Oleh: Nasaruddin, M.Pd. (Praktisi Pendidikan Islam)

Ada saat-saat ketika kebaikan tidak lahir dari tangan-tangan besar, tetapi justru dari genggaman kecil yang masih polos dan jujur. Dari uang jajan yang biasa mereka simpan untuk membeli makanan ringan, murid-murid SDIT Wahdah Islamiyah 01 memilih jalan yang lebih bermakna: berbagi untuk saudara-saudara mereka di Bumi Gaza.

Pada Jumat, 6 Februari 2026, suasana sekolah terasa berbeda. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak pula pamer angka. Satu per satu murid datang dengan donasi sederhana yang mereka kumpulkan dengan penuh kesadaran. Nominalnya mungkin kecil, tetapi nilai yang dibawa jauh lebih besar—nilai empati, kepedulian, dan keberpihakan pada kemanusiaan.

Mereka belajar bahwa sedekah bukan menunggu kelapangan, tetapi berangkat dari keikhlasan. Bahwa membantu tidak selalu harus menunggu dewasa, menunggu kaya, atau menunggu sempurna. Bahkan dari uang jajan pun, harapan bisa dikirimkan ke negeri yang sedang dilanda luka.

Di balik aksi kecil ini, ada pendidikan yang hidup. Nilai-nilai Islam tidak hanya disampaikan lewat kata, tetapi dipraktikkan lewat perbuatan. Anak-anak diajak merasakan bahwa mereka bukan sekadar penonton atas penderitaan saudara seiman, melainkan bagian dari solusi, sekecil apa pun langkah yang mampu mereka lakukan.

Keteladanan itu juga tumbuh dari rumah. Dua bersaudara hadir membawa amanah besar dari orang tua mereka: total donasi sebesar Rp10.000.000, yang diserahkan langsung oleh anak-anak tersebut. Bukan sekadar tentang jumlah, tetapi tentang kepercayaan—bahwa anak pun layak dilibatkan sebagai pelaku kebaikan, bukan hanya penerima nasihat.

Dari seluruh tangan kecil itu, terkumpul amanah sebesar Rp23.388.500. Dana ini disalurkan melalui Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ), agar setiap rupiah sampai kepada mereka yang membutuhkan secara amanah dan bertanggung jawab. Anak-anak pun belajar bahwa kebaikan perlu dijaga, dikelola, dan disampaikan dengan cara yang benar.

Kisah ini bukan untuk dipuji, apalagi dibanggakan. Kisah ini adalah undangan. Jika anak-anak dengan uang jajan mereka mampu peduli, maka kita—orang dewasa dengan lebih banyak kesempatan—tentu bisa berbuat lebih. Gaza tidak hanya membutuhkan simpati, tetapi aksi nyata, sekecil apa pun itu.

Mungkin hari ini kita belum mampu memberi banyak. Namun seperti yang ditunjukkan anak-anak itu, kebaikan tidak pernah menunggu besar. Ia hanya menunggu dimulai.

Dan siapa pun kita, hari ini, bisa ikut mengambil bagian .Ada saat-saat ketika kebaikan tidak lahir dari tangan-tangan besar, tetapi justru dari genggaman kecil yang masih polos dan jujur. Dari uang jajan yang biasa mereka simpan untuk membeli makanan ringan, murid-murid SDIT Wahdah Islamiyah 01 memilih jalan yang lebih bermakna: berbagi untuk saudara-saudara mereka di Bumi Gaza.

Dan siapa pun kita, hari ini, bisa ikut mengambil bagian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *