Home / Parenting / Jadilah Guru Keluarga [1]
two kids playing beside glass windows
Photo by Jessica West on Pexels.com

Jadilah Guru Keluarga [1]

Dalam pandangan Islam, pendidikan anak pada dasarnya menjadi tanggung jawab orang tuanya, bukan tanggung jawab sekolah atau pesantren. Begitulah kata Ustadz Dr. Adian Husaini dalam bukunya yang berjudul “Kiat Menjadi Guru Keluarga, Menyiapkan Generasi Pejuang” yang diterbitkan pustaka Arafah 2019.

Ironisnya, jika kita telaah kurikulum pendidikan nasional di sekolah-sekolah dan kampus-kampus, tidak kita jumpai adanya mata pelajaran atau mata kuliah khusus tentang “bagaimana menjadi orang tua yang baik.” Dunia pendidikan kita didominasi dengan pola pikir dan tujuan untuk mencetak buruh atau pekerja yang baik.

Kampus diarahkan menjadi semacam BLK (Balai Latihan Kerja) semata. Program Studi (Prodi/Jurusan) di Perguruan Tinggi diberikan ijin untuk beroperasi, jika memiliki proyeksi, lulusannya akan bekerja di mana atau sektor apa. Maka, kita jumpai ada prodi Kedokteran, Kedokteran Gigi, Kedokteran Hewan, Farmasi, Hukum, Sosiologi, Akuntansi, Teknik Informatika, Manajemen, dan sebagainya. Tetapi, tidak ditemukan adanya Prodi “Istri Shalihah”, Prodi “Suami Baik”, Prodi “Ayah Teladan”, dan sebagainya. Bahkan Prodi Ushuluddin, Tafsir-Hadits, Syariah, dan sejenisnya, pun dibentuk dan diarahkan dengan tujuan utama untuk mendapat pekerjaan.

Padahal, kata Rasulullah : Barangsiapa menuntut ilmu supaya bisa menyaingi ulama atau supaya bisa berdebat dengan orang-orang bodoh atau agar bisa menarik perhatian manusia, maka Allah akan memasukkannya ke Neraka. (HR. At-Tirmidzi no. 2654. Al- Haizh Abu Thahir mendha’ifkannya sedang Syaikh Al- Albani menghasankannya)

Jadi, mencari ilmu itu wajib. Kewajiban itu harus dilakukan dengan cara yang benar pula. Di samping niat mencari ilmu yang harus benar, dalam ajaran Islam, dikenal mardtibul ilmi’ (derajat ilmu). Ada ilmu fardhu ain, yang wajib dipelajari setiap muslim; ada ilmu yang fardhu kifayah yang wajib dimiliki sebagian orang muslim. Tidak semua ilmu wajib dicari. Di dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim disebutkan, yang wajib dicari adalah ilmu al-hal. Yakni, ilmu yang diperlukan agar seorang bisa menjalankan kewajibannya dengan baik.

Dan di antara kewajiban orang tua adalah mendidik anak- anaknya dengan baik, agar satu keluarga itu selamat dari api Neraka. Jadi, ilmu mendidik anak dengan benar ini termasuk ilmu al-hál yang harus dimiliki setiap muslim yang diamanahi Allah dengan anak-anak. Semakin pintar anak-anaknya, semakin tinggi pula beban amanahnya. Tetapi, sekali lagi, sayangnya, para pelajar dan mahasiswa kita, sampai lulusS-3 sekalipun, pada umumnya tidak diberikan ilmu yang memadai untuk menjadi suami/istri dan orang tua yang baik bagi anak-anaknya.

Karena itu, di pemerintahanpun, tidak dijumpai Kementerian Pemberdayaan Keluarga. Yang ada adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak-anak. Seolah-olah, laki-laki sudah dianggap berdaya semua, sehingga tidak perlu diberdayakan lagi. Padahal, kini, tidak sedikit laki-laki-bahkan yang punya jabatan tinggi di pemerintahan-yang tidak berdaya di hadapan seorang perempuan. Urusan keluarga di pemerintahan diserahkan kepada satu lembaga bernama BKKBN. Masyarakat tahunya, lembaga punya tugas utama: membatasi jumlah anak. Slogannya “dua anak cukup” atau “dua anak lebih baik”. Padahal, hampir semua Presiden Indonesia, memiliki anak lebih dari dua.

Disebutkan, bahwa tugas pokok BKKBN adalah: “Pembinaan, pembimbingan, dan fasilitasi pelaksanaan kebijakan nasional di bidang pengendalian penduduk, penyelenggaraan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi, keluarga sejahtera dan pemberdayaan keluarga.” (http://jatim.bkkbn. go.id/profil/tugas-pokok-dan-fungsi/).

Mengapa kita tidak berpikir, bahwa manusia adalah potensi bangsa yang luar biasa? Bahkan, kita sepakat, bayi manusia jauh lebih berharga dibandingkan bayi babi. Jika anak itu diasuh dan dididik dengan benar, insya Allah ia akan menjadi potensi yang bermanfaat bagi bangsa dan negara. Jadi, inti masalahnya sebenarnya bukan “pengendalian”, karena khawatir dengan pertumbuhan jumlah penduduk, tetapi inti masalahnya adalah pada “keadilan” dan “pendidikan”! [bersambung]

sumber: Kiat Menjadi Guru Keluarga, Dr. Adian Husaini.

About admin

Check Also

Cinta di Atas Cinta kepada Seluruh Manusia

Mencintai Rasulullah bukanlah sekedar dengan mencintai perasaan saja, namun yang diinginkan di sini adalah menyesuaikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *