Home / Covid-19 / Ketika Harus di Rumah Saja

Ketika Harus di Rumah Saja

Tak terasa dua pekan berlalu, terbilang sejak 16 Maret 2020, sejak himbauan untuk di rumah saja sejak  covid-19 mewabah.

Rutinitas keseharian tetiba berubah ritmenya, yang dulunya tiap pagi berangkat sekolah sekarang semua dikerjakan di rumah mulai sholat, belajar, dan mengajar dilakukan di rumah.

Kondisi ini tidak bisa diprediksi sampai kapan berakhirnya, yang jelasnya “kontrak” perpanjangan mengajar di rumah sudah terbit. Ini berarti akan lebih lama lagi  kita beraktivitas di rumah saja. Berperan menjalankan multitasking, berperan sebagai IRT, guru siswa, dan guru anak.

Rumah mungilku insya Allah siap menjadi kelas baru bagi keempat anakku, yang biasanya sepi jika mereka sudah ada di sekolah semua. Dua pekan mendampingi mereka, Alhamdulillah tanpa ada keluhan bosan. Kakak pertama harus setoran hafalan ke ustazahnya via VC dan  mengerjakan soal kisi-kisi UN. Kakak yang kedua di pekan kedua libur, punya project selama sepekan yang membuatnya harus belajar pake aplikasi zoom dan testimoninya belajar sangat menyenangkan. Kakak ketiga yang hobbi menggambar dan menyusun lego kecil sudah punya agenda sendiri. Dan si bungsu, juga punya kegiatan yang bisa membuat dia sibuk dan tidak mengganggu kakak-kakanya.

Jika kegiatan belajar usai, maka akan didapati suasana rumah yang riuh karena bermain dan bercanda bersama. yang selama ini hanya kudapati di hari sabtu dan Ahad. Keriuhan itu kadang membuatku tidak enak pada tetangga sebelah  tetapi kupikir  ah itu soal biasa bagi mereka yang memiliki 3-4 orang anak.

Ketika semua kegiatan berfokus di rumah,  maka sebagai ibu harus lebih sabar medidik dan mengajar mereka karena pelajaran mereka berbeda,  serta memenuhi berbagai permintaan cemilan mereka.

Sebagai guru, kamipun masih punya amanah mengajar online. Hal ini membuat kami sadar untuk tidak boleh berhenti belajar terutama cara menggunakan aplikasi yang membuat belajar jadi menyenangkan, dengan belajar aplikasi pada seorang saudarikufillah maka meluncurlah sebuah quiz uji coba secara online yang ternyata sangat direspon baik oleh anak-anak dan orang tuanya.

Untuk hari-hari berikutnya harus bersiap menyiapkan kurikulum yang tidak terlalu membebani siswa dan orang tua murid,  lebih menyenangkan sehingga anak-anak sholehku  kelas 1A2 betah di rumah, tidak ada lagi kiriman VN yang curhat bahwa mereka mulai bosan di rumah, hanya menatap dinding.

Sebagai penutup dari sepenggal kisahku , dengan adanya wabah ini, mari berpikir positif, berbaik sangka pada Allah, Allah menurunkan tentaraNya yang tidak kasat mata  bukan tanpa tujuan. Boleh jadi menurut kita itu sesuatu yang tidak baik namun di sisi Allah itulah yang terbaik.

Semoga dengan wabah ini kita  lebih dekat denganNya, lebih perhatian pada keluarga, dan lebih peduli pada sesama, serta lebih pandai bersyukur.

Semoga wabah ini segera enyah dari negeri kita sebelum datangnya Ramadhan mubarak.

Barakallahu fiikum

By: Ustadzah Hasni (Wali Kelas 1A2)

About admin

Check Also

Pembelajaran Digital, Why Not?

Hakikatnya pembelajaran digital bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan. Sistem pembelajaran ini sudah di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *