#MATERI BEDAH BUKU SERIAL DASAR-DASAR ISLAM PADA PENGAJIAN RUTIN SABTU PAGI SDIT WAHDAH ISLAMIYAH 01 MAKASSAR
(Sabtu, 18 Mei 2024)

ADAB KEPADA GURU

Adab yang baik serta budi pekerti yang luhur adalah risalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada segenap umat manusia hingga akhir zaman, sebagaimana beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَکَارِمَ الْأَخْلَاق

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang luhur.” [HR. Ahmad dan Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, hasan].

Islam secara khusus mengajarkan umatnya untuk beradab kepada guru; orang yang telah mengajarkan kebaikan kepadanya, baik melalui ilmu agama atau ilmu yang bermanfaat lainnya.

Terkait pengajaran ilmu agama, salah seorang ulama salaf pernah berkata, “Jika orangtua menyelamatkan anaknya dari api di dunia, maka para ulama mengajarkan ilmu agama untuk dapat menyelamatkan seseorang dari api di akhirat,”

Kemudian, bagaimanakah Islam mengajarkan umatnya untuk beradap kepafa guru?

Di dalam al-Quran Allah berfirman mengisahkan tentang pola interaksi antara guru dan murid; Khaidir dan Nabi Musa ‘alaihimassalam:

قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) dari apa yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?””
QS. Al-Kahf: 66

قَالَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Dia menjawab, “Sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku.”
QS. Al-Kahf: 67

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا

“Bagaimana engkau akan sanggup bersabar atas sesuatu yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentangnya?””
QS. Al-Kahf: 68

قَالَ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ صَابِرًا وَّلَآ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا

“Dia (Musa) berkata, “Insyaallah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.””
QS. Al-Kahf: 69

Ada beberapa pelajaran adab yang dapat diambil dari kisah dalam ayat di atas:
1. Hendaknya seorang murid bertutur kata yang mulia dan lemah lembut kepada gurunya, hal itu tercermin dari cara nabi Musa ‘alaihissalam dalam bertanya dan meminta kepada Khidir untuk mengajarinya ilmu, serta memohon agar diizinkan untuk ikut bersama beliau.
2. Menghormati guru dan menempatkannya dalam posisi yang semestinya, walaupun si murid memiliki kedudukan sosial lebih daripada gurunya sebagaimana yang dilakukan Musa ‘alaihissalam. Tidak ada kesan bahwa nabi Musa menempatkan dirinya lebih utama dari Khidir, padahal beliau adalah seorang rasul pilihan.
3. Bersabar terhadap tindakan dan perilaku serta keinginan seorang guru. Hal ini senada dengan nasihat Imam Syafi’i:
Bersabarlah dengan pahitnya sikap dari seorang guru
Karena sungguh masuknya ilmu ada di dalam sikap kerasnya
Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar sesaat
Maka ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya
Barangsiapa tidak belajar pada masa mudanya
Maka takbirlah empat kali untuk kematiannya
Harga diri seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa
Jika keduanya tidak ada, maka tidak ada guna keberadaannya

Mempelajari ilmu agama harus dengan perantara seorang guru, karena seorang guru akan memberikan kunci-kunci ilmu yang diperlukan muridnya, juga akan lebih semangat dari kekeliruan serta kesalahpahaman.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya seorang murid menjaga kehormatan dan tidak menyebar luaskan aib gurunya, tidak membanding-bandingkan gurunya dengan guru yang lain di hadapan beliau.

Menjadikan seorang guru sebagai lawan debat bukanlah adab yang baik, selain itu murid hendaknya menghindari sikap mendahului guru dalam berbicara dan berjalan, tidak memaksanya untuk memberi jawaban atas pertanyaan yang diajukan, atau memotong pembicaraannya ketika pelajaran sedang berlangsung.

Sahabat yang mulia Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa para sahabat ketika sedang bermajelis bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan wahyu diturunkan kepada beliau, merrka diam seakan-akan diatas kepala mereka ada burung yang bertengger. [HR. Bukhari]

Sebisa mungkin murid tidak memanggil guru dengan menyebut namanya secara langsung, panggillah dengan sebutan Ustaz, Pak Guru, Pak Kiai, dan sejenisnya, karena yang demikian adalah bentuk penghormatan kepadanya.

Tidak mengapa daam batas-batas tertentu memuliakan guru dengan mencium tangannya, atau kepalanya sesuai dengan adat yang berlaku.

Jika adab yang sudah disebutkan di atas benar-benar diamalkan, maka itu dapat menjadi awal kesuksesan seseorang dalam menuntut ilmu.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga memberikan contoh teladan kepada kita sebagaimana seorang murid berprilaku dan menghargai seorang guru, beliau pernah berkata kepada putra dari guru beliau, imam Syafi’i rahimahullah, ” Ayahmu adallah salah satu dari enam orang yang setiap malam diwaktu sahur saya doakan dengan kebaikan bagi mereka.”

Pada hakikatnya menghormati sosok guru adalah bentuk pengagungan terhadap ilmu yang dibawanya, jika yang dibawanya adalah ilmu syariat, maka ini adalah bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah. Akhlak ini tentu timbul dari ketakwaan yang bersemayam di dalam jiwa seseorang, sebagaimana firman Allah di daam al-Quran:

ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ فَاِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati.”
QS. Al-Hajj: 32

SUMBER: BUKU SERIAL DASAR-DASAR ISLAM (BAB AKHLAK / ADAB KEPADA GURU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *