Home / artikel / Hidupkan Malam Ramadhanmu dengan Cahaya Qiyamullail

Hidupkan Malam Ramadhanmu dengan Cahaya Qiyamullail

Oleh : Ustadz Aswanto Muh. Takwi, Lc. M. A

Shalat tarawih adalah salah satu tradisi yang ditegakkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta para salafushshalih, yakni shahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, aimmah sampai kepada kita hari ini.

Tarawih adalah termasuk shalat lail (shalat malam). Tarawih adalah shalat yang dilaksanakan di malam hari di bulan suci Ramadhan. Sedang tahajjud adalah shalat yang dilaksanakan di malam hari setelah tidur (Hajar Bin Amr Anshari).

Di masa dahulu, Rasulullah dan para salafushshalih melaksanakan shalat tarawih dengan 4 rakaat dengan bacaan yang panjang lalu istirahat sejenak, lalu melanjutkan dengan 4 rakaat dengan bacaan yang panjang lalu ditutup dengan shalat witir 3 rakaat.

Ada banyak keutamaan dari shalat tarawih dan shalat-shalat lail.

Allah berfirman dalam QS. As Sajadah : 16
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan.

Mereka yang menghidupkan malamnya dengan qiyamullail (shalat malam) adalah ciri orang-orang yang bertaqwa. Yang dengan ketaqwaan itu Allah menjamin syurga bagi mereka. Di antara sifat mereka adalah sangat sedikit tidurnya di malam hari karena beribadah dan mereka banyak beristighfar di waktu sahur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Laksanakanlah shalat malam karena sesungguhnya ia adalah tradisi/kebiasaan orang-orang shalih terdahulu. Ia pun dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus segala kesalahan dan mencegah dari perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah bersabda :
“Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan untuk mencari pahala dari Allah, maka Allah akan ampuni dosanya yang telah lalu”

Hukum Shalat Tarawih
Shalat tarawih atau qiyamullail hukumnya “sunnah muakkadah” artinya sunnah yang sangat dianjurkan. Dan Rasulullah senantiasa memotivasi para shahabat untuk melakukannya, meskipun Beliau tidak memerintahkannya. Dan ini adalah amalan Rasulullah dan para shahabat di bulan Ramadhan.

Waktu pelaksanaan shalat tarawih?

Shalat tarawih dilaksanakan setelah shalat isya, batas waktunya sampai sebelum shubuh dan dianjurkan secara berjama’ah.

Hal ini berdasarkan apa yang dilakukan Rasulullah dahulu. Di mana ketika beliau shalat di malam pertama, para shahabat ikut berjama’ah dengan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian di malam kedua dan ketiga. Dan hal ini berlanjut sampai kepada khulafaur rasyidin.

Ibnu Qudamah berkata : Melaksanakan shalat tarawih berjama’ah lebih utama dari pada shalat sendiri. Jika ada seorang panutan shalat di rumahnya, maka aku khawatir orang-orang akan ikut shalat di rumahnya dan sunnah ini menjadi hilang.

Hadits dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu dan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu’ Anha menyebutkan bahwa shalat tarawih dilaksanakan di masjid secara berjama’ah.

Demikian pula, saat Imam Ahmad rahimahullah ditanya, yang mana yang lebih engkau senangi shalat tatawih di masjid berjama’ah atau shalat taraeih di rumah. Maka Beliau menjawab : Aku lebih menyukai shalat tarawih di masjid berjama’ah dari pada shalat tarawih di rumah.

Tentang shalat malam Rasulullah, Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah tidak pernah menambah dari 11 rakaat di bulan suci Ramadhan atau di luar Ramadhan”.

Beliau Radhiyallahu’ anha juga pernah berkata, “Rasulullah shat 4 rakaat dengan bacaan panjang, lalu dilanjutkan dengan 4 rakaat dengan bacaan panjang lalu ditutup denga witir 3 rakaat”.

Pada hadits yang lain disebutkan, “Shalat malam itu 2 rakaat 2 rakaat, dan jika engkau khawatir akan masuk shubuh, maka shalatlah 1 rakaat untuk mewitirkan shalat yang dilaksanakan sebelumnya.” (Ibnu Umar)

Maka bisa dikatakan bahwa :
✔️ Yang dilakukan Rasulullah adalah 11 rakaat baik di bulan Ramadhan maupun di luar.

✔️ Rasulullah tidak membatasi jumlah rakaat shalat malam/tarawih sebagaimana dalam hadits di atas (shalat malam itu 2 rakaat 2 rakaat). Tidak disebutkan penetapan secara khusus.
Sehingga ulama mengatakan TIDAK ADA BATASAN tertertu dalam shalat lail termasuk shalat tatawih.

Ibnu Abdul Barr mengatakan, Barangsiapa yang ingin, maka boleh baginya memperpanjang bacaan dengan sedikit rakaat. Atau jika ia ingin, boleh baginya memperpendek bacaan dengan banyak rakaat. Dan yang lebih utama adalah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni 11 rakaat yang bacaanya panjang.

Demikian pula yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah bahwa tidak ada batasan rakaat.

Sehingga ada yang melaksanakannya sebanyak 20 rakaat, 36 rakaat sampai 40 rakaat. Wallahua’lam

Di antara hal utama dalam shalat tarawih adalah membaca al quran dengan sempurna (30 juz). Namun dalam hal ini, maka kembali pada kondisi jama’ah.

Sebagaimana Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, Beliau ketika memanggil imam tarawih, siapa yang bacaannya cepat maka Beliau memintanya membaca 30 ayat setiap rakaat. Jika bacaanya sedang, maka 25 ayat dan jika bacaannya lambat, maka 20 ayat setiap rakaatnya.

Namun yang demikian tidaklah mesti dilakukan. Tetap memperhatikan kondisi jama’ah. Joka telah ada kesepakatan antara jama’ah mengenai bacaan shalat tarawih, semisal 1 juz setiap malamnya, maka boleh baginya. Jika tidak, semisal ada orang tua, dan sebagainya maka tidak mengapa ia tidak memanjangkan bacaannya.

Cara pelaksanaan shalat tarawih atau shalat lail

Dua rakaat, kemudian salam, lanjut dua rakaat kemudian salam sampai seterusnya adalah yang lebih utama berdasarkan pendapat mayoritas ulama.

Apa setelah shalat tarawih?
Hendaklah kita melaksanakan shalat witir.
Shalat witir boleh dengan 1 rakaat, 3 atau 5 rakaat.

Rasulullah bersabda, witir itu hak. Siapa yang ingin witir dengan 5 rakaat maka silahkan, 3 rakaat silahkan, dan 1 rakaat silahkan.

Cara pelaksanaan witir.
✔️ Boleh 2 rakaat dulu baru salam, lalu lanjut 1 rakaat baru salam.
✔️ Boleh langsung 3 rakaat baru salam.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa, hasan bin ali Radhiyallahu ‘anhu pernah diajarkan sebuah doa qunut oleh Rasulullah, tetapi dalam hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan padanya: “Bacalah do’a qunut tersebut pada sebagian waktu saja”.

Sehingga hal ini menunjukkan bahwa membaca qunut witir bolehkan. Ia boleh melakukan atau meninggalkannya. Di bulan Ramadhan, jika ia membaca qunut witir pada keseluruhan bulan Ramadhan, maka itu sangat baik. Jika ia berqunut di separuh akhir bulan Ramadhan, itu pun baik. Jika ia tidak berqunut, juga baik.” Hal ini adalah perkara yang longgar.

Doa sesudah witir.
“Subhanal malikul Quddus
Subhanal malikul Quddus
Subhanal malikul Quddus
” (Yang terakhir ini sedikit mengangkat suara/lebih besar dari yg pertama dan kedua).

Jika mengucapkan salam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca, ‘Subhaanal malikil qudduus’ sebanyak tiga kali lalu beliau mengeraskan suaranya pada ucapan yang ketiga.” (HR. An-Nasa’i)

Jika shalat tarawih lebih afdhal di masjid dan berjama’ah, bagaimana dengan kondisi saat ini di mana kita diminta untuk shalat atau beribadah di rumah?
Maka sesungguhnya silahkan kita shalat di rumah kita masing-masing secara berjama’ah. InsyaAllah pahalanya sama InsyaaAllah.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan ramadhan dalam keadaan yang terbebas dari wabah hingga kita bisa berhari raya sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Audio dan download :

Materi 3 : Penataran Seputar Ramadhan (PSR)


About admin

Check Also

lightning and tornado hitting village

Saat Kemarau, Hujan, dan Badai

Dari Anas bin Malik, beliau menceritakan: Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at melalui …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *