Home / artikel / Cerpen : Perpustakaan Inspirasiku

Cerpen : Perpustakaan Inspirasiku

Juara III Lomba Cerpen Karya Ahmad Ghiyats Assauqi, kelas : 5.A1

—-

Di dalam perpustakaan banyak sekali buku tersusun rapi, ada buku cerita, buku pelajaran, dan masih banyak buku yang lain. Ruangannya sangat sejuk, bersih, nyaman, dan tenang membuat kita berlama-lama di dalamnya. Perpustakaan pada waktu istirahat banyak sekali murid yang berkunjung,  ada yang  datang meminjam buku,mengembalikan buku, membaca, serta mengerjakan tugas.

Perpustakaan mempunyai peraturan diantaranya dilarang membawa makanan masuk kedalam perpustakaan, tidak boleh mencoret, merobek buku perpustakaan. Jika meminjam buku kita harus menjaganya dengan baik, jika buku hilang kita akan terkena sanksi yang besar dan juga harus membayar sesuai harga buku yang hilang. Buku dikembalikan pada waktu yang tepat, dengan begitu koleksi buku perpustakaan akan lama digunakan.  

Di sekolah juga ada kereta perpustakaan yang terparkir di taman sekolah, tempatnya sejuk tapi agak ribut karena banyak murid-murid bermain di sekitarnya, koleksi bukunya juga tidak sebanyak diruang perpustakaan. Murid-murid lebih banyak memilih untuk membaca di ruang perpustakaan, karena perpustakaan mengajarkan untuk selalu menjaga ketenangan agar tidak menganggu pengunjung lain.

Pada hari senin sekolah kedatangan dua murid baru, mereka saling berkenalan di kelasnya, ternyata mereka mempunyai hobi yang sama karena hobi yang sama mereka sangat akrab. Setiap jam istirahat mereka sering ke perpustakaan bersama dan pada saat jam pulang tiba mereka keperpustakaan sambil menunggu jemputan. Jika berada di dalam perpustakaan mereka seperti orang yang tak saling kenal, tapi jika di luar perpustakaan mereka ribut juga seperti murid lainnya.

Dua murid baru itu sangat cerdas mereka bernama Ahmad dan Hasan, mereka sangat suka membaca, karena Ahmad dan Hasan anak yang kreatif mereka mengusulkan kepada ustadz ustadzah untuk membuat perpustakaan mini didalam kelasnya, teman-teman dan ustad ustazah menyetujui rencana yang akan dilakukan oleh Ahmad dan Hasan, yang tujuannya agar bisa membaca buku di kelas tanpa harus ke ruang perpustakaan. “Ide kalian memang unik-unik,” kata teman-temannya, “Terima kasih telah menyetujui perpustakaan mini ini,” kata Ahmad dan Hasan kepada teman temannya.

Mereka meminta kepada teman-temannya untuk membawa buku yang akan dipajang di rak perpustakaan mini tersebut, perpustakaan mininya mereka hias agar lebih menarik seperti tulisan, gambar, dan pengukur tinggi badan bergambar jerapah.

Ahmad Dan Hasan murid kelas lima yang mendapat julukan si kutu buku, artinya anak yang gemar membaca. Kata Ahmad dan Hasan membaca banyak sekali manfaatnya. Pertama kita akan pintar, kedua kita juga bisa meraih cita-cita, ketiga kita bisa menjadi orang yang sukses, dan jika sukses kita akan kaya, kalau kita kaya kita bisa membangun perpustakaan umum yang sangat besar yang bisa dikunjungi oleh siapa saja.

Ahmad dan Hasan juga dikenal sebagai murid yang paling rajin berkunjung keperpustakaan, tiap hari mereka selalu ada di sana, mereka sudah dikenal baik oleh pengelolah perpustakaan. Perpustakaan merupakan tempat yang terbaik buat mereka, perpustakaan memberikan hadiah kepada keduanya, hadiah berupa buku cerita, betapa bahagianya mereka dengan adanya hadiah itu, buku itu akan menambah koleksi-koleksinya. Buku adalah teman sejatinya, buku juga jendela dunia, semakin dibaca semakin bertambah luas pengetahuan yang diperoleh, itu pesan ustaz dan ustazah yang selalu mereka ingat.

Keesokan harinya Hasan tidak datang kesekolah, Ahmad sangat gelisah menunggunya, sampai jam pelajaran pertama dimulai Ahmad masih belum muncul juga, Ahmad sangat penasaran ingin tahu tentang kabar Hasan. Akhirnya Ahmad mencari informasi tentang keadaan Hasan kepada ustadzah,

“Ustazah, kok Hasan hari ini tidak masuk sekolah?”  tanya Ahmad.

“Iya nak, Hasan hari ini lagi kurang sehat,” jawab ustazah.

“Ada apa Nak Ahmad, apa kamu punya janji dengannya,“ jawab ustazah.

“Iya ustazah kami ada janji sepulang sekolah, rencananya kami mau ke toko buku, tetapi enggak apa-apa ustazah lain kali saja perginya, semoga Hasan cepat sembuh dan kembali bersekolah lagi, walaupun Hasan tidak masuk sekolah hari ini saya tetap semangat keperpustakaan ustadzah,” jawab Ahmad.

“Ustazah, insyAllah sepulang sekolah saya akan menjenguk Hasan di rumahnya, kalau ustazah dan teman teman lainnya mau ikut kita berangkatnya bersama-sama,” kata Ahmad.

Sesampainya di rumah Hasan mereka mengetuk pintu tok…tok…tok

“Assalamualaikum,” ucap mereka bersamaan,

“Waalaikummussalam, tunggu yah,” jawab ibu Hasan dari dalam rumah.

“Silakan masuk,” kata ibu Hasan. “Terimakasih, Bu, ” jawab teman-teman Hasan dengan kompak.

“Hasan lagi demam suhu badannya terlalu tinggi, jadi ibu istirahatkan dulu di rumah, nanti setelah Hasan agak baikan baru ibu ijinkan kembali masuk sekolah,” cerita Ibu Hasan. Mata Ahmad tertuju pada salah satu sudut rumah Hasan, dalam hati Ahmad berkata, “MasyAllah ternyata Hasan memiliki sudut baca di dalam rumahnya, sudut baca itu selalu terbayang di mata Ahmad sampai mereka meninggalkan rumah Hasan. Ahmad juga ingin punya sudut baca di rumah sehingga di rumah pun bisa menghabiskan waktu dengan membaca.”

Ketika Hasan sudah kembali masuk sekolah, Ahmad banyak bertanya kepada Hasan tentang sudut baca yang ada di rumahnya. Hasan menceritakan tentang langkah-langkahnya mempersiapkan sudut bacanya dan dukungan orangtuanya, mulai dari menghiasnya sampai mengisi rak-rak bukunya.

Sudut baca Hasan sama dengan perpustakaan mini yang ada di kelasnya dengan gambar hewan dan bunga, sehingga sudut baca Hasan tambah keren dan tak lupa pula juga Hasan memasang pengukur tinggi badan yang begambar dinosaurus yang lebih besar dari pada yang ada di perpustakaan mini kelasnya.

Setelah Ahmad mendengar penjelasan Hasan, Ahmad juga sangat tertarik membuat sudut baca di rumhnya, Ahmad meminta Hasan untuk membantu mempersiapkan semuanya, meskipun tidak seindah di kelas dan dirumah Hasan. Ahmad membuat sudut baca itu menggunakan barang-barang bekas yang ada di rumahnya dan buku-buku koleksinya merupakan hadiah atas prestasinya serta buku dari kakaknya, dengan begitu Ahmad sangat senang mempunyai sudut baca di rumahnya sendiri.

Karena seringnya berkunjung keperpustakaan, Ahmad dan Hasan memutuskan untuk membuat sudut baca di rumahnya masing-masing, kini mereka menjadi murid yang selalu menjadi andalan jika ada perlombaan yang diadakan sekolahnya, Ahmad dan Hasan tidak pernah ketinggalan jika perpusatakaan mengadakan festival duta baca dan mereka selalu saja menduduki peserta terbaik. Ahmad dan Hasan tidak pernah sombong dan tidak cepat berpuas diri, mereka terus belajar dan membaca tanpa mengenal lelah karena dengan membaca kita bisa tahu apa yang sebelumnya kita tidak tahu.

Ustaz, ustazah, dan teman-teman di sekolahnya sangat bangga padanya. Semoga Ahmad dan Hasan dewasa nanti sukses dalam meraih cita-citanya, Ahmad bercita-cita jadi dokter, sedangkan Hasan bercita cita jadi dosen. Semua cita-cita mereka adalah cita-cita mulia. Orang tua Ahmad dan Hasan pun bangga atas pretasi anak-anak mereka.

dokumentasi saat penerimaan hadiah

About admin

Check Also

YAJUJ DAN MAJUJ

PreSonus Studio One Suatu ketika, Rasulullah bercerita kepada para sahabat. Beliau bercerita tentang hari Kiamat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *