Home / Parenting / Jadilah Guru Keluarga [2]
three wooden dinosaur
Photo by cottonbro on Pexels.com

Jadilah Guru Keluarga [2]

Kita berpikir, tentu sangat adil, jika manusia-manusia unggul seperti Pak BJ Habibie memiliki sepuluh anak. Sebab, beliau jelas ‘manusia super hebat’, dan juga ‘bibit unggul. Belum tentu, seratus tahun lagi, akan lahir manusia Indonesia sekualitas Pak Habibie. Bukankah sila kedua Pancasila adalah “Kemanusiaan yang adil dan beradab!” Bukannya, kemanusiaan yang sama rata dan sama rasa? Rasulullah memang memerintahkan umatnya agar memiliki keturunan yang banyak. Tetapi, pada saat yang sama, Islam menekankan, bahwa anak-anak adalah amanah yang harus dijaga. Bahkan: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At-Tahrim [66]: 6)

Ayat ini secara khusus mewajibkan orang tua untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Maknanya, mereka wajib mendidik anak-anak mereka agar menjadi manusia beradab dan berilmu. Masalah ini akan dijabarkan pada bagian berikutnya.

Jadi, intinya, adalah keadilan. Bukan hanya diperintahkan agar memiliki banyak anak, tetapi harus sanggup mendidik mereka dengan baik. Inilah-yakni pendidikan keluarga sebenarnya kunci kemajuan dan kebangkitan umat dan juga bangsa kita. Rumus dasarnya sederhana: jika orang tua mampu menjadi guru yang baik, maka akan baiklah anak-anaknya.

Jika tidak, maka akan terjadi sebaliknya. Itulah yang sudah diperingatkan oleh Rasulullah Setiap anak yang dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani. (HR. Al-Bukhari).

Dari hadits Nabi tersebut kita bisa memahami betapa pentingnya kemampuan orang tua menjadi guru (pendidik). Maka, sangat aneh, jika dunia pendidikan kita justru tidak menjadikan pembentukan orang tua yang baik, sebagai tujuan utamanya. Sebab, manusia tidak sama dengan binatang, yang aktivitas utamanya hanya makan-makan dan bersenang- senang Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adatah tempat tinggal mereka. (Muhammad (47): 12).

Sebagai manusia, tugas utama orang tua bukan hanya meneari makan untuk diri dan anak-anaknya, tetapi yang lebih enting lagi adalah mendidik anak anaknya menjadi manusia yang baik, sebagai hamba Allah dan sebagai khalifatulláh filardh, serta menjadi pelanjut perjuangan para nabi. Jangan sampai tanpa sadar orang tua justru menjadikan anak-anaknya memiliki sifat-sifat seperti kaum Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagai contoh, salah satu sifat kaum Yahudi yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah sifat materialis dan kecintaan terhadap dunia yang sangat berlebihan.

Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqarah : 96) (bersambung)

sumber: Kiat Menjadi Guru Keluarga, Dr. Adian Husaini.

About admin

Check Also

Cinta di Atas Cinta kepada Seluruh Manusia

Mencintai Rasulullah bukanlah sekedar dengan mencintai perasaan saja, namun yang diinginkan di sini adalah menyesuaikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *