pertemuan yang unik karena mereka membukanya dengan sebutan tamannaw yang berarti “Berharaplah!”. Ya, ini adalah pertemuan berharap. Majelis harapan. Majelis impian. Majelis asa. Majelis cita-cita.

Majelis ini dimulai dengan kalimat Abdullah bin Zubair, “Saya ingin kekhilafahan.”

Masya Allah…
Anak muda yang ingin menjadi khalifah. Sejak muda telah berfikir cita-cita dan tanggung jawab yang besar.
Selanjutnya Urwah bin Zubair berkata, “Saya ingin menjadi tempat masyarakat ini mengambil ilmu.” Keinginannya sangat mulia, ingin menjadi seorang ulama, seorang ilmuan besar.

Kemudian Mush’ab bin Zubair pun menyampaikan keinginannya, ”Saya ingin menjadi Amir Iraq dan menikahi Aisyah binti Thalhah dan Sukainah binti Husain.” Lihatlah! Mush’ab bercita-cita dua hal sekaligus: menjadi pemimpin di Iraq dan menikahi wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik di zamannya. Keduanya putri dari sahabat-sahabat Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Terakhir, sebuah asa disampaikan Abdullah bin Umar, “Aku ingin Allah mengampuniku.” Sebuah pinta yang terkesan sederhana, tapi sesungguhnya bermakna sangat dalam dan didamba tiap insan bertaqwa.

Laluuuu …….

Bagaimanakah kelanjutan kisah dari cita-cita dan harapan empat pemuda mulia ini?

Tercapaikah cita-cita mereka?

Detik demi detik berganti.
Waktu pun berlalu.
Hijr Ismail menjadi saksi bahwa cita-cita tulus yang mereka katakan ternyata Allah sampaikan pada takdirnya.

Abdullah bin Zubair benar-benar menjadi khalifah selama kurang lebih sembilan tahun.
‘Urwah sungguh menjadi ulama besar di Kota Madinah. Banyak sanat hadits darinya yang diambil dari ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ummul Mu’minin yang merupakan bibinya.
Mush’ab pun benar menjadi pemimpin di Iraq dan bisa menikahi dua wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik tesebut.

Masya Allah…
Kekuatan keinginan, cita, dan asa yang Allah ijabah. Allah izinkan harapan-harapan itu terwujud.

Keinginan yang belum bisa kita lihat adalah ketercapaian cita-cita Abdullah bin Umar. Allah yang memiliki segala rahasia. Apakah Allah mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar seperti yang ia sampaikan di majelis itu?

Tapi Imam Adz Dzahabi rahimahullah penulis kitab Syiar A’lam An-Nubala’ menuliskan keyakinannya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar sebagaimana yang ia inginkan.

Salah satu ajaran Islam adalah bercita-cita yang tinggi.
Tidak masalah cita-cita kita tinggi. Yang penting dengan cita-cita itu, kita bisa menolong agama, bangsa, dan negara. Yang penting cita-cita kita bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Apa cita-cita anak kita?
Apakah cita-citanya sudah cukup besar?

Ayo dorong dan dukung cita-cita anak kita.

Ngomongin cita-cita, apapun cita-cita yang disampaikan anak, kita harus selalu berusaha menginstall apa peran dan manfaat mereka terhadap dirinya, keluarganya dan umat dari cita-cita yang mereka inginkan.

Untuk Ayah, Bunda dan teman-teman, yuk yuk arahkan cita-cita anak kita bisa bermanfaat orang lain dengan lebih sering memberikan keteladanan kisah-kisah manusia terbaik sepanjang zaman. Agar hidup lebih mendapatkan keberkahan dan terus meluaskan kebermanfaatan.

Semoga Allah mudahkan.
Aamiin allahumma aamiin ya Rabb.

Sumber : WAG Belajar Siroh, Spirit Nabawiyah Community

About admin

Check Also

back view photo of muslim boy in white thobe walking alone on desert sand during golden hour

Menghadirkan Keteladanan

Apa rahasia generasi sahabat bisa menjadi generasi terbaik dalam sejarah umat? Jawabannya adalah Rasulullah ﷺ. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *