Home / Covid-19 / Wabah Corona, Ada Drama Efek Belajar Di Rumah

Wabah Corona, Ada Drama Efek Belajar Di Rumah

Dari Januari ketika wabah virus Corona yang menghebohkan dunia ini makin meluas, kami selalu mengikuti perkembangannya melalui siaran-siaran berita. Dalam hati kami berharap semoga wabah ini tidak akan pernah masuk ke negara Indonesia tercinta ini. Kami sepakat untuk mulai mengurangi aktifitas keluar rumah jika tidak terlalu penting. Dan qadarullah di awal Maret pemerintah mengumumkan di Indonesia sudah ada yang positif kena penyakit yang menular ini. Akhirnya sewaktu virus ini makin masif penyebarannya di Indonesia, anak-anak kami di Kota Makassar diminta untuk belajar di rumah untuk dua pekan ke depan. Miris sebenarnya karena anak-anak sedang ujian tengah semester ke dua dan tinggal tiga hari lagi ujian mereka selesai.

Tapi tidak apa-apa, demi mencegah mudharat yang lebih banyak kami sekeluarga sepakat untuk mengikuti anjuran pemerintah tentang mencegah makin berkembangnya virus Corona ini, dengan tetap diam di rumah, rajin mencuci tangan, menjaga daya tahan tubuh dan dalam urusan ibadah kami sepakat untuk mengikuti himbauan dari pihak Wahdah Islamiyah.

Di rumah kami membagi tugas untuk bersiap menghadapi masa belajar di rumah ini. Karena suami tidak diliburkan kantornya maka saya sebagai ibu akan memiliki porsi lebih besar dalam mendampingi Shafiq untuk belajar dari rumah. Suami mensupport dengan menyediakan fasilitas dan sarana agar ananda bisa nyaman di belajar di rumah, seperti pulsa internet,pulsa listrik dan dana lebih untuk belanja bahan makanan. Alhamdulillah Shafiq punya ponsel sendiri, jadi kalau pihak sekolah mengirimkan materi pelajaran dan tugas di grup wa kelas 4 A1  saya tinggal memforwardnya ke ponsel Shafiq dan memintanya untuk memahami terlebih dahulu sebelum mengerjskan tugas-tugas yang diberikan.

Alhamdulillah ananda selalu semangat mengerjakan berbagai tugas yang dikirimkan ustad Awi wali kelas 4 A1 , saya berusaha selalu menyediakan waktu semaksimal mungkin untuk menemani Shafiq. Saya usahakan selalu memberikan semangat dan motivasi jika ananda sudah mulai terlihat bosan dan jenuh, baik dalam bentuk kata-kata atau menyediakan makanan kesukaannya dan memberikan waktu untuk Shafiq melakukan aktifitas favoritnya, agar dia bisa tetap betah diam dan belajar di rumah.

Tidak bisa dipungkiri Shafiq kadang merasa bosan dan jenuh, dia sering bilang ingin sekali pergi ke sekolah untuk bertemu ustad dan teman-temannya. Tapi untuk saat ini tentu hal tersebut belum bisa dilaksanakan karena wabah Corona ini malah makin meluas, di Sulawesi Selatan sudah ada yang positif dan ada yang meninggal karenanya. Drama demi drama juga selalu ada dalam hari-hari belajar dari rumah ini. Namun nasehat dan perhatian selalu kami usahakan sebisanya untuk Shafiq anak semata wayang kami. Walaupun semua masih jauh dari kata sempurna.

Dari hari ke hari kami bisa melihat hikmah positif dari anjuran untuk belajar di rumah ini. Ibadah dan jadwal belajar Shafiq tetap bisa teratur, kami lihat dia menjadi lebih peka dengan keadaan di rumah. Jika saya sedang bekerja dia selalu menawarkan untuk membantu. Yaah walaupun bantuannya cuma sekedar memasukkan pakaian ke mesin cuci, merapikan tempat tidurnya sendiri, membilas piring yang sudah saya sabuni atau menyapu kamarnya, namun bagi kami itu sangat berarti besar. Mungkin tidak sesempurna dan sebaik yang dilakukan anak lain, bagi kami perkembangan Shafiq selama satu pekan ini sangat membuat bahagia. Hikmah lainnya yang kami dapatkan adalah kebersamaan keluarga yang lebih intens, biasanya kami cuma berkumpul di malam hari setelah sholat Magrib sampai setelah Isya, sekarang bisa sepanjang hari karena ada hari di mana ayahnya Shafiq bisa bekerja dari rumah juga.

Sering saya tertawa membaca komen dan curhat teman-teman di media sosial atau di grup-grup wa yang saya ikuti. Banyak yang emosi dengan ulah dan pelajaran anak-anak yang seabreg di rumah, banyak yang bosan tidak bisa keluar rumah,  harus memasak terus untuk asupan anak-anak yang jarang kenal kata kenyang dan berbagai keluhan lainnya. Kami menyadari tentu keadaan rumah tangga setiap orang tidak sama, kami jadi menyadari ternyata beginilah beratnya tugas seorang guru dalam mendidik dan mengajar anak-anak kami di sekolah setiap hari. Menghadapi berbagai tingkah laku puluhan anak yang tentu bukan sesuatu yang gampang. Sungguh tidak akan terbalaskan jasa seorang guru, semoga Allah SWT membalas semua jasa guru-guru di mana saja berada dengan pahala berlipat ganda dan tidak terputus. Seminggu ini kami orang tua dan ananda belajar banyak dari semua kejadian yang menimpa negara kita, banyak hikmah dan hal positif yang bisa kami petik. Dan yang membuat salut pihak sekolah dalam hal ini ustad Awi tidak pernah lepas tangan dari mengajar dan mendidik anak-anak walaupun dari rumah. Anak-anak diberikan materi pelajaran….[bersambung]

Tulisan di atas dari Ummi Syafiq, penasaran kelanjutan kisahnya? InsyaAllah tulisan lengkapnya akan didokumentasikan dalam bentuk buku bersama cerita seru dari orang tua dan murid kelas 4A1 lainnya.

Gajah mati meninggalkan gading

Harimau mati meninggalkan belang

Wah, hewan mati meninggalkan sesuatu untuk dikenang.

Nah, lantas jika ajal telah mempersunting manusia, ingin meninggalkan apa di dunia ini?

Kami mengajak anda menjadi orang tua
untuk saling menginspirasi dari pengalaman melalui tulisan
dalam bentuk cerita atau tips yang seru, unik, lucu,
atau apa saja seputar masa libur 14 hari bersama
keluarga di rumah untuk dimuat di sdwahdah.sch.id
Tulisan dikirim ke sdwahdah@gmail.com

About admin

Check Also

Peran Orang Tua Saat Anak Belajar di Rumah

 Saat ini di Indonesia telah mewabah virus Covid -19 atau biasa disebut virus Corona.Virus yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *