Home / Covid-19 / Ilmu Dipelajari Bukan untuk Bergaya

Ilmu Dipelajari Bukan untuk Bergaya

Seperti hari Senin sebelumnya, kuda besiku kupacu. Tak peduli kendaraan lain yang mau pergi entah ke mana. Suara angin berdesir pelan mesrah berhasil menerobos celah helm dengan kaca buram penuh goresan. Entah sudah jatuh berapa kali. Matahari terik memandangku tajam, juga motor dan mobil yang berpapasan, dan lebih banyak yang searah melirik tak kuhiraukan.

Perkenalkan namaku Awi. Aku seorang guru yang biasa saja. Biasa terlambat disiplinku, biasa marah harga diriku, biasa berseragam beda itu nyataku, biasa melanggar aturan itu harapku, betul-betul biasa-biasa saja. Tapi itu dulu, biasa kulakukan sebelum jadi guru. Mau ngajar di sekolah islam itu tidak pernah jadi cita-cita sebelumnya. Namun apa daya, takdir dan cinta bertemu di sini. Di SDIT Wahdah Islamiyah 01.

Sepanjang jalan menatap ke depan. Fokus sering berpindah, kadang  mata ke lampu stop motor di depan, lampu sein mobil yang ada di samping kiri, tongkat Pak  Ogah di persimpangan jalan, dan lebih sering menatap spidometer yang jarumnya tidak bergerak karena sudah rusak.

Rumahku berjarak lebih 20 km dari tempatku mengajar. Jauh jika dilakukan berjalan kaki, iyallah… karena dipastikan langkah-langkah kaki mungilku tak sanggup kuayun meski semangat bara tanggal muda ada di depan mata. Namun akan terasa dekat jika kita mencoba mengukurnya dengan rumus matematis. Atau lebih tepatnya rumus fisika. Atau lebih tepatnya lagi rumus fisika kinematika, yaitu dengan menggunakan rumus gerak lurus beraturan (glb) . Jika kecepatan disimbolkan dengan huruf V  dengan satuan km/jam, jarak disimbolkan dengan s dengan satuan km, dan waktu disimbolkan dengan t, maka cara untuk menentukan waktu yang diperlukan untuk sampai ke sekolah dengan kecepatan 40 km/jam adalah dengan membagi jarak dengan kecepatan. Atau  lebih mudahnya dengan

atau setengah jam. Jadi, ke sekolah hanya butuh 30 menit jika kecepatan motorku tetap, 40 km/jam. Tapi ini Makassar, keluar dari lorong saja harus mengerem beberapa kali karena lubang dan gerombolan kerikil seakan bersahutan menghadang ingin ikut. Di perempatan, harus rela antri, mengalah dengan pengendara yang melawan  simbol tanda larangan.

Kali ini jalanan mulai sepi tapi tidak sepi-sepi amat. Kuda besi alias motor dengan tagline selalu di depan yang tepat di tanggal 13 Maret 2020 berusia 5 tahun.  Tepat hari Senin, di hari 5 tahun lewat 3 hari. Bersama motor yang setia menemaniku, pandemic covid-19 mengharuskan sekolah di rumahkan. Harusnya aku juga di rumah, tapi karena baru hari pertama. Sekolah dasar yang memiliki “visi beraqidah, berprestasi, dan berwawasan lingkungan hidup” ini masih merasa baru dalam proses belajar mengajar di rumahkan, atau istilah kerennya belajar online, dan kemudian diistilahkan belajar dari rumah (BDR) maka perlu ada rapat penyamaan persepsi bagi guru-guru.

Memasuki gerbang tanpa hambatan, tidak ada jejeran motor yang parkir di tempat dilarang parkir, tidak ada jejeran siswa yang disambut senyuman manis dari ustadzah yang piket. Mungkin juga karena ku datang di jam 8 lewat jadi tidak ada yang piket, tidak ada anak-anak di lapangan, tidak ada. Sepi.

Kuparkir di tempat favorit, tempat yang menjadi lahan rebutan guru-guru lainnya. Tempat parkir yang aman dari sengatan matahari. Kuturunkan standar sampingnya dengan hati-hati, kubuka helm juga dengan hati-hati. Takut karena kacamata murahan yang gagangnya sudah tiga kali di lem alteco ini patah tersenggol helm yang kacanya buram serta bau yang bisa jadi membuat pinsang barisan prajurit kutu-kutu, jika kutunya tidak tahan bau apek dan tidak juga pakai masker.

Kulangkahkan kaki menuju kelas, kelas perjuangan yang  akan lahir pejuang-pejuang. Kelas damai yang keramaiannya melahirkan juru-juru damai. Kelas penuh dengan harapan melalui doa-doa yang senantiasa terlantun khusus untuknya.

Kelas 4A1. Karena letaknya di tengah-tengah, sebelum sampai kusempatkan menoleh kanan dan kiri. Memerhatikan deretan tiang merah yang seakan ikut senyum menyambutku, seolah ikut menyapa. Tidak ada keriuhan di koridor menuju kelas, tidak ada sambutan dan pelukan dari siswa kelas 1. Tidak ada tabrakan dari siswa yang bermain kejar-kejaran di koridor. Tidak ada sapaan manja siswa mengajak salaman dan menanyakan kabar di lorong koridor pagi ini. Sambil asal memeriksa kunci kecil kelas di balik saku celana, pintu yang biasanya lebih duluan terbuka dari kedatanganku. Kini, harus kubuka gemboknya pagi-pagi dengan tanganku sendiri.

Sepi..sunyi, sama seperti di koridor, di dalam kelas juga sepi. Barisan bangku tak berpenghuni, perpustakaan mini yang biasanya menjadi tempat nongkrong paling ramai juga tidak ada orang. 

Kubuka hape yang tidak diproduksi lagi, mencari aplikasi WhatsApp. Di urutan pertama karena sudah tersematkan, grup “Ortu Murid 4A1“.

Alhamdulillah, bagaimana kabarnya anak sholeh 4A1…?

Sudah shalat dhuha? Berdo’a..ingat doakan kedua orang tua kita yah…

Budaya sekolah kita? Sudah langsung siapa shalat jika dengar adzan? Sudah mengaji?

Alhamdulillah.. Sekarang waktunya belajar matematika…(jam 8.15 sampai 9.25 wita)

Pelajaran Matematika hari ini, kita belajar tentang pengolahan data… Pengolahan data dimulai dengan pengumpulan data..

Masih ingat waktu pemilihan ketua kelas? Waktu Hudzaifa terpilih jadi ketua kelas? kita adakan pemungutan suara…

Untuk lebih lengkapnya buka halaman 121 sampai 124..

Setelah itu Coba kerja #Latihan 1 halaman 125

Insyaallah belajar sama2nya di zoom sebentar malam ba’da isya..

Semoga dimudahkan semua belajarnya anak sholeh..

Kelas 4A1 harus kuat… 

Itu bunyi pesanku, tetap merasa tidak ada apa-apa. Berharap mereka tetap nyaman dan merasa kehadiranku di sisinya yang mungkin tidak terlalu mereka harapkan karena kegempitaan libur lama, libur dua pekan.

Kuhamparkan sajadah, entah milik siapa. Mungkin sengaja anak-anak tumpukkan di meja perpustakaan mini waktu hari Jum’at, berharap Senin ini bisa kembali dengan mudah mereka hamparkan kembali di tempat membaca, bermain, berkumpul, bercanda, shalat, mendengarkan nasihat, dan berdo’a, serta tempat makan-makan di hari Rabu Sehat.

Setelah salam, kugembok kembali pintu kelas yang akan menjadi kenangan ini menuju lantai dua, ruang rapat, bermusyawarah. Menyamakan persepsi untuk membicarakan langkah sekolah untuk situasi di luar prediski. Ujian penilaian tengah semester terhenti di saat menyisakan tiga hari pelaksanaan.

Pro kontra penggunaan teknologi untuk anak usia SD tidak bakal habis dibahas. Namun untuk situasi ini, semua bersepakat bahwa pembelajaran harus tetap berlangsung. Maka dengan memanfaatkan teknologi adalah cara efektif di tengah mewabahnya pandemic covid-19 yang tingkat penyebarannya semakin sulit terkendali. Virus ini harus dihentikan penyebarannya dengan melakukan social distancing, anak-anak yang di lockdown di rumah harus tetap memperoleh materi seefisien mungkin agar kejenuhan tidak keluar rumah dan beban untuk terus belajar dapat dirasakan dengan enjoy, dapat dilakukan dengan senang gembira.

Setelah dhuhur berjamaah di Masjid An Nur dekat sekolah, dan dapat jatah makan siang dari traktiran Ustadz Zubair di Warung Tegal seberang sekolah. Kuambil buku paket Matematika di kelas, dan kembali memacu motor untuk cepat kembali di rumah. Tidak sabaran untuk bertemu dengan anak kelas 4.A1 malam harinya.

Wifi tiba-tiba disconnect setelah sesaat mengirimkan link untuk bergabung di aplikasi zoom gratisan. Aplikasi meeting semacam skipe ini adalah aplikasi cloud meeting multi platform untuk video call yang bisa mencapai peserta hingga 1000 orang.  Namun, karena gratisan zoompun hanya membatasi pesertanya cuman sampai 100 orang dan waktu bertemu di dunia maya berdurasi 40 menit.

Kembali ke wifi disconnect tadi, setelah restart laptop dan mencoba klik link di grup WhatsApp melalui hp android yang sudah tidak diproduksi, akhirnya terdengar suara Hudzaifa dan Shafiq. Alhamdulillah, kupandangi wajah mereka di balik layar dalam-dalam terdengar suara, “Ustadz..klik itu yang ada gambar kamera,” sahut Hudzaifa hampir bersamaan dengan Shafiq setelah kumenanyakan bagaimana caranya agar kameraku juga aktif kelihatan. Setelah itu, satu-satu bermunculan. Alhamdulillah, malam itu kami sempat berkumpul dan saling menatap wajah meski semuanya tidak sempat hadir tapi rindu akhirnya terobati.

Setelah satu persatu membacakan hasil jawaban matematikanya sedangkan yang lainnya menyimak. Akhirnya kami harus berpisah. “Bagaimana caranya ini keluar?,” tanyaku untuk memastikan mereka masih mendengar suaraku. Lagi-lagi, mereka anak yang tumbuh di era digitalisasi sigap menjawab. Leavemeki saja Ustadz. Klik leave meeting.

Esoknya, beda seperti kemarin. Tidak ada tunggangan kuda besi, tidak ada ayunan langkah kaki gemulai, tidak ada acara buka gembok kelas, tidak ada tumpukan sejadah, tidak ada rapat guru, tidak ada juga traktiran dari Ustadz Zubair. Benar-benar di rumah aja.

Assalamualaikum anak sholeh…bgmn kabarta???

Alhamdulillah semoga semua kabarnya baik-baik…

Kami harap semua sudah Shalat Dhuha seperti biasa..berdoa sebelum belajar, doakan kedua orang tua, doakan semuanya..,doa keselamatan dunia akhirat kita.

Di rumah tetap belajar seperti biasa, dan seperti di kelas. Tetap jalankan tiga zero kelas kita di rumah,

1. Zero Waste, pastikan tidak ada sampah. Daun kering di depan rumah, kertas sobek di ruang tamu, rambut rontok di kasur, ataupun debu di atas meja. Juga tidak ada sampah waktu yg terbuang. Isi dengan kebaikan, belajar, membaca buku ..,kedua..

2. Zero Accident, tidak ada yg bisa mencelakakan kita..ingat Rapikan mainan jika sudah dimaini agar tidak terinjak..rapikan barang2 di rumah, simpan di tempat yang aman…zero yang ke tiga..

3. Zero Cry…di rumah tidak boleh ada yg sedih, apalagi marah-marah karena kita.. Bantu ibu cuci piring,   berhemat air, cuci baju, menyapu, tersenyum, bantu ayah tutup pagar. Jangan buat adik dan kakak sedih, main bersama dan belajar bersama…

Selamat belajar di rumah..

Ingat tugasnya jangan ditumpuk..selesaikan tugas tematik cerpennya tiap hari.

InsyaAllah pukul 09.00 kukirimkan materi bahasa Arab…

Syukron

Itu bunyi ketikan whatsAppku di grup kelas 4A1. Memastikan mereka tetap baik-baik saja, menyelami dalamnya ilmu dengan orang tercinta di rumah. Memindahkan suasana kelas yang terbangun hampir 9 bulan pastilah tidak mudah. Apalagi suasana yang di kelas juga sementara dalam pembangunan karakter. Mendidik bukan hanya pekerjaan sehari, sebulan, setahun, namun mendidik adalah pekerjaan yang memerlukan waktu tak kunjung henti. Mendidik memerlukan proses waktu lama untuk selalu dikenang bagi objek didikannya, siswa tercinta.

Selain waktu, mendidik bukan pekerjaan seorang, bukan juga hanya pekerjaan di sekolahan saja, bukan juga semata dari orang tua saja. Mendidik anak adalah pekerjaan satu kampung, dalam pepatah Afrika. Mendidik perlu kerjasama semua, perlu ada peran negara, peran pemerintah, peran masyarakat, dan yang paling penting adalah peran keluarga. Di saat proses social distancing, di saat semua orang harus di rumah saja. Saatnyalah peran mendidik itu kembali ke fitrahnya. Bukankah awal mula madrasah ada di tangan ibu? Ibundalah guru sebenarnya. Jika ada guru, maka perlu pemimpin. Di sekolahan ada Kepala Sekolah, begitu juga di rumah. Bapak..,Ayahlah sebagai Kepala Sekolahnya!

“Abi, ayo makan,” ajak Istriku tercinta yang kini diucapkannya lebih keras setelah dua panggilan sebelumnya kuabaikan. Setelah bermain dengan tiga anak lelakiku yang umurnya masih di bawah 5 tahunan. Kelelahan mulai menyerang, satu persatu mulai tertidur di antara mainan yang masih berserakan.

Hari Rabu, badan mulai kaku. Mager alias malas gerak mulai menyerang. Medsos menjadi teman, layar datar jadi interaksi paling sering dua hari ini. Berita mengenai covid-19 telah mendominasi dan selalu ditunggu-tunggu. Berharap wabahnya hilang seketika. Pergi bersama hilangnya pekat malam setelah intipan sinar matahari pagi mulai menyapa.   

Setelah berlari-lari kecil di teras rumah dengan Si Kecil nomor dua, yang kepalanya sudah botak, ulah Kakak yang mengguntingnya tidak rapi.  Aktivitas mengajar dari rumah kumulai dengan mengirim voice note, pesan suara yang isinya seperti berikut,

Assalamualaikum anak sholeh..

Bagaimana kabarnya?

Semoga semua baik-baik saja…

Kita semua ikut sedih dari kabar meninggalnya Nenek Kita Afdhal..

Alhamdulillah hari ini sudah hari ketiga di rumah, mengikuti arahan pemerintah untuk tidak keluar rumah. Namun belajar tidak boleh ada kata berhenti. Apalagi Ummat yang terlahir, yang awalnya Iqro, bacalah. Kita ini Ummat pembelajar.. Seperti yang Ustadz biasa ingatkan di kelas.

Banyak kisah dari sahabat  nabi yang dikenal cerdas.. Salah satunya Zaid Bin Tsabit, yang diangkat menjadi sekretaris Nabi sejak usianya masih kecil. Karena Islam ini agama bukan untuk di Arab saja, dan harus diperkenalkan untuk semua orang dipenjuru bumi. Zaid kecil belajar bahasa Yahudi hanya 15 hari, dan menguasai 5 bahasa asing lainnya…

Alhamdulillah kemarin kita telah hafal kosakata bahasa Arab, hari ini kita lanjut dengan bahasa Inggris… Nanti ustadz kirimkan materinya.

Jangan lupa shalatnya, karena sholat itu jauh lebih penting dari semuanya.. Lebih penting dari makan, tidur, apalagi mainan kita..Shalat dhuha setelah itu doakan kedua orang tua, dan berdoa untuk keselamatan dunia akhirat kita…jangan lupa doakan semua guru-guru kita juga..

Sudah dulu yah…ingat belajar mandiri, bantu orang tua dan menulis cerpennya..

Syukron..

Setelah materi Bahasa Inggris terkirim, aktivitas bermain bersama dengan 3 lelaki kembali dilanjutkan. Kali ini hanya memerhatikan mereka menggunting huruf hijaiyyah bersama Ummi . Kemudian ditempelkannya di kalender Lazis 2019.

Di hari ketiga ini, mulai banyak meme, tulisan mulai bermunculan di beranda-beranda facebook, gambar-gambar lelucon memenuhi instastory , juga status whatsApp. Mulai lelucon guru yang mengajar di kelas di depan bangku kosong,  orang tua yang mulai stress kehabisan kata-kata karena dihujani berbagai tugas yang harus dijelaskan kembali ke anak. Juga anak yang merasa tak sanggup diajar sama orang tua mereka, “guru di rumah lebih galak,” katanya.  

Namun semangat sebagai Ummat yang merasa lahir dari dengan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, sebaiknya tidak ikut buang waktu. “Jangan buangmu dengar pembicaraan orang tua di luar sana yang kebingungan cara mengajar anak mereka. Karena Saya yakin, Kamu anak yang jauh lebih beruntung. Punya Ayah dan Ibu yang hebat, coba lihat gelar di belakang nama mereka. Bahkan gelar Ayah Ibumu jauh lebih hebat dari Gurumu. Peluk erat tatapan sayang mereka dengan senyummu yang menawan,” harapku, yang kutulis di beranda facebookku ikut meramaikan.

