Home / artikel / Filosofi Pohon Pisang
man wearing white blindfold
Photo by Nafis Abman on Pexels.com

Filosofi Pohon Pisang

“Mas kalau kepenginn hidup tenang, hiduplah seperti pohon pisang”.

“Mas nek pengen uripmu trentrem, urip po koyok wet gedang”

Begitu kata seorang tua di sebuah kebun.

Lho, kenapa hidup tenang harus seperti pohon pisang?

Iya itu hanya nasehat. Bisa diterima bisa juga tidak.

Tapi bila mau direnungkan sejenak, mungkin ada benarnya nasehat itu. Hidup seperti pohon pisang.

Sebut saja, filosofi pohon pisang.

Pohon pisang itu, sama sekali tidak butuh tempat khusus untuk tumbuh.

Maka pohon pisang bisa tumbuh dimana pun. Di tempat gersang, di tempat dingin bahkan di tempat yang hambar sekalipun pohon pisang tetap bisa tumbuh.

Pohon pisang selalu survive di mana pun, berusaha tetap hidup dan tidak menyerah dalam segala keadaan.

Lalu manusia, kenapa harus cengeng di saat punya masalah?

Hebatnya lagi.

Pohon pisang itu tidak mau mati sebelum berbuah.

❤️❤️❤️

Analoginya :

Ia ingin kehadirannya di dunia ini bisa memberi manfaat sebelum ajal menjemputnya 🥺

Semasa hidupnya, pohon pisang harus terus berkarya, menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.

Tidak peduli dalam keadaan apa pun. Pohon pisang hanya berjuang untuk berbuah walau ia tidak akan menikmati hasil perjuangannya.

Maka begitu pun manusia seharusnya, jangan pernah meninggalkan suatu tempat tanpa meninggalkan karya yang baik.

Berbuat baik di mana pun. Karena sewaktu-waktu, tiap manusia bisa saja “terpaksa” meninggalkan suatu tempat secara tiba-tiba dan tidak bisa ditunda lagi.

Pohon pisang itu keren, Karena seluruh bagian tubuhnya punya manfaat.

Mulai dari akar, batang, daun, pelepah daun, apalagi buahnya. Bahkan ketika buah masih mentah pun bisa dibuat keripik. Kalo di Bugis dibuat Sanggara Peppe’.

Manusia pun begitu, ada dan hidup untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Selagi mampu, selagi bisa berbuatlah untuk menebar manfaat kebaikan kepada siapa pun.

Pohon pisang pun selalu mampu mempersiapkan generasi penerus. Sebelum ia ditebas mati.

Selalu ada tunas baru yang siap tumbuh di sampingnya. Tunas-tunas muda yang akan meneruskan tugasnya memberi manfaat kebaikan pada siapapun.

Maka hikmahnya, manusia yang katanya punya akal pikiran harusnya bisa berbuat dan bermanfaat yang tak lekang oleh waktu.

Hidup bukan hanya untuk cari makan. Tapi hidup pun perlu memberi manfaat.

Ada sifat baik yang bisa dipetik dari pohon pisang. Pohon pisang tidak pernah mewariskan dendam kepada anak-anaknya. Sekalipun ia harus ditebas saat diambil buahnya.

Pohon pisang tidak dendam saat disakiti.

Hidup itu bisa manis bisa pahit. Apapun keadaanya, jangan mewariskan dendam untuk siapapun dan kepada siapapun.

Karena pohon pisang, selalu mewariskan kebaikan karena buahnya manis. Bukan mewariskan keburukan.

Filosofi pohon pisang perlu kita ingat yaitu tetap berjuang memberi kebaikan atau manfaat dan jangan pernah berputus asa dalam keadaan apapun.

Berjuanglah secara mastatho’tum; ikhtiar penuh kesungguhan, sekuat tenaga yang kita miliki sampai Allah Ta’ala yang menghentikan kita. Bukan karena kita yang ingin berhenti.

Seperti pohon pisang.

Tidak ada orang yang tidak berguna di dunia ini, selama ia mau bermanfaat untuk sesamanya.

Karena tiap kehadiran kita harusnya memberi arti dan manfaat bagi orang lain.

Tengoklah pohon pisang, yang selalu rela memberi banyak manfaat. Bahkan sampai ia akan mati sekalipun.

Filosofi pohon pisang; “makin sedikit tersisa bagi dirimu, makin banyak sinar terpancar melaluimu”.

Masyaa Allah…in syaa satu banyak yang bisa kita jadikan insight yah.

Bagaimana kita bisa belajar dari filosofi pohon pisang.

Jika dikaitkan dengan peran kita sebagai pejuang dan pembelajar Siroh.

Kontribusi apa yang bisa kita berikan?

Peran kebaikan apa yang bisa kita ambil?

Semua kita adalah istimewa dan diberikan potensi dari Allah yang bisa dimaksimalkan untuk menjadi sebaik hamba ❤️

✅✅✅ Sumber WAG Belajar Siroh, Spirit Nabawiyah Community

About admin

Check Also

Guru Menerima Hadiah dari Murid?

Rasa terima kasih terkadang diinterpretasikan dengan memberikan sebuah hadiah dari wali murid kepada seorang guru. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *