(Episode belajar dari kisah kepergian ayah)
Oleh Pratiwi Putriani Yusuf
Dengan tidak menafikkan kekurangan ayah sebagai manusia biasa. Ayahku adalah orang yang memiliki sifat tawadhu dan kelemahlembutan. Rasa tanggungjawab beliau yang sangat besar terutama saat menjadi guru.
Teringat waktu aku masih SMA mau nebeng ikut motor beliau biar lebih hemat tetapi tidak pernah mampu karena ayah berangkat terlalu pagi pukul 06.00 atau paling lambat 06.30, beliau sudah wajib berangkat.
Tugasnya sebagai guru matematika dibeberapa sekolah tak pernah membuatnya lalai atau terlambat untuk menunaikan tugasnya. Prinsip yang membuatnya terkenang bahkan bagi siswanya yang sudah beliau ajar 40 tahun silam.
Selepas maghrib, salah seorang siswanya mengabari dan menanyakan kabar. Kamipun membalas dan menyampaikan kematiannya. Sang murid menelpon dan menyampaikan niatnya yang tertunda beberapa tahun lalu untuk mengumrohkan ayah, namun tidak jadi karena ayah baru saja umroh.
Qadarullah kembali tidak dapat terlaksana karena ayah sudah lebih dulu kembali ke RabbNya. Sang siswa sangat bersedih dan menyatakan jika keberhasilannya hari ini tak lepas dari peran ayah sebagai gurunya 40 tahun silam.
Kini, tersisa cerita-cerita indah dari orang-orang yang pernah bermulazamah dengan beliau. Semoga Allah membalas setiap kebaikannya. Aamiin
Bumi Allah
14 Juni 2024
Mengenang berpulangnya ayah kemarin.
AYAHKU GURUKU