“Tak usah ikut juga berpikir tentang kehabisan masker, karena udara dalam rumah tak mengharuskanmu mengenakannya. Sayangi diri dengan jaga kesehatan dengan tidak menatap smartphonemu berlama-lama dengan game murahan. Jangan buang waktumu…,”, lanjutku lagi. Berharap mereka, meskipun terlahir sebagai anak milenial. Anak yang sejak lahirnya dipenuhi dengan teknologi maju, telah bersahabat dengan smartphone sejak bayinya maka boleh jadi game online makanan sehari-harinya. Teknologi tidak boleh melenakan, tidak terjerumus di dampak negatifnya saja.

Ada pepatah, “Jika punya rumah di pinggir sungai ajari anakmu berenang, jangan engkau pagari sungainya.” Orang tua yang fobia dengan internet dengan berbagai fitur di dalamnya akan membuat anak semakin penasaran. Namun jika diarahkan untuk kegiatan positif, ditemani belajar dan diingatkan untuk sesuatu yang tidak boleh maka si anak akan merasa terbimbing. Sehingga, jika terjun ke sungai akan meluncur berenang, menikmati suasana rumahnya. Namun jika dilarang-larang dan ditutup-tutupi maka jika punya kesempatan maka saat terjun, dia akan kehabisan tenaga dan ikut hanyut di derasnya sungai informasi yang tidak terkendali.  

Hari Kamisnya, edaran maklumat dari Majelis Ulama Sulawesi Selatan diikuti surat edaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memerintahkan agar Shalat Jum’at diganti shalat Dhuhur. Semua shalat berjamaah dilakukan di rumah mulai hari itu.

“Doamu yang tulus saat kesendirian lebih berharga daripada ikut nimbrung bahas bolehkah orang dilarang shalat berjamaah, dan jumatan…?”

Ketakutan boleh saja…apalagi untuk seusiamu.

Namun tetap menatap masa depan, karena generasiku adalah generasi gagal yang telampau jauh tertinggal dari kadar ilmu masanya.

Kini harapku untukmu, belajarlah yang banyak, manfaatkan “libur di rumah aja” dengan banyak membaca. Kembalikan Ummat ini ke fitrahnya, kembalilah menjadi ummat yang gila Ilmu, gila dengan banyak membaca.

Belajarlah karena kelak saat kau akan jadi scientist hebat, asa kecakapan leadermu, belajar lebih banyak dari hanya yang tertulis ini.

Hari-hari selanjutnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Mengingatkan siswa kelas 4.A1 agar mengisi kartu kontrol belajar yang telah di upload di spreadsheet. Spreadsheet sebenarnya adalah lembaran kertas yang menunjukkan akuntansi atau data lain dalam baris dan kolom. Namun karena kelebihannya yang dapat diakses oleh banyak orang, maka saya berinisiatif untuk menggunakannya sebagai alat kontrol yang bisa diisi bersama. Bisa dikontrol bersama. Menghadapi bencana wabah covid-19 ini memerlukan kerjasama semuanya. Dilembaran spreadsheet telah ada kolom pelakasanaan shalat, kolom mengaji dan murojaah, kolom pelajaran, dan kolom perbuatan baik. Di barisnya ada nama-nama mereka dengan warna sesuai kelompok guru BTHQnya.


Jika sebuah virus menyebar, kemudian memerangi dunia, buru-buru banyak negara akan menutup batas teritorinya dan bersegera berdiam diri di rumah mereka.

Di saat genting itu, umat manusia akan terbagi dua: kelompok yang memiliki sumber pengetahuan dan bekerja siang malam untuk mencari obatnya, atau kelompok kedua yang hanya bisa menanti kematiannya perlahan-lahan.

Di waktu itulah, orang-orang akan mengerti bahwa ilmu itu bukanlah dipelajari untuk sekadar bergaya, melainkan sebuah wasilah untuk keselamatan.

Dr Mustafa Mahmoud dalam Muhadharahnya 30 tahun yang lalu

Ilmu itu bukanlah dipelajari untuk sekadar bergaya, melainkan sebuah wasilah untuk keselamatan

Munawir Taufik, S.T, Wali kelas 4.A1 TA.2019-2020

About admin

Check Also

PENGALAMAN MENGAJAR ANAK DI RUMAH

          Aku seorang Ibu dari 3 (tiga) anak Laki – laki, Anak pertamaku berumur 10 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *