Home / artikel / Kemuliaan Wanita…
round mirror on wall with reflection of anonymous woman
Photo by berlian nabila on Pexels.com

Kemuliaan Wanita…

Bismillah Alhamdulillah saudari saudariku seiman yang dimuliakan oleh Allah.
Tulisan ini bukan untuk menyinggung siap siapa tetapi hanya sekedar mengingatkan karena peringatan bagi orang beriman itu sangat bermanfaat. Saudariku seiman dahulu bangsa Arab sebelum mengenal Islam mereka tidak memperlakukan kaum wanita kecuali hanya untuk kesenangan hawa nafsu. Bahkan pada zaman itu kalau ada lahir anak wanita pucat mukanya, bahkan mereka membunuhnya bayi-bayi mungil itu karena melahirkan anak perempuan.


Islam datang justru memperlakukan kaum wanita seperti ratu. Sesuatu yang mahal, termasuk model berpakaian. Kalau dahulu bangsa Arab sebelum Islam hanya pemuas hawa nafsu, begitu Islam datang ‘kecantikan hanya milik suaminya’. Tidak dipertontonkan layaknya bintang artis barat, wanita wanita disurga sangat pemalu.


Tidaklah ada pada sifat malu itu melainkan kebaikan. “Kalau kita tidak memiliki sifat malu silahkan lakukan sesukamu, tetapi ingat ada sebab dan akibat. Nasihat Sahabat Umar bin Khattab radiyahullah anhu berkata “Bimbinglah para wanita berpakaian”. Maksudnya para wanita kalau berpakaian, busana suka menampilkan dirinya untuk memesona laki-laki asing yang bukan mahramnya. Ini adalah penampilan yang jauh dari kriteria berbusana syar’i (yang diajarkan agama). Seperti memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh dan terbuka aurat yang seharusnya tertutup.


Mari kita jaga anak-anak perempuan kita dari perilaku perilaku yang bertentangan dengan syari’at.

Sebagai penutup sebuah Kisah

Ada seorang wanita yang dikenal taat beribadah.ia kadang menjalankan ibadah Sunnah. Hanya satu kekurangannya ia tidak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab. ” Insyaallah…Yang penting hati dulu yang berjilbab.” Sudah banyak orang yang menanyakannya maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.

Hingga suatu malam…
Ia bermimpi sedang di sebuah taman yang indah. Rumputnya sangat hijau. Berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih hingga airnya kelihatan, melintas di pinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ia tidak sendiri. Ada beberapa wanita disitu yang terlihat juga menikmati keindahan taman. Ia menghampiri salah satu wanita. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut.

Assalamualaikum Um saudariku. “Waalaikum salam. Selamat datang, saudara,”

“Terima kasih.Apakah ini surga?” Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum surga.”
“Benarkah”?
Tak bisa kubayangkan seperti ini indahnya surga jika tempat menunggunya saja seindah ini. Wanita itu tersenyum lagi, “Amalan apa yang bisa membuat kemari saudariku?”
“Aku selalu menjaga shalat dan aku menambahnya dengan ibadah sunah
“Alhamdulillah.”

Tiba-tiba jauh di ujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka dan ia melihat beberapa wanita yang berada di taman mulai memasuki ya satu persatu.
“Ayo, kita ikut berlari,” katanya sambil mengikuti wanita itu.
“Tentu saja surga saudariku,” larinya semakin cepat.
“Tunggu… tunggu aku,” ia berlari namun tetap tertinggal.
Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Ia tetap tak mampu mengejarnya. Meski ia sudah berlari Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang telah engkau lakukan hingga engkau begitu ringan? Sama denganmu saudariku?”, jawab wanita itu sambil tersenyum.

Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya. Ia berteriak pada wanita itu,“Amalan apalagi yang kau lakukan yang aku tidak lakukan?
Wanita menatapnya tersenyum.”
Lalu berkata, “Apakah kau tidak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?

Ia sudah kehabisan Nafas, tak mampu lagi menjawab.
Apakah kau mengira Rabbmu akan mengijinkanmu masuk ke surganya tanpa jilbab penutup auratmu?

Tubuh wanita itu telah melewati pintu.tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar memandangnya dan berkata, “Sungguh sangat disayangkan amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku mendapatkan surga hanya sampai dihatimu karena niatmu adalah menghijab hati,”


Ia tertegun. Lalu terbangun, beristighfar lalu mengambil air wudhu. Ia tunaikan sholat malam menangis dan menyesali perkataannya dulu.
Berjanji pada Allah sejak saat itu ia akan menutup auratnya.
Menutup aurat itu wajib seperti wajibnya shalat.

Barokaullah fikum
10 Februari Bontoramba Gowa
Akhukum Aruali.

About admin

Check Also

rocky formations with plants near river

Kenapa Engkau Ingin Hidup?

Sesungguhnya tujuan dari hidup ini bukan hanya sekedar makan dan minum saja. Jika hanya untuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *