Home / artikel / Kompetisi yang Melelahkan

Kompetisi yang Melelahkan

Terlahir dari keluarga berlatar belakang hukum dan militer, menjadikan anggota keluarga ingin menjadi yang terbaik.

Termasuk perjalanan hidup ku dalam menempuh pendidikan formal.

Semangat yang bergelora dalam diri orang tua untuk menjadikanku anak yang sukses dan berbeda dari yang lainnya, ditempuh dengan berbagai aktivitas.

Di usia 7 tahun, diriku telah terdaftar di bimbingan belajar bahasa Inggris, les matematika, dan swipoa. Semua hal itu dilakukan agar aku tetap berada dalam barisan tiga teratas saat penerimaan rapor.

Bahkan, guru sekolah dasar ikut andil dalam memberikan motivasi. Beliau sering mengajarkan kepada kami sebuah ucapan, “Anak-anak, kalian harus jadi yang terbaik. Raihlah peringkat satu saat ujian”.

Sungguh, upaya mereka patut di apresiasi. Tapi, tahukah Anda, kalimat tersebut justru menjadi bumerang bagiku?

Sebuah usaha dan ucapan yang terlihat indah. Namun, tanpa disadari menjadikan diriku sebagai kompetitor ulung.

Sikap individualis telah bercokol pada diriku. Tak hanya itu, aku pun sulit untuk bekerja sama dengan teman sebaya. Bahkan, yang lebih parahnya lagi, munculnya sifat memandang sebelah mata.

Hal itu dapat terlihat saat diberikannya tugas kelompok yang dikerjakan di rumah. Saat itu, ku katakan kepada teman-temanku, “Saya saja yang kerja nah. Kalian pergi mi main-main. Terima jadi saja”.

Karakter tersebut melekat pada diriku hingga kelas IX (3 SMP). Kehampaan pun kurasakan karena kurangnya teman bergaul. Hingga pada titik nadir, muncul perasaan lelah untuk selalu bekerja sendiri.

Hingga akhirnya, Tuhan memberikan jalan untuk diriku berpikir melalui makhluk ciptaan-Nya yang lain.

Saat itu, pandanganku tajam kearah kumpulan semut yang berada di sudut tembok rumah. Perasaan kagum pun muncul. Begitu indah dan kompaknya mereka dalam menjalani hidup, ujarku dalam hati.

Sejak saat itulah, diriku berlatih mengurangi sikap kompetitor menjadi kolaborator. Sulit, tapi terus berusaha. Alhasil, sikap tersebut tidak merasuk lagi saat menjadi mahasiswa.

Justru yang kurasakan adalah sebaliknya. Sikap mudah bergaul. Senang berkolaborasi. Dan tidak ingin sikut-sikutan dalam meraih nilai akademik.

Beberapa faedah dari kisah nyata diatas adalah:

1. Mendidik peserta didik dengan sikap kolaborator. Jangan kompetitor.

2. Orang tua dan guru mesti berhati-hati saat memberikan kalimat motivasi. Alih-alih ingin mendukung sang anak, justru membuat mereka individualis.

Ucapan “Anak-anak, kalian harus jadi yang terbaik. Raihlah peringkat satu saat ujian”, bagaikan belati bermata dua.

Oleh sebab itu, kalimat tersebut perlu dirinci ke peserta didik ketika hendak menyampaikannya.

3. Prestasi akademik itu penting. Tapi, tidak cukup untuk mengarungi dunia. Dibutuhkan jiwa sosial yang baik.

4. Indonesia membutuhkan generasi bangsa yang bahu-membahu dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan.

Indonesia tidak membutuhkan generasi yang doyan sikut-sikutan.

Semoga Allah memberikan kebaikan dan kemudahan bagi kita semua.

About GZ

Check Also

Guru Menerima Hadiah dari Murid?

Rasa terima kasih terkadang diinterpretasikan dengan memberikan sebuah hadiah dari wali murid kepada seorang guru. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *